img DIGILIR BESAN DAN MENANTU - Rahasia Birahi Kampung  /  Bab 5 Awal Menyesal | 45.45%
Unduh aplikasi
Riwayat Membaca

Bab 5 Awal Menyesal

Jumlah Kata:1438    |    Dirilis Pada: 28/01/2025

Umi Latifah mencoba me

itu saya juga merasa seperti ada orang yang mengintip dari arah gubu

ngan tatapan yang sulit ditebak. Tangannya masih mem

da orang, tapi kalaupun ada, mungkin hanya petani atau warga yang melintas," jawab

i senyuman dan sorot matanya membuat Umi Latifah merasa terpojok. Ia berpikir keras, apakah

Umi Latifah mencob

di sawah lagi. Saya ingin lihat-lihat, siapa tahu nanti bisa belaj

tu saja, Umi. Sawah itu butuh perhatian dan perawatan. Kalau ada waktu,

ng menembus mata Umi Latifah. "Tapi kalau mau mampir, pastikan tidak me

e

indiran tajam yang penuh arti. Apakah Pak Wira sebenarnya sudah tahu semuanya? Atau

ambil mencoba menenangkan dirinya. Dia cepat-cepat bangk

sannya itu hilang di balik etalase. Umi Latifah sadar, dalam hati dia merasa tak nyaman. Pertemuan ini malah

pergi dari warung, kepalanya penuh dengan kecemasa

naknya yang sudah belasan tahun menikah dengan Ardi. Raut wajah A

ir ini," ujar Anisa dengan nada hati-hati. "Sering dengar kalau

paham. Jangan dengerin omongan orang yang nggak jelas. Mer

an penuh kekhawatiran. "Tapi, Umi, yang ngomong tuh

kenapa

ongin besan sendiri? Pak Wira itu kan ayahnya Mas Ardi. Harusnya Umi bisa lebih

Umi minta maaf ya. Umi khilaf. Mulai sekarang, Umi janji nggak akan kayak gitu

etahuan sama orang lain, terus disebar-sebarin? Apa yang bakal terjadi sama kit

penyesalan. Air mata mulai mengalir di pipinya, dan tanpa berkata sepatah

cu-cucu Umi. Anisa tahu Umi tujuannya membela Bu Lina, ibunya Mas Ar

asa menyesal, namun sepertinya penyesalan itu sudah ter

an melepaskan pelukan dan berkata lembut, "Aku pamit

. Anisa pun berpamitan pulang, yakin bahwa ibunya a

*

iran tentang Pak Wira yang mungkin mengetahui kejadian di gubuk sawah terus berputar di kepalanya. Dia tak bisa membiarkan rasa cemas

sung di sawahnya. Umi Latifah yakin bahwa berbicara secara lebih privat di tempat

anggannya, berjalan ke arah sawah Pak Wira. Langkahnya sedikit tergesa, dan

i pekerjaannya dengan tenang. Saat melihat Umi Latifah datang, Pak Wir

bisa saya bantu?" Suaranya tenang sepert

in bicara, Pak. Ada hal yang mengganjal hati saya," ucapnya sambil meli

Latifah. "Bicara saja, Bu. Di sini kita aman, tidak ada yang meng

gubuk sawah Pak Amat, saya merasa ada yang mengintip... dan saya curiga, ap

ti Umi Latifah. Ia mengangkat topi capingnya se

ang harus Umi Latifah tahu, saya tidak pernah mengintip siapa pun tanpa

dia mengakui bahwa dia melihat kejadian itu? Ataukah ini hanya permainan kata-kata? N

yang sudah tidak bisa apa-apa. Tapi saya ingin Umi Latif

eh rasa takut, tapi juga oleh kata-kata Pak Wira yang terang-terangan menyinggung martabatnya sebagai pria.

i, hingga Umi Latifah bisa merasak

ya siap mendengarkan. Tapi kalau soal itu... mungkin kit

uasi ini telah berubah menjadi lebih rumit dari yang ia bayangka

dapkan pada sebuah pilihan sulit-mengakhiri perasaan gelisahnya

an mengarahkan pandangannya kembali kepada Umi Latifa

ndah ke saung saya di ujung sana," ucapnya sambil menunjuk ke sebuah saung kecil

da yang bisa melihat, menden

n lain yang tak bisa ia jelaskan. Tapi di satu sisi, dia merasa tak punya pilihan lain selain mengikuti

ak terdengar, sambil mengikuti langkah Pak Wira

rus akur, karena anak-anak kita juga akur hidup berumah tangganya," tim

*

Unduh aplikasi
icon APP STORE
icon GOOGLE PLAY