un padi yang bergoyang. Namun, di dalam hatinya, ada ketegangan yang semakin menguat. Pak Wira berjalan di depannya dengan langk
dari pandangan orang. Bersih dan rapi seperti berada dalam kamar tidur, karena memang Pak Wira sejak dulu sering menginap di sana, jika sedang sun
atap Umi Latifah dengan lebih dalam, tangannya bersandar di tiang bambu saung.
udah terlalu jauh untuk mundur. Kini di ha
etap berdiri di depannya, mengamati dengan pandangan yang sulit ditebak. Suasana di saung itu semakin terasa menegangkan.
hirnya memb
a dengan nada lebih lembut namun tegas. "Saya bukan orang yang suka memaksa, tapi
tidak tenang, Pak Wira. Kejadian di gubuk itu... Saya takut kalau ada yang melihat atau
ngnya, seolah ingin memastikan apa yang Umi Latifah maksud. "Umi, kamu tidak perlu khaw
saya... kalau memang Bapak tahu sesuatu, saya mohon... jangan ceritakan kepada siapa pun. Apalagi ke anak-anak kita.
lalu tersenyum lagi, kali ini den
ruk," ucapnya, suaranya pelan namun sarat makna. "Tapi... bagaimana
detak. Perkataan Pak Wira terasa ambigu
meski dalam hatinya ia sud
asih punya kemampuan... untuk menjaga apa yang perlu dijaga," katanya sambil menyentuh bahu Umi Latifah pelan. "Tapi, mung
e
, tetapi tubuhnya kaku. Perkataan Pak Wi
inkan?" tanyanya de
, pembuktian dan kepercayaan. Kita bisa saling menjaga rahasia satu s
tak terduga. Apa yang sebenarnya diinginkan Pak
muk. Di satu sisi, ia ingin melarikan diri dari saung itu, namun di sisi
lan, mencoba mencari celah
ya akan memastikan rahasia ini terkunci rapat. Tapi, tentu saja, ada harga yang harus dibayar untuk sebuah kepercayaan." Ma
ya kaku, tetapi pikirannya
besar. Saya bersedia melakukan apa saja, asalkan
m kecil. Ia tahu bahwa Umi Latifah kini
but. "Hanya sedikit perhatian... Sedikit waktu, agar kita bisa saling memahami lebih bai
an yang dimaksud Pak Wira bukanlah sekadar perbincangan atau k
ar. "Tolong jangan meminta yang tidak mungkin dari saya. Saya tid
a. Tapi ingat, kita berdua tahu betapa rapuhnya posisi Umi saat ini. Saya bisa membantu Umi, atau seba
jauh. Dia tahu apa yang diminta oleh Pak Wira. Ini bukan tentang kepercayaan atau saling menjag
gangguk kecil, tanda bahwa i
saya waktu," ucapnya lirih, berharap itu cuku
tu tidak selalu berpihak kepada kita. Saya berharap Umi segera memutuskan sebe
tempat duduknya, tubuhnya terasa b
berpikir lebih lama, melainkan untuk menyiapkan dirinya meng
ah mencerminkan perasaan Umi Latifah yang
nya memandang ke arah sawah yang terbentang luas. Senyumnya merekah, puas dengan perk
semua mulut usil itu akan bungkam. Mereka yang menuduhku impoten, lel
setiap langkah yang dia tempuh bisa membuat para mulut nyinyir itu bungkam selama-lamanya. Mereka
*
berbincang santai dengan besannya. Selain sebagai besan, mereka sudah berteman lama, dan tak jarang Pak Wira main
ng relatif lebih berkecupupan, tentu saja Pak Wira tidak pernah ragu untuk membantunya, dia tahu
engan senyum ramahnya. Namun berbeda bagi Umi Latifah. Begitu ia melihat Pak Wira tib
dan salah tingkah. Tatapan Pak Wira yang sejenak tertuju padany
Wira terus menghantui pikirannya. Apakah Pak Wira akan mengun
dengan tenang bersama suaminya. Ia menyaksikan dari kejauhan sambil mencuri pandang, men
kin memuncak saat obrolan mereka semakin akrab. Seolah-olah mereka sedang bersantai da
i, ia tersenyum puas, mengetahui bahwa Umi Latifah kini berada dalam
menyenangkan. Ia tahu bahwa dengan diam saja, keta
hidup dalam ketidakpastian, semakin b
opik ringan. Tak ada tanda-tanda bahwa Pak Wira akan membocorkan rahasia
Wira pulang tanpa mengatakan apa-apa, kecemasannya ti
*