i seorang ustad terkemuka di kampung. Penampilannya sering kali memancarkan kesan istri salehah: ba
tersenyum tenang, menunduk dengan sikap penuh keanggunan. Banyak yang menganggapn
tahu. Meski sering terlihat mendampingi suaminya di pengajian, kenyataannya, ilmu agama Umi L
sempurna ketika ada orang yang melihat. Ketika jauh dari pandangan umum,
sip yang lebih tajam dari lidah tukang nyinyir kelas nasional. Ibu-ibu di sekitar sering membicarakan betapa Umi Latifah bisa me
i Latifah sudah angkat bicara. Di balik kerudung lebarnya dan senyum lembu
i-hentinya meremas kerudungnya yang berwarna hijau tua, sambil sesekali ia menatap kosong ke arah pint
ia berusaha menepisnya, menganggapnya hanya imajinasinya saja yang terbawa suasana. Tapi sekara
t?" pertanyaan itu berulan
itu hanya perasaannya saja. Namun, rasa khawatir bahwa a
ar, tidak hanya harga dirinya dan keluarganya yang hancur, tetapi juga kepercayaan jamaah terhadap dirinya dan suamin
mungkin mengintip dari luar gubuk itu, pasti bisa saja menyebarkan gosip
tahan dengan perasaan was-was yang terus menghantuinya, sehingga mem
rannya. Umi Latifah tak ingin terus-menerus dibayangi oleh rasa
intu dengan sopan. Tak lama kemudian, Pak Amat munc
yang bisa saya bantu?" tanya
senyum tipis. "Wa'alaikumussalam, Pak Amat. Saya ingin bertanya sedikit
pinggir itu? Kebetulan sudah jarang ke sana lagi, Umi. Malah, baru beberapa
detak jantungnya semakin cepat. "Jadi Pak Amat s
istri saya meninggal, makanya mau dijual ke Pak Wira. Mungkin yang sering ke sana sekarang Pa
besar kemungkinan orang yang ada di dekat gubuk saat itu adalah Pak Wira, besannya sendiri yang sering ia jelek-jele
ng ada di sana dan menyaksikan segalanya, bagaimana ia bisa menghadapi kenyataan itu? Umi Latiya mendengar ada yang bilang sawah itu mau dijual," kata Umi L
Pak Wira akan bertemu lagi untuk membicarakan lebih lanjut. Kala
ifah sambil tersenyum tipis. Setelah be
dari kemungkinan bahwa Pak Wira adalah orang yang mungkin telah mengintip kejadian
*
pura-pura pergi ke warung Bu Ida. Ia sering berkunjung ke sana
gubuk sawah itu. Warung Bu Ida memang menjadi tempat favorit para warga untuk b
ng sudah ia duga, Pak Wira duduk sendirian di pojok warung, menikmati secangkir kopi
ih cepat, tetapi ia berusaha tetap tenang.
ifah dengan senyum, mendekati etalase ke
a saya bantu?" tanya Bu Ida ramah, sa
Bu," jawab Umi Latifah ringan, berusaha me
h melirik ke arah Pak Wira. Ia tampak tidak sadar kehadi
Umi Latifah pun mendekat ke ar
Lagi santai, ya?" sapa Umi Latifah dengan
Umi. Iya, lagi ngopi sambil istirahat sejenak. Baru dari sawah tadi," j
sikap. "Wah, rajin sekali, Pak besan ini. Sawahnya luas sih
kalau lancar. Sawah Pak Amat itu strat
ih berputar pada kejadian di gubuk. Ia ingin
empat ke sawah Pak Amat, ya? Saya kira sawah itu ja
lisnya, sejenak terdi
inya sebelum deal sama Pak Amat. Termasuk memeriksa gubugnya juga, sepertinya meman
in tidak nyaman, tetapi
u saya juga lewat dekat situ, dan rasanya seperti ada yang mengawasi
kit tajam. "Mungkin memang ada, atau mungkin perasaan saja. Sawah kan
Pak Wira masih terdengar tenang. Ia bingung, apakah Pak Wira be
, tapi rasa penasaran dan ketakutan kalau Pak Wira benar-benar melihat kejadian di
*