mencangkul di sawah, langkahnya tetap ringan, seakan tenaga dalam dirinya belum habis terpe
rdiri di tengah sawah itu, tampak usang dikelilingi ilalang tinggi. Sawah itu sudah lama tak di
, pandangannya menangkap gerakan sam
gkrong di gubuk sore-
n langkah perlahan, lelaki tua mendekati gubuk, setelah menunda bawaanya dekat pematang. Suar
an genit, diiringi tawa kecil seorang wanita. Suara itu tidak asing ba
siapa ini sebenarnya?" b
mengintip dari celah dinding gubug bambu. Ia merunduk hati-hati
na bongkahan es batu. Matanya membelalak, mulutnya ternganga,
beralaskan tikar kusam, dalam keadaan telanjang bulat. Rudalnya yang hitam, berukuran sedang, t
laki, sedang membungkuk mengenakan kembali celana dalamnya. Lalu menurun
rgeletak lemah, memejamkan matanya. Tubuh dan wajahnya berkeringat, tam
tanya lelaki itu dengan suara parau
ndengarannya sambil menahan napasnya, tak ingin ke
memang jauh lebih besar dan panjang, tapi... kalau kekuatannya sih sama
n menarik tubuhnya bangkit dari tel
panjang itu emang beda banget rasanya, walau durasinya sama
g barangnya melebihi punya akang? Gak mungkin ada lah, Sih." Lelaki
ya, hihihi." Wanita itu kembali cekikikan sambil mengenc
ang melebihi punya akang, percaya deh. Sih?" Lelaki yang
kin?" tanya wanita itu samb
e
intip dan fokus nguping itu, seketi
maksud akang yang masih normal lah, Sih. Bah Akin mah udah peot, bau tanah, udah reyot, panj
rdesir menahan amarah. Harga dirinya sebagai lelaki tua tela
h Akin udah tua, tapi dalam-dalamannya kita kan gak tahu, hihihi" W
umbo?" tanya lelaki itu sambil menarik
ktu dia mandi di sungai, kaya terong ungu yang gede itu kang, hi
un, selama beberapa menit sebelum akhirnya memutuskan untuk mundur perl
an yang ia injak. Di sepanjang perjalanan pulang, pikirannya kacau. Obr
s dan dihormati oleh banyak orang, walau hobi kawin. Wanita itu pun dipanggilnya Ustazah T
ung sebelah. Mereka merupakan besan. Anak Us
gkuhan seperti ini bisa terjadi di antara keluarga yang begitu dekat? Perse
dar rahasia yang ia saksikan. Ini adalah beban besar yang haru
pada Ustad Basri? Ata
abah? Udah pada gak waras apa? ngapain barang abah disa
ak pernah membayangkan akan menyaksikan hal seperti ini. Sebuah kenyata
reka, menyeret nama baik mereka, namun juga
segalanya," desis Bah Akin deng
*
i panutan dan dihormati seluruh warga kampung. Mantan pegawai desa beralih profesi men
g hayatnya. Penampilannya selalu terjaga, mencerminkan masa lalunya sebagai pegawai desa yang terbiasa tampil prima. Panca
giatan kemasyarakatan. Silaturahminya terjaga dengan baik, tidak hanya dengan tetangga tetapi juga dengan
ti, di rumah sederhana tetapi cukup bagus
erhatian. Meskipun begitu, dia tetap setia merawat dan menemani Mak Siti dengan penuh ka
lan kaki saat berkunjung ke tetangga atau pergi ke sawah, meskipun memiliki sepeda ontel dan sepeda motor. K
rhasil. Dia memiliki sawah dan kebun yang luas, juga beberapa kol
anen kepada tetangga, membantu anak-anaknya yang sudah menikah, atau memberikan perhatian lebih kepada para cucunya. Bah
bagai seorang pria yang berpengaruh. Melengkapi sikapnya yang tenang dan bijaksana, tersimpan p
a tangannya menggenggam erat sabit berkilat terkena sinar senja. Angin berembus lembut, men
ng menyambutnya. Dua bocah kecil berlarian
erusaha mencapai kaki kakeknya dengan tangan mungilnya. Sementara kakaknya,
ranya berat namun penuh kelembutan. Nayla tertawa kecil, lalu melepas pelu
yaman, ditemani setumpuk pakaian yang tengah dilipat. Wajahnya ayu, khas perempuan ko
u. Embah capek habis dari s
. "Enggak, bunda! Dim
namun penuh kehangatan. "Hahaha! G
ngan bangga. "Dimas tadi makan
lih sabit dari tangan mertuanya. "Silakan
"Terima kasih, Neng.
unya. "Main yang rukun, ya. Janga
ana desa begitu asri, rumah-rumah berdinding tembok dan kayu berjajar rapi, walau agak berjauhan, pekarangan
*