/0/15238/coverbig.jpg?v=1dac1a6c774684bbc17c5ec8f0f79ab8)
Saat itu tahun 1941, untuk pertama kalinya Jean menginjakan kaki di halaman depan rumah seorang janda bekas istri orang Belanda. Untuk pertama kalinya pula, Jean mendapatkan firasat bahwa dia tidak perlu berkelana kemana pun lagi. Sebab wanita Bernama Camila tersebut memberikan dia sebuah kesempatan untuk merasakan kembali menjadi manusia seutuhnya dengan penerimaan yang hangat meskipun Jean telah mengaku bahwa dia adalah seorang mantan narapidana atas kasus pembunuhan. Sayangnya, Camila tidak tahu bahwa orang yang dibunuh oleh Jean adalah suaminya sendiri. Saat dia tahu justru, segalanya sudah serba terlanjur. Jean terlanjur menganggap Camila sebagai rumah yang dia cari dan dia rindukan. Sementara Camila terlanjur menganggap bahwa Jean adalah seorang ayah pengganti yang pantas untuk anak-anaknya
Dicari seorang suami
Membutuhkan seorang pria sehat dengan umur berapa saja.
Bersedia mencari nafkah dan berbagi tempat tinggal.
Temui Camelia, di perkebunan ujung-
Dia melihat catatan yang dia salin. Meski Jean tahu bahwa wanita yang disebut sebagai janda gila itu barangkali belum tentu mau menerimanya. Tapi paling tidak Jean ingin sedikit lebih berusaha untuk membuat kesan yang cukup baik pada pandangan pertama. Setidaknya dia diberi kesempatan untuk dipertimbangkan sebelum langsung dibuang begitu saja seperti sampah tak layak lantaran dirinya hanyalah seorang mantan narapidana.
Dia sudah berada di lokasi yang sesuai dengan salinan catatannya, dan sekarang pria itu malah diam memandangi rumah kecil yang termaram dengan lampu minyak seadanya. Tempat itu, bukan sebuah rumah megah yang dia bayangkan layaknya rumah sang tuan tanah ditempat dimana Jena dulu pernah bekerja. Rumahnya benar-benar sangat berantakan. Kotoran ayam tercecer disembarang tempat, timbunan rongsokan yang berkarat, dan rumput liar yang menjulang tinggi membuat penampilan rumah itu jauh dari kaya layak huni. Bahkan tidak jauh dari sana ada seekor sapi yang sedang mengunyah rumput yang diletakan dibagian beranda belakang rumah. Kandangnya nyaris roboh karena kayu yang lapuk. Apa benar ini tempatnya?
Niatan hatinya untuk melanjutkan ini sedikit gamang, tapi pada akhirnya pria itu memilih untuk menunggu setelah mengetuk sekali.
Tak lama seorang wanita muncul dari balik ambang pintu, dia terlihat menggendong seorang anak berusia dua tahun di pinggulnya tapi yang menarik adalah warna rambut anaknya berwarna pirang dan bermata biru. Tidak seperti si wanita yang benar-benar cantik sederhana seperti wanita pasundan pada umumnya. Wanita itu bertelanjang kaki, mengenakan kain sarung yang sudah memudar dengan kelinan ujungnya yang telah terlepas, kebaya yang dia kenakan sesungguhnya berwarna putih tapi agak kuning di beberapa sisi barangkali karena air yang dia gunakan untuk membasuh. Intinya seluruh penampilannya sama berantakan dengan rumah dan juga pekarangannya.
"Ada yang bisa saya bantu?" tanya wanita itu dengan suara datar dan begitu hati-hati seraya mengamati pria muda tinggi bertopi lusuh yang berdiri di depan pintu rumahnya.
"Saya mencari rumah seorang mantan nyai bernama Camelia."
"Kamu sudah menemukannya."
"Saya datang setelah melihat selebaran yang di tempel di perkampungan."
Wanita berambut hitam tersebut mengangkat bayinya lebih tinggi dipinggul. Dia menyipitkan mata agar semakin jelas melihat kearah Jean. Dari gerak geriknya seperti wanita itu sedang berusaha menjaga jarak dari orang asing yang tiba-tiba mendatangi rumahnya dan itu adalah hal yang wajar sekali.
Lagipula jika dilihat baik-baik penampilan Jean memang jauh dari kata pertimbangan dan mencurigakan. Mengenakan topi lusuh yang dia gunakan menutupi warna rambutnya, dengan kemeja lusuh yang penuh keringat serta celana hitam yang kependekan beberapa inchi sehingga terlihat menggantung di kakinya yang jenjang, di padukan dengan sepatu bot-nya yang sudah koyak.
Kokokan ayam yang melompat mendapat pengabaian. Wanita itu kemudian menaruh bayi yang dia gendong agar berdiri bersembunyi di balik rok sarungnya.
"Kamu berniat melamar saya?" tanya si wanita yang namanya tertulis dikoran sebagai Camelia. Dia terlihat sangat terang-terangan dengan senyuman polos diwajahnya. Dia memang membutuhkan seorang patner untuk bekerja mengurus beberapa hal yang telah kacau semenjak suaminya meninggal, juga menjaga dia dan bayi yang berada di dalam kandungannya. Perkawinan romantis seperti kisah romansa klasik penuh cinta bagi Camelia hanya ada di dalam negeri dongeng.
"Ya, saya rasa begitu."
"Tapi saya mencari seorang seseorang yang siap dan bertanggung jawab penuh."
"Saya siap."
"Disini kami tinggal berdua, dan sebentar lagi akan menjadi bertiga," terang Camelia agak gugup.
"Saya tahu."
"Kamu masih tertarik?" tanya Camelia tidak percaya. "Maksud saya ...." Camelia kehabisan kata-kata dan hanya dapat merentangkan kedua tangannya di udara seolah menunjukan ketidakberdayaannya. Ada banyak kekacauan di rumah itu, seperti sampah yang menggunung dan berterbaran dimanapun juga beberapa kotoran dari hewan ternaknya yang tidak terurus.
Selama ini Camelia memang sudah sangat terbiasa dianggap sebagai aneh dan gila. Dia tidak lagi menaruh harapan tinggi, karena sejak kekayaannya berangsur habis dia mulai terbiasa untuk kecewa dan dikecewakan. Sejak memasang iklan, sudah terhitung banyak orang yang datang kekediamannya hanya sekadar untuk menuntaskan rasa ingin tahu dan penasaran saja. Bukan untuk benar-benar memutuskan menikahinya. Mereka datang hanya untuk mencemooh dan tertawa atas nasib buruk yang harus dia rasakan di usia yang masih muda. Semua orang bilang dia hanyalah seorang janda gila yang kesepian yang membutuhkan belaian bule untuk memuaskan hasrat.
"Saya rasa begitu. Banyak hal yang sepertinya membutuhkan banyak perbaikan ditempat ini," ujar Jean seraya mengangkat bahu.
Sama seperti Camelia, Jean seyogyanya juga tidak mau terlalu banyak berharap. Dia sudah terlanjur dibayangi oleh kata kecewa. Sudah terlalu banyak pengalaman pahit dihidupnya, mungkin akan jadi bertambah dengan dia yang ditolak oleh orang gila. Jadi untuk alasan apapun dia bahkan tidak berani berharap bahwa wanita ini mau menerimanya begitu saja.
"Kalau begitu bisa tolong buka topinya? Saya tidak suka bicara dengan orang yang tidak bisa saya lihat wajahnya dengan jelas."
Sejujurnya Jean tidak suka melepas topinya. Sejak keluar dari penjara dua tahun lalu hanya topi lusuh ini saja yang menjadi penutup dirinya dari dunia luar atas identitas aslinya sebagai orang belanda. Tanpa topi itu, Jean merasa telanjang.
Tapi untuk mendapatkan penilaian terbaik, Jean secara sukarela membuang ketakutannya dan membiarkan wajahnya terekspos bebas oleh si wanita.
Camelia sendiri langsung mengamati wajah Jean dengan lebih seksama. Pria itu... sangat tampan. Fitur wajahnya tidur dengan hidung tinggi yang mancung khas orang Belanda. Rahangnya terlihat tegas dan kokoh. Suaranya tenang dan datar dengan mata biru kelabu agak gelap yang terlihat menyembunyikan sebuah kabut kepahitan akan arti kehidupan. Meski begitu definisi yang tepat untuk kedua mata itu adalah cantik. Bibir tamunya tidak tersenyum, tapi bentuknya terbilang indah melengkung keatas. Anehnya Camelia menyukai kehangatan yang tersembunyi dibaliknya. Surai pirangnya terlihat acak-acakan seperti anjing pengembala, membuat Camelia sedikit gatal ingin mengelus tiap helaiannya.
"Kamu sepertinya harus memotong beberapa bagian dari rambutmu sedikit," komentar Camelia dengan suara yang melembut.
"Iya Nyai..."
"Camelia. Nama saya Camelia. Kamu sendiri sudah lihat di koran bukan?"
"Ya. Dan nama saya Johannes tapi saya lebih suka di panggil Jean."
Camelia tahu bahwa Jean bukan tipe pria yang senang banyak bicara seperti seperti mendiang suaminya dahulu. Karena itu melihat Jean yang tetap diam, akhirnya Camelia kembali memutuskan untuk memulai pembicaraan lagi dengan pemuda itu. "Sudah dua bulan lamanya saya memasang iklan di koran. Dan kamu adalah pemuda yang cukup bodoh untuk menjawab iklan itu. Maaf sebelumnya saya sudah salah mengira bahwa kamu adalah orang yang hendak menghina saya seperti biasa. Karena biasanya memang yang datang selalu pria dan mereka kemari hanya untuk menghina saya saja yang sudah tidak lagi berjaya dan kehilangan suami," jelas Camelia dengan nada pahit yang tidak bisa disembunyikan. "Tapi, saya tidak menyalahkan mereka. Wajar saja bila mereka menganggap saya gila karena saya hancur tepat setelah suami saya meninggal. Sudah resiko saya sebetulnya, sebagai nyai yang ditinggal mati suami situasi saya menjadi ambigu secara hukum dan sosial dan orang men-cap saya sebagai perempuan rendahan. Saya justru heran mengapa kamu belum lari terbirit-birit seperti para tamu saya sebelumnya, Tuan Jean." Seuntai senyum sedih bermain disudut bibir Camelia.
Jean mengamati wajah polos wanita itu lagi. Dia masih muda, dan cantik. Hanya saja kepahitan hidup yang sudah dia jalani membuat wanita itu jadi terlihat lebih tua dari usia aslinya. Anehnya Jean merasa bagian dari dirinya agak tersentuh, sudah lama sekali dia tidak mendengar ada orang memanggilnya dengan sebutan Tuan selayaknya panggilan yang memang diperuntukan untuk para orang Belanda yang hidup menetap di tanah jawa sebagai penguasa.
"Sebenarnya bukan saya yang harus lari terbirit-birit sekarang, Jika kamu tahu tentang siapa saya sebenarnya. Sebetulnya saya adalah seorang mantan narapidana. Saya pernah membunuh orang belanda di rumah bordil dan dipenjara selama sepuluh tahun," terang Jean jujur.
Jadi apa yang akan wanita itu lakukan sekarang?
WARNING MATURE CONTENT!!! Setelah mengalami silent treatment dari pacarnya. Satu waktu Angga diberi kesempatan bertemu. Pemuda itu langsung bersiap all out saat itu juga. Membeli bunga untuk sang kekasih dan juga menyiapkan cincin untuk melamarnya. Namun tidak dia duga, harapan untuk menjadikan sang kekasih sebagai miliknya sirna sudah lantaran dia justru meminta putus. Putus asa dengan kehidupannya, Angga dihubungi oleh Doni sahabat yang usianya sedikit lebih tua. Dia menelepon untuk meminta bantuan. Tapi siapa sangka, bantuan tersebut justru malah menyeret Angga dalam sebuah petualang yang tidak dia pernah sangka. "Pekerjaan ini cocok untuk pria yang sedang patah hati," kata Doni padanya saat pertama kali menawari Angga. "Kau pikir aku gigolo?" "Coba dulu saja, bayarannya menggiurkan. Dengan ini kau bisa punya banyak uang sekaligus kenikmatan. Jadi kita sepakat?"
WARNING!!!! MATURE CONTENT Setiap malam Lucy mengganti identitasnya menjadi Rose sang primadona klub malam di pinggiran kota. Meski dia dicap sebagai pelacur tetapi faktanya, Lucy tidak pernah tidur dengan pria mana pun meski dirinya ditawar dengan harga cukup tinggi. Sementara itu Rookie sang playboy yang tidak pernah ditolak tidur dengan siapa pun merasa tertantang untuk menaklukan sang primadona klub. Tetapi kemudian tidak disangka mereka berdua justru dipaksa untuk menghadapi sebuah kenyataan, pilihan takdir. Melanjutkan kisah lama yang tidak sempat dirajut atau melanjutkan hidup dengan melepaskan perasaan masing-masing.
WARNING MATURE CONTENT! AREA 21+ Pembaca di bawah umur dilarang mampir, harap menepi dan lebih bijak mencari bacaan lain. Jeff seorang Playboy jatuh cinta pada pandangan pertama saat pesta topeng di kafe-nya. Hubungan keduanya terjalin setelah mereka terlibat situasi panas dan menjadi sepasang kekasih pada akhirnya. Namun Anna rupanya tidak cukup waspada terhadap Jeff, sebab pria itu sudah menyiapkan serangkaian daftar hal yang akan mereka lakukan sebagai sepasang kekasih yang tentunya akan menyalakan gairah satu sama lain di setiap kesempatan yang tidak pernah Anna duga.
Warning 21+ (Mature content) Chika adalah seorang gadis yang baru saja direkrut untuk bekerja sebagai asisten untuk seorang penulis novel romantis terkenal bernama Jack Jeagerjaques. Tetapi siapa sangka kesan pertama pertemuan mereka diluar dugaan, karena Chika mendapati bos barunya sedang bercinta dengan seorang wanita di dapur. Kejadian itu menjadi cikal bakal bagi Chika menandai Jack sebagai seorang pria mesum yang haus belaian. Dia terancam akan menjadi mangsa selanjutnya jika saja Chika tidak berhati-hati dan waspada terhadap pesona maskulin yang Jack miliki. To : Chichi My love, My life, My Inspiration.
Tak ada satu pun cara menjadi ibu yang sempurna. Namun ada banyak cara untuk menjadi ibu yang baik. Jika merayumu dapat mengembalikan putraku dan membuat mereka aman, maka aku akan melakukannya tidak peduli resiko seperti apa yang harus aku tanggung. Kamu harus tahu bahwa aku bukanlah seorang perempuan berhati emas yang pantas untuk kau cintai sepenuh hati. Aku hanyalah perempuan egois jika menyangkut kedua anakku. Lagipula bukankah sebelumnya kita memang tidak saling mengenal? Jadi ketika kita kembali asing itu bukanlah masalah. Malah, mungkin lebih baik begini. Melepasku adalah cara terbijak bagimu untuk mencintaiku. Bencilah aku karena aku sudah memperalatmu, dan lupakanlah aku. Kau seorang pemuda yang baik, karena itulah kau pantas bersama dengan gadis yang sama baiknya. Bukan janda beranak dua yang licik sepertiku.
Lizzie adalah tipikal mahasiswi yang sedang berjuang sendiri tanpa dukungan, karena memilih menjadi calon seniman alih-alih menjadi dokter seperti yang ayahnya inginkan. Putus asa lantaran sang ayah menarik dukungan dana untuk biaya kuliah seninya, Lizzie melemparkan dirinya sendiri untuk menghasilkan uang kepada pria asing tampan. Memanfaatkan kekayaan Daxon si Papi gula bisa jadi opsi terbaik, apalagi jika ternyata si Papi gula adalah seorang bujang, bisa sangat diandalkan dan pintar memanjakan.
Pada hari pernikahannya, saudari Khloe berkomplot dengan pengantin prianya, menjebaknya atas kejahatan yang tidak dilakukannya. Dia dijatuhi hukuman tiga tahun penjara, di mana dia menanggung banyak penderitaan. Ketika Khloe akhirnya dibebaskan, saudarinya yang jahat menggunakan ibu mereka untuk memaksa Khloe melakukan hubungan tidak senonoh dengan seorang pria tua. Seperti sudah ditakdirkan, Khloe bertemu dengan Henrik, mafia gagah tetapi kejam yang berusaha mengubah jalan hidupnya. Meskipun Henrik berpenampilan dingin, dia sangat menyayangi Khloe. Dia membantunya menerima balasan dari para penyiksanya dan mencegahnya diintimidasi lagi.
Bima tak menyangka, jika seorang gadis yang dia tolong seminggu yang lalu akan menjadi ibu susu anaknya. Dia adalah Jenny, seorang gadis cantik berusia 18 tahun yang masih berstatus pelajar SMA. Namun, entah alasan apa, diumurnya yang masih terbilang muda gadis itu sudah mengandung. Apa mungkin karena salah pergaulan? Atau justru memang dia sudah menikah? Semakin lama dilihat, Jenny semakin mempesona. Hingga membuat seorang Bima Pradipta yang masih berstatus suami orang menyukainya. Dan suatu ketika, sebuah insiden kesalahan pahaman membuat keduanya terpaksa menikah dan menjadikan Jenny istri kedua Bima. Akankah pernikahan mereka abadi? Lalu, bagaimana dengan Soraya istri pertama Bima? Akankah dia terima dengan pernikahan kedua Bima? Atau justru dialah yang terlengserkan? “Setelah kita menikah, aku akan menceraikan Raya, Jen!” Bima~ “Kalau begitu Bapak jahat namanya, masa Bu Raya diceraikan? Aku dan dia sama-sama perempuan, aku nggak mau menyakitinya!” Jenny~
Untuk membayar hutang, dia menggantikan pengantin wanita dan menikahi pria itu, iblis yang ditakuti dan dihormati semua orang. Sang wanita putus asa dan kehabisan pilihan. Sang pria kejam dan tidak sabaran. Pria itu mencicipi manisnya sang wanita, dan secara bertahap tunduk pada nafsu adiktif. Sebelum dia menyadarinya, dia sudah tidak dapat melepaskan diri dari wanita tersebut. Nafsu memicu kisah mereka, tetapi bagaimana cinta bersyarat ini akan berlanjut?
Apa yang terlintas di benak kalian saat mendengar kata CEO? Angkuh? Kejam? Arogan? Mohammad Hanif As-Siddiq berbeda! Menjadi seorang CEO di perusahaan besar seperti INANTA group tak lantas membuat dia menjadi tipikal CEO yang seperti itu. Dia agamis dan rajin beribadah. Pertemuan putrinya Aisyah dengan Ummi Aida, seorang office girl di tempat dimana dia bekerja, membuat pertunangannya dengan Soraya putri pemilik perusahaan terancam batal karena Aisyah menyukai Ummi yang mirip dengan almarhum ibunya. Dengan siapa hati Hanif akan berlabuh?