h, Pak!" pekik tertahan dari s
aya. Tatapannya kosong, menembus langit-langit kamar yang tampak biasa saja, seolah tak ada
dalam pikirannya sendiri, meratapi kegagalannya. Ia merasa telah berusaha, tetapi kembali gagal memberi kepuasan pada i
g masih cantik dan bugar, menahan kekecewaan yang kian memuncak. Perlahan, dia membalikkan tubuhnya men
amu mau seperti ini
segera menoleh. Dia tahu ini akan data
ab, "Aku... Aku sudah beru
n di dadanya. Matanya berkilat denga
ku-aku tidak tahan lagi! Kita punya empat anak yang sudah dewasa dan berumah tangga,
laki itu merasakan pukulan lain p
ng tepat untuk menjelaskan perasaannya. Keberhasilannya sebagai petani sukses, penghasilannya yang m
ladang yang kamu punya kalau kita... seperti ini? Kamu sibuk di luar, sukses, dihormati
n ketidakberdayaan. "Aku minta maaf, Bu... Aku benar-benar
utuh suami yang masih bisa aku andalkan! Lelaki jantan walau sudah tua. Aku nggak bisa terus hidup dalam
ata-kata itu menggantung di antara mereka seperti dinding yang tak kasat mata-kekosongan yang begitu nyat
semakin tertutup, jarang berbicara dengan istrinya. Hari-harinya hanya diisi oleh pekerjaan di sawah dan ladang
muncul. Dengan hati-hati, dia mendekat, mengintip melalui celah pintu yang sedikit terbu
anatan dari istri dan anak buahnya sendiri menusuk lebih dalam dari sekad
anak buahnya keluar dari kamar dengan wajah ceria penuh kepuasan, dia hanya berkata, "Kita selesa
i surat itu tanpa perlawanan. Semua berakhir tanpa drama. Mereka berpi
dupnya tak seperti yang dia bayangkan, tapi kini dia
*
tan anak buahnya yang lebih muda, menikmati kemakmuran dari harta gono-g
ukup puas dengan kehidupan tenangnya. Ia telah menerima kesendirian, memil
yang dituduh impoten dan loyo mulai menyebar bak api di musim
i hadapannya, tetap terasa tajam dan menghujam hati
bukan hanya untuk hatinya yang terluka, tetapi juga untuk kehormatan yang direnggut. Bukan ingin bala
n menjadi pusat perhatian para wanita-sesuatu y
knya tampak ringkih, tetapi matanya menyiratkan kekuatan dan kebijaksanaan yang tidak biasa. Di sebuah gub
adi lelaki sejati. Bukan untuk membalas dendam, tapi aga
udah sering mendengar permintaan serupa. Dengan gerakan perlahan, dia mengambil sebu
Terong dengan suara berat dan berwibawa. "Tapi sepert
tenang. Dia tahu bahwa segala sesuatu m
laki tersebut, "akan memberimu kekuatan yang kamu cari. Kamu akan kembali perkas
duk, mendengarka
mua. Kamu juga harus menanam terong ungu di sekitar rumahmu-dan ingat, kamu tidak boleh m
a aneh dengan permintaan itu. Namu
i," lanjut Mbah Terong,
u yang akan tahu apa syarat itu, dan kamu harus mematuhinya. Jika kamu
api dia tahu bahwa tidak ada jalan lain. Dia ingin kehidupanny
wab Lelaki itu dengan
elaki itu. Malam itu, sang duda merasa seperti telah melangkah ke duni
menerima syarat tambahan melalui mimpinya. Dalam mimpi itu, sosok
uh dari yang ia bayangkan. Dia tersenyum puas dalam tidurnya,
*