img DIGILIR BESAN DAN MENANTU - Rahasia Birahi Kampung  /  Bab 3 Awal Ketahuan | 27.27%
Unduh aplikasi
Riwayat Membaca

Bab 3 Awal Ketahuan

Jumlah Kata:1571    |    Dirilis Pada: 28/01/2025

berik

ah ini," ucap Pak Amat dengan nada berat, matan

sementara hasil panen nggak seberapa. Saya pikir, daripada sawah terbengkal

ami Pak Amat. Sejak istrinya meninggal, Pak Amat memang tampak semakin kesulitan mengelola sawahnya seorang diri.

u mau gadaikan, saya setuju. Tapi, kalau kamu rela untuk melepas sawah ini, saya juga

wah, setidaknya dia bisa melunasi utang-utang dan menyekolahkan anak-anaknya dengan lebih t

eli sawah saya?" tanya Pak Amat

i. Kita urus segera biar nggak berlarut-larut. Kamu juga

iklah, Pak. Saya terima tawarannya. Saya yakin sawah ini ada di tangan yan

g subur memang sudah lama ia incar, dan sekarang ia berhasil mendapatkannya deng

asih, Pak. Setidaknya, saya nggak p

k Wira merasa beruntung karena berhasil mendapatkan sawah yang sudah lama ia in

*

harin

langkah santai. Meskipun seharian bekerja keras di sawahnya, langkah

elum pulang. Matanya menatap lurus ke depan, pikirannya melayang

ra ia beli. Gubuk itu tampak usang, dikelilingi oleh ilalang tinggi yang bergoyang diterpa angin. Namun, ada se

gubuk kosong itu?"

angin yang menderu di antara ilalang-ilalang tinggi tidak bisa menutupi bisikan-bisikan halus yang mulai terdengar.

er dari gubuk. Suara itu tidak asing baginya. Ia kenal betul bi

ati-hati, berjongkok, memastikan dirinya tidak terlihat dari dalam. Detik-detik itu terasa seperti waktu berjala

ng masuk dari sela-sela atap, Pak Wira melihat dua sosok ya

r tak percaya melihat pemandangan di depannya. Bisikan dan tawa genit yang tadi ia

yang sedang t

beralaskan tikar kusam, dalam keadaan telanjang bulat. Rudalnya yang hitam, berukuran

ngenakan kembali celana dalamnya. Lalu menurunkan gamis pan

masih tergeletak lemah, memejamkan matanya. Tubuhnya, tampak kel

an?" tanya Pak Sarnu dengan suara par

dengarannya sambil menahan napasnya, tak ingin ke

Sarnu jauh lebih besar dan panjang, tapi... kalau kekuatannya sih sam

50 tahun itu pun menarik tubuhnya bangkit

panjang itu emang beda rasanya, walau kekuatannya sama aja,

di kampung kita yang barangnya melebihi punya saya

hihihi." Umi Latifah kembali cekikikan sambil mengenca

, kecuali milik Pak Wira, itu pun gak bisa dibandingin karena kan punya dia ud

nya. Pak Wira itu gak normal, makanya dia gak berani ka

e

bawa. Wajahnya terkesiap, merah padam, darah berdesir menahan amarah. Harga dirinya sebagai l

ra ukuran jumbo tapi loyo?"

i sekarang Pak Wira gak kawin lagi setelah bercerai dengan Bu Lina. Jadi gak salah kalau Bu

un, selama beberapa menit sebelum akhirnya memutuskan untuk mundur perl

ang ia injak. Di sepanjang perjalanan pulang, pikirannya kacau. Hinaan Umi

pada peristiwa mengesalk

mericik air dan dentingan peralatan cuci berbaur dengan tawa dan obrolan mereka yang bersemangat. Di antara m

a dari air. "Wanita mana yang tahan hidup sama lelaki loyo begitu. Gak ada gunanya meski rumahnya be

t tertawa pelan, merasa o

ya. Dulu juga akrab banget dengan Bu Lina,

ambut Bu Siti, sala

ya dia cari lelaki muda yang bisa memuaskan dia, kan? Normal aja itu, perempuan juga punya kebu

asalah, kenapa gak kawin lagi? Udah jelas kan, berarti dia takut. Gak ada yang mau nikah sa

as dengan pembicaraan mereka, seolah sedang menggulingkan satu-s

ri sana, Pak Wira, yang kebetulan melewati area itu untuk m

Mereka mentertawakan kehormatannya, mempermalukan dirinya dengan tuduhan yang tak beralas

a tetap tenang. Wajahnya tak menunjukkan ekspresi

ungkam mulut-mulut usil ini. Dia akan kembali dengan lebih perkasa, lebih

rus dilakukan terhadap besannya itu. Umi

a adalah besannya. Ardi, anak pertama Pak Wira, menikah den

narnya Umi

*

Unduh aplikasi
icon APP STORE
icon GOOGLE PLAY