/0/2751/coverbig.jpg?v=afedef2cb9c91e39201ce746d637e369)
Tara tak pernah bermimpi menjadi istri kedua dari sahabat almarhum suaminya. Namun semua sudah terjadi dan Tara terlibat dalam hubungan rumah tangga yang rumit. Mampukah ia menjalani peran sebagai istri kedua atau akhirnya ia menyerah?
Rumah mungil itu hanya dihiasi cahaya lilin. Tak ada lampu penerangan, karena pemilik rumah tak mempunyai cukup uang untuk membeli token listrik. Untungnya dia memiliki tetangga yang baik hati, bersedia memberikan air dua ember besar, untuk bekal memasak dan mandi. Karena listrik mati, otomatis mesin air pun tak menyala.
Tetangganya sudah sangat baik beberapa kali memberikan pinjaman uang untuk membeli listrik ataupun yang lainnya. Hanya saja ia tak mau terlena dengan bantuan tetangga kanan kirinya. Meskipun janda dengan seorang anak yatim, ia tetap harus bisa mandiri, tidak ingin menyusahkan orang lain.
"Mama...susu!" pinta sang putri yang berusia dua tahun, kini terbaring lemah karena badannya panas.
"Sebentar ya, Dek. Mama buatkan, ade di sini aja ya, ga usah ikut ke dapur," ujar Tara pada putrinya.
" Tapi delap," cicit Sofia, nama balita itu.
" Ade'kan hebat, di sini saja ya."
Sofia mengangguk tapi tatapannya tak lepas dari mamanya yang berada di dapur. Anak seusia Sofia pasti takut jika mati lampu. Sofia tiduran di bangku ruang tamu karena masih sore sebenarnya, masih jam tujuh malam. Ia belum mengantuk, hanya saja kepalanya sakit dan dia sedikit demam. Tara kembali dari dapur dan memberikan susu pada Sofia. Balita cantik itu meminumnya dengan cepat.
"Uueekk...." Sofia tiba-tiba memuntahkan semua susu yang baru saja habis dia minum. Tara kaget dengan sigap memijat punggung Sofia agar semua muntahnya keluar. Setelah itu Tara ke dapur untuk membersihkan muntahan anaknya.
Air matanya menetes. Obat demam anaknya tersisa sekali lagi untuk diminum malam ini, untuk besok ia tak punya persediaan obat.
" Maaf mama." ucap anaknya pelan. Tara tersenyum dikeremangan cahaya lilin.
"Ga papa kok sayang, kan Fia lagi sakit." Tara menenangkan. Sambil memijat kaki anaknya menceritakan tentang hewan kesukaan anaknya yaitu kelinci.
****
"Mas... Mbak Tara ga kita kabari dulu, kalau kita mau ke rumahnya?" tanya Meilisa pada suaminya.
"Ga usah Dek, dadakan saja. Nanti malah dia repot nyiapin ini itu, kasian," ujar Henry Zakaria, suami dari Meilisa. Atau biasa dipanggil Zaka.
Zaka melajukan mobilnya dengan pelan saat memasuki pelataran perumahan. Terlihat beberapa anak-anak main di jalanan depan rumah mereka.
"Sudah rame ya Mas. Padahal waktu almarhum Rahman baru membeli rumah di sini, masih sepi," komentar Mei pada suaminya.
" Iya De, namanya rumah murah, cepetlah diserbu orang." sahut suaminya, kini memasuki blok N menuju rumah janda temannya.
"Mas kok gelap rumahnya mba Tara?"
"Eh..iya, orangnya pergi kali ya."
"Tapi itu sepedanya ada, ada cahaya lilin juga kayaknya, " sahut istrinya. Zaka memarkirkan mobil sedannya tepat di depan rumah Tara. Mereka turun dengan tergesa. Samar-samar terdengar suara Tara yang sedang mendongengkan kisah untuk anaknya.
"Assalamualaikum," seru Zaka dan Mei
"Wa'alaykumussalam," sahut Tara berdiri dari duduknya dan membuka pintu.
" Eh...Mbak Mei, Mas Zaka. Ayo masuk!" ajak Tara canggung karena rumahnya gelap sendiri, sedangkan tetangga kanan kirinya lampu rumahnya menyala.
Zaka dan Mei duduk menatap Fia yang sedang terbaring lemah.
"Fia sakit, Nak?" tanya Zaka. Anak itu mengangguk.
"Sakit apa Fia, Mbak Tara?" tanya Mei saat Tara kembali dari dapur dengan membawa dua cangkir teh dia atas nampan.
" Mungkin masuk angin, Mbak. Ayo diminum!"
" Maaf ya, minum dalam gelap-gelapan." Tara nyengir kuda untuk menutupi rasa malu dan sedihnya.
"Kenapa gelap-gelapan Mbak?" tanya Mei.
"Mama da ada uit bi listik." oceh Fia sambil memegang bonekanya.
"Fiaaa..." Tara menginterupsi ucapan anaknya.
Zaka dan Mei terhenyak, ga menyangka bahwa janda temannya ini begitu kesulitan keuangan. Tampak Zaka mengeluarkan ponselnya, menatap istrinya seakan meminta izin. Mei mengangguk.
"Berikan nomor token listriknya Mbak!" ucap Zaka.
" Eh..ga usah jadi ngerepotin Mas, besok saya baru mau beli." Tara salah tingkah, bingung sendiri harus bagaimana lagi.
"Ga papa, Mbak," sahut Mei
Tara masuk ke dalam kamarnya, lalu kembali ke ruang tamu dengan memberikan selembar kertas kepada Zaka.
Tak lama Zaka keluar rumah dan memasukkan nomor tokennya.
Kliik...
Lampu menyala. "Alhamdulillah..." seru Tara dan Mei bersamaan.
"Hole...nyala, mama pia mau toton pipi," celoteh Fia sambil tersenyum karena lampu sudah menyala.
"Fia..ayo bilang terimakasih sama Mm Zaka dan Tante Mei." titah Tara pada anaknya.
"Maaciih papa kaka maacih tete Mei."
"Eh.." Fia menutup mulutnya,"calah ya..macih Om Kaka Tete Mei."
Zaka dan Mei mengangguk sambil tersenyum ke arah Fia. Anak yang menggemaskan, sudah lama Zaka dan Mei mendamba anak dari pernikahan mereka, namun sudah enam tahun pernikahan, mereka belum juga dikaruniai seorang anak.
Padahal Rahman dan Tara menikah belakangan tapi mereka duluan dipercaya Tuhan untuk memiliki anak. Zaka dan Mei sudah berkonsultasi ke dokter, juga menjalani beberapa treatment, namun Tuhan belum memberikan, mereka harus lebih sabar dan rajin usaha tentunya.
Setelah setengah jam mengobrol, Zaka dan Mei pamit pulang, tak lupa Zaka menurunkan sekarung beras dan sekantong sembako untuk Tara dan sekantong lagi penuh makanan untuk Fia.
"Ya Allah terimakasih Mas , Mbak. Semoga Allah balas semua kebaikan kalian," ucap Tara penuh sukur. Mata Fia seketika berbinar saat melihat ada sekantong penuh dengan snack ringan, biskuit, susu dan banyak lagi lainnya.
Zaka dan Mei pamit meninggalkan rumah Tara. Sedangkan Tara dengan suka cita merapikan barang-barang pemberian Mas Zaka dan Mbak Mei. Betapa terkejutnya Tara di dalam bungkusan sembako ada amplop coklat yang saat dibuka ternyata isinya uang lembaran merah sebanyak lima lembar. Tak hentinya Tara meneteskan air mata penuh syukur, betapa beruntungnya ia memiliki teman seperti keluarga Mbak Mei.
Sejak saat itu Zaka rutin memberikan santunan kepada Tara. Sembako dan uang lima ratus ribu, yang diantarkan oleh seorang kurir. Ingin sekali Tara mengucapkan terimakasih secara langsung pada keduanya namun Tara tak memiliki ponsel, karena ponselnya sudah ia jual dahulu, untuk biaya makan dia dan anaknya. Tara yang tidak bisa bekerja diluar rumah cukup kesulitan keuangan jadinya, dia tidak bisa meninggalkan Fia karena Fia memiliki riwayat asma akut yang sering kambuh tiba-tiba. Untuk kebutuhan sehari-hari Tara hanya mengandalkan dengan mengajar calistung beberapa anak tetangganya. Karena basic Tara adalah pendidikan, meskipun tidak kuliah sampai selesai karena terkendala biaya.
Suatu hari penyakit asma Fia kambuh lagi, Tara membawa Fia ke puskesmas terdekat. Namun dokter menyarankan agar Fia dirujuk ke rumah sakit besar. Dengan menaiki angkot turun naik nyambung beberapa kali, akhirnya Tara sampai juga di rumah sakit besar dengan membawa surat rujukan dari puskesmas. Nafas Fia sudah semakin ngosngosan langsung dibawa ke UGD rumah sakit.
Tara sedang duduk tergugu sambil meneteskan air mata, saat menunggu antrian membayar administrasi awal rumah sakit. Tara tidak mempunyai BPJS karena memang tidak cukup uang yang dia hasilkan untuk membayar iuran tersebut.
"Mbak Tara..." panggil seorang pria, yang Tara hapal betul suaranya. Suara mas Zaka teman dekat almarhum suaminya. Tara menoleh dengan mata sembab.
"Ya Allah... Mbakada apa?" tanya Zaka panik.
"Fia..Mas," sahutnya pelan, sambil menahan isakan.
Dengan tergesa Zaka masuk ke ruangan UGD, berbicara dengan dokter jaga disana, Zaka melihat tubuh Fia sudah sangat lemah dengan nafas sesak.
"Tolong lakukan yang terbaik dok, saya akan membayar biayanya," ucap Zaka tegas, lalu menoleh ke arah Tara yang kini menatapnya penuh rasa syukur.
Kini Fia sudah dipindahkan ke ruang perawatan kelas tiga. Itu saja Tara sudah sangat bersyukur atas bantuan yang diberikan mas Zaka. Sebenarnya Zaka bukannya juga orang yang kaya, tetapi cukuplah untuk ukuran kepala marketing disebuah perusahaan otomotif. Apalagi Zaka dan Mei sama-sama bekerja dan belum ada anak. Jadi tabungan mereka utuh. Sedangkan untuk kebutuhan sehari-hari sudah lebih dari cukup.
"Terimakasih Mas atas bantuannya, tapi...apa tidak apa-apa dengan mba Mei?" ucap Tara merasa sungkan dengan istri Zaka.
"Tidak papa Ra, dia pasti mengerti. Saya pamit ya, besok saya kemari lagi dengan Mei," ujar Zaka pamit sambil mengusap lembut pipi Fia dan mengecupnya sayang. Tara tersentuh dengan pandangan itu.
"Papa..cini temani Fia," oceh Fia dalam tidurnya. Zaka terhenyak, wajahnya menjadi kaku.
"Maafin Fia, Mas. Salam untuk Mbak Mei ya," ucap Tara sedikit kikuk dengan ucapan Fia dalam tidurnya. Zaka mengangguk lalu berjalan keluar kamar perawatan.
Dua hari sudah Fia dirawat dan selama dua hari berturut-turut Zaka mengunjungi Fia, hari pertama Mei ikut menemani, namun hari kedua Zaka datang sendiri karena Mei ada workshop di Bandung.
Hari ketiga, saat kondisi Fia sudah dinyatakan cukup sehat untuk dibawa pulang. Zaka menjemput Tara dan juga Fia. Di dalam mobil Fia tersenyum senang. Jarang sekali Fia bisa naik mobil.
"Mbak Tara..."
"Ya, Mas."
"Mmmm...bagaimana jika mba Tara menjadi istri kedua saya?"
*****
Dewasa (21+) Sekuel 'Kepincut Janda Tetangga' Dalam setahun, Satria sudah menikah sebanyak tujuh kali dengan tujuh gadis yang berbeda. Namun, mereka semua meminta cerai dari Satria karena tidak sanggup melayani kemampuan pria itu di ranjang, sehari sebanyak tujuh kali. Apakah ada yang salah dengan Satria? Apa ini berkaitan dengan obat yang pernah diberikan almarhum kakeknya semasa ia sekolah?
Elang terpaksa menikahi Huri demi melunasi utang ibunya pada orang tua Huri. Padahal Elang berstatus suami dari Kiya. Berhasilkah Elang menjalani perannya sebagai suami yang memiliki dua istri?
Devit adalah seorang dosen yang akan segera menikahi mahasiswinya, tetapi saat ia terpaksa mengontrak di rumah petakan, Devit malah bertemu dan jatuh hati dengan seorang janda muda bernama Juwi. Bagaimanakah dengan rencana pernikahan Devit? Baca langsung keseruan mereka yuk!
Sequel dari novel 'Enam Tahun Tanpa Malam Pertama' Dosa masa lalu orang tua, kini berbalik menimpa dirinya. Ditinggalkan di hari pernikahan oleh sang Kekasih, tetapi malah menikah dengan anak dari musuh besar kedua orang tuanya. Pernikahan seperti apa yang akan ia jalani?
Amin yang berprofesi sebagai seorang montir, tengah naksir berat sama seorang gadis belia dan terobsesi untuk mendapatkan perawan ting-ting. Namun apalah daya, bukan sang Gadis yang mendekat, tetapi para janda yang berlomba mendapatkan perhatian Amin.
Laili tidak pernah bermimpi untuk menikah di usia sangat muda, tetapi saat ini seorang pria dengan rambut yang mulai memutih, yang biasa ia panggil 'Tuan' kini sudah resmi menikahinya secara agama.
Hanya ada satu pria di hati Regina, dan itu adalah Malvin. Pada tahun kedua pernikahannya dengannya, dia hamil. Kegembiraan Regina tidak mengenal batas. Akan tetapi sebelum dia bisa menyampaikan berita itu pada suaminya, pria itu menyodorinya surat cerai karena ingin menikahi cinta pertamanya. Setelah kecelakaan, Regina terbaring di genangan darahnya sendiri dan memanggil Malvin untuk meminta bantuan. Sayangnya, dia pergi dengan cinta pertamanya di pelukannya. Regina lolos dari kematian dengan tipis. Setelah itu, dia memutuskan untuk mengembalikan hidupnya ke jalurnya. Namanya ada di mana-mana bertahun-tahun kemudian. Malvin menjadi sangat tidak nyaman. Untuk beberapa alasan, dia mulai merindukannya. Hatinya sakit ketika dia melihatnya tersenyum dengan pria lain. Dia melabrak pernikahannya dan berlutut saat Regina berada di altar. Dengan mata merah, dia bertanya, "Aku kira kamu mengatakan cintamu untukku tak terpatahkan? Kenapa kamu menikah dengan orang lain? Kembalilah padaku!"
Arga adalah seorang dokter muda yang menikahi istrinya yang juga merupakan seorang dokter. Mereka berdua sudah berpacaran sejak masih mahasiswa kedokteran dan akhirnya menikah dan bekerja di rumah sakit yang sama. Namun, tiba-tiba Arga mulai merasa jenuh dan bosan dengan istrinya yang sudah lama dikenalnya. Ketika berhubungan badan, dia seperti merasa tidak ada rasa dan tidak bisa memuaskan istrinya itu. Di saat Arga merasa frustrasi, dia tiba-tiba menemukan rangsangan yang bisa membangkitkan gairahnya, yaitu dengan tukar pasangan. Yang menjadi masalahnya, apakah istrinya, yang merupakan seorang dokter, wanita terpandang, dan memiliki harga diri yang tinggi, mau melakukan kegiatan itu?
Cerita ini hanya fiksi belaka. Karanga author Semata. Dan yang paling penting, BUKAN UNTUK ANAK2. HANYA UNTUK DEWASA. Cinta memang tak pandang tempat. Itulah yang sedang Clara rasakan. Ia jatuh cinta dengan ayah tirinya sendiri bernama Mark. Mark adalah bule yang ibunya kenal saat ibunya sedang dinas ke Amerika. Dan sekarang, ia justru ingin merebut Mark dari ibunya. Gila? Tentu saja. Anak mana yang mau merebut suami ibunya sendiri. Tapi itulah yang sekarang ia lakukan. Seperti gayung bersambut, Niat Clara yang ingin mendekati Mark diterima baik oleh pria tersebut, apalagi Clara juga bisa memuaskan urusan ranjang Mark. Akankah Clara berhasil menjadikan Mark kekasihnya? Atau lebih dari itu?
WARNING 21+‼️ (Mengandung adegan dewasa) Di balik seragam sekolah menengah dan hobinya bermain basket, Julian menyimpan gejolak hasrat yang tak terduga. Ketertarikannya pada Tante Namira, pemilik rental PlayStation yang menjadi tempat pelariannya, bukan lagi sekadar kekaguman. Aura menggoda Tante Namira, dengan lekuk tubuh yang menantang dan tatapan yang menyimpan misteri, selalu berhasil membuat jantung Julian berdebar kencang. Sebuah siang yang sepi di rental PS menjadi titik balik. Permintaan sederhana dari Tante Namira untuk memijat punggung yang pegal membuka gerbang menuju dunia yang selama ini hanya berani dibayangkannya. Sentuhan pertama yang canggung, desahan pelan yang menggelitik, dan aroma tubuh Tante Namira yang memabukkan, semuanya berpadu menjadi ledakan hasrat yang tak tertahankan. Malam itu, batas usia dan norma sosial runtuh dalam sebuah pertemuan intim yang membakar. Namun, petualangan Julian tidak berhenti di sana. Pengalaman pertamanya dengan Tante Namira bagaikan api yang menyulut dahaga akan sensasi terlarang. Seolah alam semesta berkonspirasi, Julian menemukan dirinya terjerat dalam jaring-jaring kenikmatan terlarang dengan sosok-sosok wanita yang jauh lebih dewasa dan memiliki daya pikatnya masing-masing. Mulai dari sentuhan penuh dominasi di ruang kelas, bisikan menggoda di tengah malam, hingga kehangatan ranjang seorang perawat yang merawatnya, Julian menjelajahi setiap tikungan hasrat dengan keberanian yang mencengangkan. Setiap pertemuan adalah babak baru, menguji batas moral dan membuka tabir rahasia tersembunyi di balik sosok-sosok yang selama ini dianggapnya biasa. Ia terombang-ambing antara rasa bersalah dan kenikmatan yang memabukkan, terperangkap dalam pusaran gairah terlarang yang semakin menghanyutkannya. Lalu, bagaimana Julian akan menghadapi konsekuensi dari pilihan-pilihan beraninya? Akankah ia terus menari di tepi jurang, mempermainkan api hasrat yang bisa membakarnya kapan saja? Dan rahasia apa saja yang akan terungkap seiring berjalannya petualangan cintanya yang penuh dosa ini?
Mature Content. Please be awise to reading!!! Bocil harap menyingkir, please!! Menikah selama 2 tahun dan belum di karuniai anak menjadikan Nay sedikit sedih. Apalagi suaminya jarang sekali menyentuh. Dia mencari kesibukan dengan berjualan kue dan takdir mempertemukan Nay dengan Alex.