Unduh Aplikasi panas
Beranda / Romantis / DIGILIR BESAN DAN MENANTU - Rahasia Birahi Kampung
DIGILIR BESAN DAN MENANTU - Rahasia Birahi Kampung

DIGILIR BESAN DAN MENANTU - Rahasia Birahi Kampung

5.0
11 Bab
13.7K Penayangan
Baca Sekarang

Tentang

Konten

Khusus Dewasa

Bab 1 Awal Kisah

"Aku bener-bener sudah menyerah, Pak!" pekik tertahan dari seorang wanita berusia 45 tahun.

Lelaki berusia 55 tahun berbaring kaku di atas tempat tidur, tubuhnya terasa lemas tak berdaya. Tatapannya kosong, menembus langit-langit kamar yang tampak biasa saja, seolah tak ada lagi yang bisa dia perbuat. Wajahnya menyiratkan penyesalan dan keputusasaan yang mendalam.

Di sampingnya, seorang wanita berbaring membelakanginya. Keheningan di antara mereka terasa menekan. Lelaki itu terjebak dalam pikirannya sendiri, meratapi kegagalannya. Ia merasa telah berusaha, tetapi kembali gagal memberi kepuasan pada istrinya. Perasaan tak mampu, tak berdaya, dan tidak cukup menghantui setiap sudut hatinya, mengikis kepercayaan dirinya.

Keheningan yang semula mendominasi kamar tiba-tiba terpecah oleh helaan napas berat dari sang istri yang masih cantik dan bugar, menahan kekecewaan yang kian memuncak. Perlahan, dia membalikkan tubuhnya menghadap suaminya yang masih terpaku menatap langit-langit, lalu berkata dengan nada dingin, namun tajam.

"Berapa lama lagi kamu mau seperti ini, Pak? Aku capek..."

Lelaki itu tersentak, meski tetap tak segera menoleh. Dia tahu ini akan datang, tapi tak pernah siap menghadapinya.

Suaranya serak saat menjawab, "Aku... Aku sudah berusaha, Bu. Kamu tahu itu..."

Sang istri duduk, menyilangkan tangan di dadanya. Matanya berkilat dengan kemarahan yang selama ini terpendam.

"Berusaha? Itu yang kamu sebut berusaha? Sudah berbulan-bulan kita seperti ini, dan aku-aku tidak tahan lagi! Kita punya empat anak yang sudah dewasa dan berumah tangga, Pak. Di balik pintu ini, aku merasa... kosong. Merasa sendiri. Kamu tahu itu? Kosong!"

Mendengar kata-kata tajam itu, lelaki itu merasakan pukulan lain pada harga dirinya yang sudah rapuh.

"Aku tahu... Aku tahu, Bu... Aku cuma... aku cuma..." katanya terbata-bata, merasa tak punya kata yang tepat untuk menjelaskan perasaannya. Keberhasilannya sebagai petani sukses, penghasilannya yang melimpah, semua terasa tak berarti lagi ketika dia gagal dalam urusan rumah tangga yang paling pribadi.

"Jangan beri aku alasan lagi!" potong istrinya dengan cepat. "Apa gunanya semua uang dan ladang yang kamu punya kalau kita... seperti ini? Kamu sibuk di luar, sukses, dihormati, tapi di sini... kamu bukan siapa-siapa. Aku merasa seperti perempuan tak punya suami!"

Lelaki itu menoleh perlahan, tatapannya penuh rasa sakit dan ketidakberdayaan. "Aku minta maaf, Bu... Aku benar-benar sudah berusaha. Ini bukan soal keinginan, ini soal... aku..."

"Aku tidak butuh kata-kata maaf!" balas istrinya dengan suara yang mulai bergetar. "Aku butuh kamu. Aku butuh suami yang masih bisa aku andalkan! Lelaki jantan walau sudah tua. Aku nggak bisa terus hidup dalam kekosongan ini. Aku masih perempuan normal, Pak! Aku juga butuh... butuh nafkah lahir batin yang seimbang!"

Tangisan tipis terdengar dari tenggorokan sang istri yang tercekat, sementara suaminya hanya bisa diam. Kata-kata itu menggantung di antara mereka seperti dinding yang tak kasat mata-kekosongan yang begitu nyata, namun tak pernah terucap. Pertengkaran kecil itu terasa lebih menyakitkan daripada ledakan emosi besar.

Setelah pertengkaran itu, lelaki itu terpuruk dalam kebisuan. Kegagalan dan rasa bersalah terus membebani. Dia semakin tertutup, jarang berbicara dengan istrinya. Hari-harinya hanya diisi oleh pekerjaan di sawah dan ladang, diiringi keheningan yang menghancurkan hatinya. Bahkan enggan bertemu atau bahkan bermain dengan cucu-cucunya.

Suatu sore, saat pulang lebih awal, suara dari kamar mengusik langkahnya. Firasat buruk muncul. Dengan hati-hati, dia mendekat, mengintip melalui celah pintu yang sedikit terbuka. Pandangannya tertuju pada istrinya-dan anak buahnya, terbaring bersama di ranjangnya.

Dunia lelaki itu runtuh seketika. Napas tersengal, tubuhnya kaku. Pengkhianatan dari istri dan anak buahnya sendiri menusuk lebih dalam dari sekadar kecurangan. Tanpa kata, dia mundur, menjauhi kamar dengan hati hancur.

Saat itu juga, dia menulis surat cerai. Tak ada keributan, tak ada luapan emosi. Saat istrinya dan anak buahnya keluar dari kamar dengan wajah ceria penuh kepuasan, dia hanya berkata, "Kita selesaikan di sini saja. Aku sudah nggak punya apa-apa lagi untukmu. Dan kalian harus menikah nantinya."

Istri dan anak buahnya tertegun. Namun akhirnya istrinya menandatangani surat itu tanpa perlawanan. Semua berakhir tanpa drama. Mereka berpisah dengan perasaan campur aduk-kehilangan, kesedihan, tapi juga lega.

Lelaki itu menatap langit, menarik napas panjang. Hidupnya tak seperti yang dia bayangkan, tapi kini dia melangkah lebih ringan, tanpa beban dan kebohongan.

^*^

Waktu terus berjalan, dan mantan istrinya kini hidup bahagia bersama mantan anak buahnya yang lebih muda, menikmati kemakmuran dari harta gono-gini hasil perpisahan mereka, serta sibuk mengemong anak dan cucu-cucunya.

Sementara itu, sang lelaki, yang kini dikenal sebagai duda abadi, merasa cukup puas dengan kehidupan tenangnya. Ia telah menerima kesendirian, memilih fokus pada dirinya sendiri dan pertanian yang semakin berkembang pesat.

Namun, ketenangan itu tak bertahan lama. Gosip tentang dirinya yang dituduh impoten dan loyo mulai menyebar bak api di musim kemarau, menjadi bahan obrolan hangat di sudut-sudut kampung.

Cemoohan itu, meski tak pernah diucapkan langsung di hadapannya, tetap terasa tajam dan menghujam hatinya, merusak ketenangan yang susah payah ia bangun.

Karena tak tahan dengan hinaan dan cemoohan, sang duda mendatangi seseorang. Dia mencari penyembuhan bukan hanya untuk hatinya yang terluka, tetapi juga untuk kehormatan yang direnggut. Bukan ingin balas dendam, melainkan kebanggaan diri yang dulu pernah dimilikinya, namun kini terkubur dalam rasa malu.

Dia ingin merasa kembali perkasa, dihormati, dan menjadi pusat perhatian para wanita-sesuatu yang tidak pernah ia alami dengan penuh kepastian.

Lelaki itu akhirnya tiba di hadapan Mbak Terong, yang konon katanya berusia lebih dari seratus tahun. Sosoknya tampak ringkih, tetapi matanya menyiratkan kekuatan dan kebijaksanaan yang tidak biasa. Di sebuah gubuk tua yang terletak di puncak bukit, di antara aroma dupa yang tebal, lelaki itu mengutarakan keinginannya.

"Keinginan saya sederhana, Mbah. Saya ingin kembali menjadi lelaki sejati. Bukan untuk membalas dendam, tapi agar bisa kembali berdiri tegak sebagai pria yang dihormati."

Mbah Terong memandangi lelaki itu. Ada senyuman tipis di wajahnya, seolah-olah dia sudah sering mendengar permintaan serupa. Dengan gerakan perlahan, dia mengambil sebuah cincin hitam yang tampak berkilauan di bawah cahaya temaram lentera di ruangan itu.

"Keinginanmu bukan sesuatu yang mustahil," kata Mbah Terong dengan suara berat dan berwibawa. "Tapi seperti semua kekuatan besar, ada harga yang harus dibayar."

Lelaki itu menelan ludah, tetapi tetap tenang. Dia tahu bahwa segala sesuatu memiliki harga, dan dia siap membayarnya.

"Cincin ini," lanjut Mbah Terong sambil mengulurkan cincin tersebut ke tangan lelaki tersebut, "akan memberimu kekuatan yang kamu cari. Kamu akan kembali perkasa, bahkan lebih dari sebelumnya. Tapi ada syarat-syarat yang harus kamu penuhi."

Lelaki itu menunduk, mendengarkan dengan saksama.

"Pertama, kamu harus membayar harga yang sangat mahal untuk cincin ini. Tapi itu belum semua. Kamu juga harus menanam terong ungu di sekitar rumahmu-dan ingat, kamu tidak boleh menjual satu pun. Kamu harus memberikannya secara cuma-cuma kepada ibu-ibu di sekitar desa."

Pak Wira mengerutkan kening, merasa aneh dengan permintaan itu. Namun dia tetap diam dan mendengarkan.

"Dan ada satu syarat lagi," lanjut Mbah Terong, matanya menyala sejenak.

"Syarat terakhir ini akan datang melalui mimpimu nanti malam. Hanya kamu yang akan tahu apa syarat itu, dan kamu harus mematuhinya. Jika kamu melanggar, kekuatan yang ada dalam cincin ini akan berbalik melawanmu."

Lelaki itu terdiam sejenak. Ada kegelisahan dalam hatinya, tetapi dia tahu bahwa tidak ada jalan lain. Dia ingin kehidupannya kembali, ingin membungkam mulut-mulut yang mencemooh dirinya.

"Saya siap, Mbah!" jawab Lelaki itu dengan keyakinan yang bulat.

Mbah Terong tersenyum tipis, lalu menyerahkan cincin tersebut kepada lelaki itu. Malam itu, sang duda merasa seperti telah melangkah ke dunia baru, dunia yang penuh dengan peluang dan kekuatan yang tak terbatas.

Dan seperti yang dijanjikan Mbah Terong, malam harinya lelaki itu menerima syarat tambahan melalui mimpinya. Dalam mimpi itu, sosok yang misterius memberi tahu syarat terakhir yang harus ia patuhi.

Anehnya, syarat itu ternyata begitu mudah untuk dilakukan, jauh dari yang ia bayangkan. Dia tersenyum puas dalam tidurnya, merasa yakin bahwa kehidupannya akan segera berubah drastis.

^*^

Lanjutkan Membaca
img Lihat Lebih Banyak Komentar di Aplikasi
Rilis Terbaru: Bab 11 Awal Ketagihan   03-28 18:13
img
1 Bab 1 Awal Kisah
28/01/2025
2 Bab 2 Awal Panen
28/01/2025
4 Bab 4 Awal Resah
28/01/2025
8 Bab 8 Awal Obsesi
28/01/2025
9 Bab 9 Awal Terbuka
28/01/2025
Unduh aplikasi
icon APP STORE
icon GOOGLE PLAY