ulan ke
-buah terong yang berwarna ungu tua, besar, panjang dan mengkilap, menggantung lebat di tiap tangkai. Dia
licik, muncul dari jalan setapak di samping kebun. Pak Sarnu, dia adalah seorang pemborong sayuran yan
i pasar. Boleh saya borong semuanya? Saya bayar mahal deh, lebih dari harga pasar. Bisa untung besar kalau s
ni nggak dijual," jawabnya tenang, meskipun dalam hati dia
ah, Pak Wira. Jangan jual mahal. Saya bayar kontan sekarang jug
aaf, Pak. Ini bukan soal uang
kit memaksa. "Lho, kenapa nggak bisa? Apa sampean nggak butuh
an soal uang atau nggak butuh uang. Terong-terong ini nggak unt
. Dia tahu Pak Wira orang yang sangat berkecukupan, apalagi dia
ni kalau tidak untuk dijual, me
is pada ibu-ibu yang memang menginginkanya. Silakan Pak Sarnu beli
a nggak ngerti, Pak Wira. Tapi kalau sampean berubah pikiran,
meski masih sesekali menoleh ke arah kebun terong,
ia bisa tetap mematuhi pesan gurunya. Dia tahu, jika sekali saj
berpakaian yang terlalu mencolok untuk seorang ibu kampung. Wajahnya dipenuhi senyum genit, samb
kan? Aduh, terong-terongnya besar-besar, menggoda banget nih," katanya de
illah, Bu. Tapi, seperti saya bilang ke suam
.. Masa sih nggak bisa nego sama saya? Saya kasih harga berapa aja yang Bapak mau. Lagipula, sayang kan ka
hkan. "Maaf, Bu. Saya tidak bisa menjual terong-terong ini. Tapi kalau Ib
esal. "Gratis? Maksud Bapak, ibu-ibu boleh
nya cuma satu, terong ini hanya boleh diambil, bu
, nih? Kalau saya ajak semua ibu-
. "Iya, Bu. Silakan kalau
mengeluarkan ponsel di sakunya, menele
ong, bebas ambil sepuasnya!" teriaknya dengan suara
ahkan beberapa di antaranya datang sambil berlari membawa keranjang, tas belanja, bahkan ada yang mene
teriak seorang ibu sambil mengayunkan t
ini!" sahut yang lain sambil menyenggol
hat terong terbesar, ada juga yang sibuk menghitung terong d
isa ludes kebun terongnya!" teriak seorang ibu gemuk sambil ter
gan berkacak pinggang, tersenyum puas melih
emak kampung sampai rebutan
ohan di depannya. "Nggak apa-apa, Bu.
Suasana benar-benar kacau namun penuh tawa. Terong-terong besar yang awalnya memenuhi keb
anen terong, terdengar bisik-bisik dari be
sambil memegang terong besar berwarna ungu yang baru dipeti
tu," sahut ibu lainnya sambil cekikian. "Terong di
mulut mereka agar tak terlalu terlihat. Gelak tawa mereka terdengar
karena malu dan kesal, tapi dia berusaha tetap tenang sambil tersenyum kecil. Mereka
i di kampung. Pak Wira hanya tersenyum kecil melihat kehebohan tersebut. Baginya, asal syarat sudah terp
ibuk menjalankan rencana licik mereka. Dengan senyum lebar di wajah, mereka berdiri di de
kalian punya, saya bayar di sini ya!" seru Bu Yayah dengan ceria, tangannya gesit
ang mereka jalankan. "Luar biasa, kan, Bu? Pak Wira k
a pun untung besar! Siapa yang nyangka, ya, kita bisa dapat banyak tero
tahu apa yang akan dilakukan Pak Sarnu dan Bu Yayah, pasangan suami istri licik dan serakah. Keli
at, waktu yang
*
pojokan belakang rumah, di antara bayang-bayang pohon pisang, Pa
ua? Wah, lumayan dong ya untung besar buat kamu
menangan. "Pastinya dong! Siapa dulu? Sarnu gitu lo
n. "Lah, kalau begitu, mana dong, komisinya buat aku? Jangan pur
fah dengan sikutnya. "Santai aja, Umi. Nggak bakal lupa kok. Besok kita ketemu di te
Malam itu, rencana mereka sudah matang, sementara su
*