img DIGILIR BESAN DAN MENANTU - Rahasia Birahi Kampung  /  Bab 6 Awal Kecemasan | 54.55%
Unduh aplikasi
Riwayat Membaca

Bab 6 Awal Kecemasan

Jumlah Kata:1570    |    Dirilis Pada: 28/01/2025

un padi yang bergoyang. Namun, di dalam hatinya, ada ketegangan yang semakin menguat. Pak Wira berjalan di depannya dengan langk

dari pandangan orang. Bersih dan rapi seperti berada dalam kamar tidur, karena memang Pak Wira sejak dulu sering menginap di sana, jika sedang sun

atap Umi Latifah dengan lebih dalam, tangannya bersandar di tiang bambu saung.

udah terlalu jauh untuk mundur. Kini di ha

etap berdiri di depannya, mengamati dengan pandangan yang sulit ditebak. Suasana di saung itu semakin terasa menegangkan.

hirnya memb

a dengan nada lebih lembut namun tegas. "Saya bukan orang yang suka memaksa, tapi

tidak tenang, Pak Wira. Kejadian di gubuk itu... Saya takut kalau ada yang melihat atau

ngnya, seolah ingin memastikan apa yang Umi Latifah maksud. "Umi, kamu tidak perlu khaw

saya... kalau memang Bapak tahu sesuatu, saya mohon... jangan ceritakan kepada siapa pun. Apalagi ke anak-anak kita.

lalu tersenyum lagi, kali ini den

ruk," ucapnya, suaranya pelan namun sarat makna. "Tapi... bagaimana

detak. Perkataan Pak Wira terasa ambigu

meski dalam hatinya ia sud

asih punya kemampuan... untuk menjaga apa yang perlu dijaga," katanya sambil menyentuh bahu Umi Latifah pelan. "Tapi, mung

e

, tetapi tubuhnya kaku. Perkataan Pak Wi

inkan?" tanyanya de

, pembuktian dan kepercayaan. Kita bisa saling menjaga rahasia satu s

tak terduga. Apa yang sebenarnya diinginkan Pak

muk. Di satu sisi, ia ingin melarikan diri dari saung itu, namun di sisi

lan, mencoba mencari celah

ya akan memastikan rahasia ini terkunci rapat. Tapi, tentu saja, ada harga yang harus dibayar untuk sebuah kepercayaan." Ma

ya kaku, tetapi pikirannya

besar. Saya bersedia melakukan apa saja, asalkan

m kecil. Ia tahu bahwa Umi Latifah kini

but. "Hanya sedikit perhatian... Sedikit waktu, agar kita bisa saling memahami lebih bai

an yang dimaksud Pak Wira bukanlah sekadar perbincangan atau k

ar. "Tolong jangan meminta yang tidak mungkin dari saya. Saya tid

a. Tapi ingat, kita berdua tahu betapa rapuhnya posisi Umi saat ini. Saya bisa membantu Umi, atau seba

jauh. Dia tahu apa yang diminta oleh Pak Wira. Ini bukan tentang kepercayaan atau saling menjag

gangguk kecil, tanda bahwa i

saya waktu," ucapnya lirih, berharap itu cuku

tu tidak selalu berpihak kepada kita. Saya berharap Umi segera memutuskan sebe

tempat duduknya, tubuhnya terasa b

berpikir lebih lama, melainkan untuk menyiapkan dirinya meng

ah mencerminkan perasaan Umi Latifah yang

nya memandang ke arah sawah yang terbentang luas. Senyumnya merekah, puas dengan perk

semua mulut usil itu akan bungkam. Mereka yang menuduhku impoten, lel

setiap langkah yang dia tempuh bisa membuat para mulut nyinyir itu bungkam selama-lamanya. Mereka

*

berbincang santai dengan besannya. Selain sebagai besan, mereka sudah berteman lama, dan tak jarang Pak Wira main

ng relatif lebih berkecupupan, tentu saja Pak Wira tidak pernah ragu untuk membantunya, dia tahu

engan senyum ramahnya. Namun berbeda bagi Umi Latifah. Begitu ia melihat Pak Wira tib

dan salah tingkah. Tatapan Pak Wira yang sejenak tertuju padany

Wira terus menghantui pikirannya. Apakah Pak Wira akan mengun

dengan tenang bersama suaminya. Ia menyaksikan dari kejauhan sambil mencuri pandang, men

kin memuncak saat obrolan mereka semakin akrab. Seolah-olah mereka sedang bersantai da

i, ia tersenyum puas, mengetahui bahwa Umi Latifah kini berada dalam

menyenangkan. Ia tahu bahwa dengan diam saja, keta

hidup dalam ketidakpastian, semakin b

opik ringan. Tak ada tanda-tanda bahwa Pak Wira akan membocorkan rahasia

Wira pulang tanpa mengatakan apa-apa, kecemasannya ti

*

Unduh aplikasi
icon APP STORE
icon GOOGLE PLAY