berik
ah ini," ucap Pak Amat dengan nada berat, matan
sementara hasil panen nggak seberapa. Saya pikir, daripada sawah terbengkal
ami Pak Amat. Sejak istrinya meninggal, Pak Amat memang tampak semakin kesulitan mengelola sawahnya seorang diri.
u mau gadaikan, saya setuju. Tapi, kalau kamu rela untuk melepas sawah ini, saya juga
wah, setidaknya dia bisa melunasi utang-utang dan menyekolahkan anak-anaknya dengan lebih t
eli sawah saya?" tanya Pak Amat
i. Kita urus segera biar nggak berlarut-larut. Kamu juga
iklah, Pak. Saya terima tawarannya. Saya yakin sawah ini ada di tangan yan
g subur memang sudah lama ia incar, dan sekarang ia berhasil mendapatkannya deng
asih, Pak. Setidaknya, saya nggak p
k Wira merasa beruntung karena berhasil mendapatkan sawah yang sudah lama ia in
*
harin
langkah santai. Meskipun seharian bekerja keras di sawahnya, langkah
elum pulang. Matanya menatap lurus ke depan, pikirannya melayang
ra ia beli. Gubuk itu tampak usang, dikelilingi oleh ilalang tinggi yang bergoyang diterpa angin. Namun, ada se
gubuk kosong itu?"
angin yang menderu di antara ilalang-ilalang tinggi tidak bisa menutupi bisikan-bisikan halus yang mulai terdengar.
er dari gubuk. Suara itu tidak asing baginya. Ia kenal betul bi
ati-hati, berjongkok, memastikan dirinya tidak terlihat dari dalam. Detik-detik itu terasa seperti waktu berjala
ng masuk dari sela-sela atap, Pak Wira melihat dua sosok ya
r tak percaya melihat pemandangan di depannya. Bisikan dan tawa genit yang tadi ia
yang sedang t
beralaskan tikar kusam, dalam keadaan telanjang bulat. Rudalnya yang hitam, berukuran
ngenakan kembali celana dalamnya. Lalu menurunkan gamis pan
masih tergeletak lemah, memejamkan matanya. Tubuhnya, tampak kel
an?" tanya Pak Sarnu dengan suara par
dengarannya sambil menahan napasnya, tak ingin ke
Sarnu jauh lebih besar dan panjang, tapi... kalau kekuatannya sih sam
50 tahun itu pun menarik tubuhnya bangkit
panjang itu emang beda rasanya, walau kekuatannya sama aja,
di kampung kita yang barangnya melebihi punya saya
hihihi." Umi Latifah kembali cekikikan sambil mengenca
, kecuali milik Pak Wira, itu pun gak bisa dibandingin karena kan punya dia ud
nya. Pak Wira itu gak normal, makanya dia gak berani ka
e
bawa. Wajahnya terkesiap, merah padam, darah berdesir menahan amarah. Harga dirinya sebagai l
ra ukuran jumbo tapi loyo?"
i sekarang Pak Wira gak kawin lagi setelah bercerai dengan Bu Lina. Jadi gak salah kalau Bu
un, selama beberapa menit sebelum akhirnya memutuskan untuk mundur perl
ang ia injak. Di sepanjang perjalanan pulang, pikirannya kacau. Hinaan Umi
pada peristiwa mengesalk
mericik air dan dentingan peralatan cuci berbaur dengan tawa dan obrolan mereka yang bersemangat. Di antara m
a dari air. "Wanita mana yang tahan hidup sama lelaki loyo begitu. Gak ada gunanya meski rumahnya be
t tertawa pelan, merasa o
ya. Dulu juga akrab banget dengan Bu Lina,
ambut Bu Siti, sala
ya dia cari lelaki muda yang bisa memuaskan dia, kan? Normal aja itu, perempuan juga punya kebu
asalah, kenapa gak kawin lagi? Udah jelas kan, berarti dia takut. Gak ada yang mau nikah sa
as dengan pembicaraan mereka, seolah sedang menggulingkan satu-s
ri sana, Pak Wira, yang kebetulan melewati area itu untuk m
Mereka mentertawakan kehormatannya, mempermalukan dirinya dengan tuduhan yang tak beralas
a tetap tenang. Wajahnya tak menunjukkan ekspresi
ungkam mulut-mulut usil ini. Dia akan kembali dengan lebih perkasa, lebih
rus dilakukan terhadap besannya itu. Umi
a adalah besannya. Ardi, anak pertama Pak Wira, menikah den
narnya Umi
*