Umi Latifah mencoba me
itu saya juga merasa seperti ada orang yang mengintip dari arah gubu
ngan tatapan yang sulit ditebak. Tangannya masih mem
da orang, tapi kalaupun ada, mungkin hanya petani atau warga yang melintas," jawab
i senyuman dan sorot matanya membuat Umi Latifah merasa terpojok. Ia berpikir keras, apakah
Umi Latifah mencob
di sawah lagi. Saya ingin lihat-lihat, siapa tahu nanti bisa belaj
tu saja, Umi. Sawah itu butuh perhatian dan perawatan. Kalau ada waktu,
ng menembus mata Umi Latifah. "Tapi kalau mau mampir, pastikan tidak me
e
indiran tajam yang penuh arti. Apakah Pak Wira sebenarnya sudah tahu semuanya? Atau
ambil mencoba menenangkan dirinya. Dia cepat-cepat bangk
sannya itu hilang di balik etalase. Umi Latifah sadar, dalam hati dia merasa tak nyaman. Pertemuan ini malah
pergi dari warung, kepalanya penuh dengan kecemasa
naknya yang sudah belasan tahun menikah dengan Ardi. Raut wajah A
ir ini," ujar Anisa dengan nada hati-hati. "Sering dengar kalau
paham. Jangan dengerin omongan orang yang nggak jelas. Mer
an penuh kekhawatiran. "Tapi, Umi, yang ngomong tuh
kenapa
ongin besan sendiri? Pak Wira itu kan ayahnya Mas Ardi. Harusnya Umi bisa lebih
Umi minta maaf ya. Umi khilaf. Mulai sekarang, Umi janji nggak akan kayak gitu
etahuan sama orang lain, terus disebar-sebarin? Apa yang bakal terjadi sama kit
penyesalan. Air mata mulai mengalir di pipinya, dan tanpa berkata sepatah
cu-cucu Umi. Anisa tahu Umi tujuannya membela Bu Lina, ibunya Mas Ar
asa menyesal, namun sepertinya penyesalan itu sudah ter
an melepaskan pelukan dan berkata lembut, "Aku pamit
. Anisa pun berpamitan pulang, yakin bahwa ibunya a
*
iran tentang Pak Wira yang mungkin mengetahui kejadian di gubuk sawah terus berputar di kepalanya. Dia tak bisa membiarkan rasa cemas
sung di sawahnya. Umi Latifah yakin bahwa berbicara secara lebih privat di tempat
anggannya, berjalan ke arah sawah Pak Wira. Langkahnya sedikit tergesa, dan
i pekerjaannya dengan tenang. Saat melihat Umi Latifah datang, Pak Wir
bisa saya bantu?" Suaranya tenang sepert
in bicara, Pak. Ada hal yang mengganjal hati saya," ucapnya sambil meli
Latifah. "Bicara saja, Bu. Di sini kita aman, tidak ada yang meng
gubuk sawah Pak Amat, saya merasa ada yang mengintip... dan saya curiga, ap
ti Umi Latifah. Ia mengangkat topi capingnya se
ang harus Umi Latifah tahu, saya tidak pernah mengintip siapa pun tanpa
dia mengakui bahwa dia melihat kejadian itu? Ataukah ini hanya permainan kata-kata? N
yang sudah tidak bisa apa-apa. Tapi saya ingin Umi Latif
eh rasa takut, tapi juga oleh kata-kata Pak Wira yang terang-terangan menyinggung martabatnya sebagai pria.
i, hingga Umi Latifah bisa merasak
ya siap mendengarkan. Tapi kalau soal itu... mungkin kit
uasi ini telah berubah menjadi lebih rumit dari yang ia bayangka
dapkan pada sebuah pilihan sulit-mengakhiri perasaan gelisahnya
an mengarahkan pandangannya kembali kepada Umi Latifa
ndah ke saung saya di ujung sana," ucapnya sambil menunjuk ke sebuah saung kecil
da yang bisa melihat, menden
n lain yang tak bisa ia jelaskan. Tapi di satu sisi, dia merasa tak punya pilihan lain selain mengikuti
ak terdengar, sambil mengikuti langkah Pak Wira
rus akur, karena anak-anak kita juga akur hidup berumah tangganya," tim
*