/0/16650/coverbig.jpg?v=e7a4859497c8f55f27fc9ab2465f8140)
Suro Joyo melanjutkan pengembaraannya. Setelah berhasil menundukkan Putri Siluman Alas Waru, terjebak arus konflik di Kerajaan Karangtirta. Ada pemberontakan di kerajaan tersebut yang mesti diselesaikan. Suro Joyo juga mesti menghadapi bajak laut Selat Utara yang mengacaukan para pelintas di lautan luas. Ada lagi persoalan yang tidak bisa dihindari sang Pendekar Kembara Semesta, yakni permasalahan yang dihadapi Ayumanis di Penginapan Melati Jingga. Menyusul, ada tantangan dari Sanggariwut, pendekar hebat yang punya jurus andalan Jurus Ular Api Neraka.
Suro Joyo menyusuri perbukitan dengan langkah pasti. Baru saja dia menyelesaikan tugas yang diberikan oleh ayahandanya untuk menumpas Riris Manik. Ayahandanya, Agung Paramarta, penguasa di Kerajaan Krendobumi. Riris Manik pernah melakukan perbuatan yang meresahkan Kerajaan Krendobumi, sehingga Agung Paramarta menugaskan Suro Joyo agar menangkap dan membawanya ke Istana Krendobumi untuk diadili.
Namun Riris Manik malah melarikan diri dan bersembunyi di Pesanggrahan Alas Waru milik Keksi Anjani. Suro Joyo melacak buron sampai ke pesanggrahan milik Keksi Anjani. Dalam upaya menangkap Riris Manik, Suro Joyo bertarung habis-habisan melawan Keksi Anjani dan anak buahnya.
Saat bertarung, Suro Joyo hampir tewas di tangan lawan. Banaswarih, putra mahkota Kerajaan Karangtirta menyelamatkan nyawa Suro Joyo. Kebaikan hati Banaswarih kini akan dia balas dengan kebaikan pula. Suro Joyo yang kini mengenakan pakaian berwarna serba kuning berjalan tegap menuju Karangtirta.
"Aku ingin balas budi pada Pangeran Banaswarih," gumam Suro Joyo dalam perjalanannya melewati bukit bebatuan. "Kemarin, sebelum kami berpisah, Pangeran Banaswarih minta diriku untuk datang ke Kerajaan Karangtirta. Sepertinya ada bahaya tersembunyi yang mengancam Karangtirta."
Dugaan Suro Joyo memang tepat. Saat ini kerajaan yang dipimpin Raja Tiyasa sedang berada dalam masa kelam. Masa kelam bukan karena ketidakmampuan sang raja menyejahterakan rakyatnya, tapi karena adanya desas-desus yang membuat rasa cemas.
Rakyat Kerajaan Karangtirta dirundung kecemasan. Kabar tentang pergerakan bawah tanah yang dilakukan orang-orang yang ingin melakuan pemberontakan, membuat rakyat semakin cemas. Para telik sandi, prajurit rahasia Kerajaan Karangtirta telah mengendus adanya pemberontak yang semakin banyak jumlahnya mulai melakukan gerakan-gerakan yang lebih berani. Ada yang berani memaksa penduduk perbatasan mengikuti mereka. Kalau tidak mau mengikuti, dibunuh atau dibantai secara keji!
"Putraku Banaswarih, lakukan apa saja yang perlu kamu lakukan untuk meredam gerak para pemberontak yang mulai berani ngelunjak!" perintah Raja Tiyasa suatu malam. "Kamu ambil tindakan yang tegas. Kalau perlu keras! Siapa saja yang ketahuan mendukung atau malah menjadi pelaku pemberontakan, habisi tanpa perlu diadili!"
"Siap, Ayahanda!" kata Banaswarih.
Malam makin larut. Hanya ada anak dan bapak di pendapa kerajaan yang semakin lengang.
"Bawalah Soka Pratanda ini!" kata Tiyasa sambil menyerahkan logam berbentuk segi empat bergambar simbol Kerajaan Karangtirta. "Simpanlah dengan rapat! Gunakan kalau benar-benar dibutuhkan."
Banaswarih menerima Soka Pratanda dari Tiyasa. Pemegang logam segi empat itu mendapatkan kepercayaan mutlak dari sang raja. Soka Pratanda hanya satu. Benda berfungsi sebagai 'pengganti raja' itu hanya diberikan kepada orang yang dipercaya ketika situasi benar-benar darurat!
"Ayahanda," kata Banaswarih, "Ananda ingin menyampaikan sesuatu yang mungkin bisa membuat Ayahanda lebih tenang menghadapi situasi sekarang ini."
"Tentang apa, Banaswarih?" tanya Tiyasa dengan rasa ingin tahu yang tinggi.
"Ananda telah menyampaikan permintaan bantuan kepada Pangeran Suro Joyo dari Krendobumi. Semoga Pangeran Suro Joyo bisa membantu kita menyelesaikan kemelut yang terjadi di Karangtirta."
***
Senapati Tunggulsaka bersama puluhan prajuritnya menyusuri perbatasan wilayah Kerajaan Karangtirta dengan Kerajaan Parangbawana. Mereka berjalan dari arah selatan menuju ke utara. Menjelang matahari tegak di atas kepala, Senapati dan para prajurit tersebut sampai di pantai utara.
Menurut kabar dari beberapa telik sandi atau prajurit rahasia yang ditugaskan Tunggulsaka ke seluruh wilayah Karangtirta, ada gerombolan perampok yang bersarang di perbatasan. Gerombolan itu dipimpin Olengpati. Cukup lama mereka bersarang di perbatasan Karangtirta dengan Parangbawana. Kerajaan Karangtirta dan Parangbawana bertetangga baik sejak lama, sejak ratusan tahu silam. Dua kerajaan yang saling membantu bila satu dari keduanya membutuhkan bantuan.
"Apa benar kabar dari telik sandi itu, Senapati?" tanya seorang prajurit kepada Tunggulsaka. Karangtirta
"Aku yakin, benar," jawab Tunggulsaka yakin. "Memangnya kenapa? Kamu tidak yakin bahwa laporan telik sandi itu benar?"
"Bukan begitu, Senapati. Bisa saja telik sandi salah menyerap kabar, sehingga kurang tepat ketika memberikan laporan."
Benar juga ya kata prajuritku ini. Kata Tunggulsaka dalam hati. Namanya saja manusia, bisa saja dia salah dalam menyerap warta yang beredar di masyarakat. Wah, kalau prajurit telik sandi salah memberikan laporan, bisa membahayakan Karangtirta."
Saat ini Tunggulsaka dan para prajuritnya merasakan bahwa keadaan tenang. Kawasan Hutan Ugeran termasuk wilayah Kerajaan Karangtirta dan Hutan Rukem kelihatannya aman-aman saja. Tak ada sesuatu yang mencurigakan. Senapati andalan Karangtirta itu sejenak bertanya-tanya dalam hati. Salahkah berita yang disampaikan para para telik sandi itu? Semoga laporan mereka tidak ada yang salah.
Selama ini para prajurit telik sandi selalu memberikan kabar yang tepat. Mereka memberi laporan padanya setelah melakukan penyelidikan secara sungguh-sungguh. Dalam laporan itu disebutkan bahwa mereka mengetahui tentang kebeadaan gerombolan perampok pimpinan Olengpati bersembunyi di Hutan Rukem, wilayah Parangbawana, dekat perbatasan dengan wilayah Karangtirta.
"Para perampok pimpinan Olengpati itu diduga kuat ada hubugan erat dengan pemberontak yang saat ini sedang menyusun kekuatan. Mereka menyusun kekuatan fisik berupa jumlah pasukan. Mereka juga mengumpulkan uang dan harta untuk membiayai para pemberontak," kata Tunggulsaka.
"Dengar-dengar, ada anggota pemberontak berani mengancam penduduk perbatasan sini," kata seorang prajurit yang lain. "Apa benar, Senapati?"
"Ehm..., ya, begitulah laporan yang kuterima. Sebentar..., sebenarnya mereka belum bisa disebut pemberontak," Tunggulsaka meluruskan kata-kata anak buahnya. "Mereka sekumpulan orang yang sedang menggalang kekuatan. Mereka diduga kuat akan melakukan pemberontakan. Kapan melakukan pemberontakan? Kita tidak tahu."
"Walau mereka belum melakukan pemberontakan, mereka sudah layak disebut pemberontak. Mereka suka membangkang terhadap semua peraturan yang ada di Kerajaan Karangtirta. Masyarakat Karangtirta yang tidak suka pada kelakuan mereka, sampai ada yang beramai-ramai mengusir orang-orang yang mendukung pemberontak."
"Mengapa sampai bertindak sepertti itu?"
"Mereka kesal, Senapati. Masyarakat yang tidak suka kepada pendukung pemberontak itu punya alasan yang masuk akal, Senapati."
"Apa alasannya?"
"Alasannya, para pendukung pemberontak itu cari makan dan menikmati segala hal diberikan pihak Kerajaan Karangtirta, tapi malah suka menjelek-jelekkan Raja Tiyasa dengan alasan ngawur. Alasan yang tidak masuk akal. Mereka hanya asal mangap saja. Asal membuka mulut, tanpa menggunakan otaknya."
Senapati Tunggulsaka bisa memahami perkataan anak buahnya. Gerombolan Olengpati yang dicurigai ada hubungan dengan para pemberontak bawah tanah, sering membuat keonaran. Mereka membuat keonaran di desa-desa wilayah Karangtirta. Akibat ulah Olengpati dan anak buahnya, desa-desa tersebut tidak aman.
Penduduknya sering berjaga siang malam. Mereka berjaga-jaga dari segala kemungkinan yang bisa menimpa penduduk desa. Para penduduk sering berjaga semalam suntuk, sehingga paginya mengantuk. Akibatnya mereka bekerja secara malas-malasan pada siang harinya. Hal ini menimbulkan perasaan penduduk tidak tenang, penghasilan mereka dalam bertani juga berkurang.
"Agaknya itulah tujuan Olengpati dan gerombolannya," kata Tunggulsaka. "Mereka menebar keonaran yang membuat penduduk desa di seluruh wilayah Kerajaan Karangtirta resah. Karena resah, para penduduk menjadi lemah. Baik lemah badannya, juga lemah semangat hidupnya. Hal ini tidak akan kubiarkan terjadi berlarut-larut. Maka aku segera mengambil tidakan. Aku ingin segera menumpas Olengpati dan gerombolannya. Tentu saja yang kulakukan ini atas sepengetahuan Paduka Raja Tiyasa."
Tunggulsaka tidak ingin penduduk desa atau rakyat jelata dalam keadaan tidak tentram, rasah, dan selalu khawatir sepanjang masa. Kalau rakyat dalam keadaan tidak aman, maka akan meruntuhkan kewibawan Karangtirta.
Maka dari itu, Tunggulsaka mohon ijin Raja Tiyasa yang menjadi orang paling berkuasa di Karangtirta. Tunggulsaka minta ijin untuk menumpas gerombolan Olengpati. Raja Tiyasa mengijinkan. Sehingga saat ini Tunggulsaka dan empat puluhan prajuritnya telah berada di perbatasan.
"Prajurit, berhenti di sini!" kata Tunggulsaka. "Kita istirahat sebentar."
"Baiklah, Senapati...," sahut para prajurit serentak.
Para prajurit segera duduk-duduk di berbagai tempat. Ada yang duduk di bawah pohon besar, ada pula yang duduk di balik batu besar. Mereka duduk sambil menikmati bekal yang mereka bawa dari kerajaan.
"Lunjak, apa pendapatmu tentang situasi di perbatasan ini?" tanya Tunggulsaka setelah makan siang.
"Maaf, Senapati, saya belum punya pendapat," kata Lunjak.
"Kalau kamu bagaimana, Bandem?" Tunggulsaka bertanya kepada Bandem.
"Menurut saya, ini barangkali cuma jebakan, Senapati," jawab Bandem.
"Maksudmu?"
"Maksudnya begini, Senapati, Olengpati membuat daerah perbatasan ini seolah-olah aman. Padahal siapa tahu dia dan anak buahnya bersembunyi di sekitar sini. Pada saat rakyat lengah, dia keluar dari persembunyiannya. Mereka lalu merampok harta rakyat secara tiba-tiba dan tak terduga."
"Ya..., aku juga berpikiran demikian. Cuma sekarang kita bingung mau bertindak apa? Karena kita belum menemukan persis di mana persembunyian mereka." kata Tunggulsaka sambil menghela napas.
Ketika Tunggulsaka dan kedua anak buahnya sedang bercakap-cakap, tiba-tiba terdengar teriak kematian dari seorang prajurit yang sedang duduk di bawah pohon besar. Leher prajurit itu tertembus anak panah!
***
Wulan Sariningtyas disia-siakan Berti Sonika, ibu mertua, karena dianggap tidak pantas menjadi anak menantu. Selain itu, selama lima tahu berumah tangga dengan Haris Nandito, suaminya, Wulan belum memiliki anak. Wulan tahu diri. Dirinya berasal dari keluarga biasa, secara strata ekonomi jauh di bawah keluarga besar Berti Sonika – Wistara Janaloka. Walau berat hati, Wulan meninggalkan rumah megah sang mertua. Ketika hidup mandiri, Wulan menghadapi berbagai deraan lain yang tidak ringan. Kehadiran Jefri Sahima dalam kehidupan Wulan membuatnya semakin terbebani. Bukan hanya beban batin, tapi juga beban lain yang tak mudah dhindari. Tenyata Jefri anggota sebuah jaringan mafia yang selama ini ingin menghancurkan Perusahaan WIPA. Apalagi setelah Wulan tahu bahwa dirinya pewaris PT WIPA, makin berat masalah yang disangganya. Kehadiran Haris dan Berti yang memohon ampun atas kesalahan mereka di masa lalu, juga membuat pendirian Wulan goyah. Wulan ternyata belum bisa menghilangkan rasa cinta kepada Haris. Pada sisi lain, Wulan mulai jatuh hati kepada Jefri! Apa pun yang akan terjadi nantinya, Wulan mesti mengambil sebuah keputusan untuk kebahagiaan hidupnya kelak. Sebuah keputusan yang berat yang mesti diambil. Entah keputusan apa yang akan diambil Wulan, sama-sama ada risikonya.
Setelah bertemu kedua orang tuanya, Permana Brata memusatkan perhatiannya untuk penyembuhan Ki Sasmaya. Pendekar yang memiliki Pedang Kebenaran Sejati itu ingin berbakti kepada sang guru dengan cara mengupayakan kesembuhannya. Namun aral selalu saja ada tanpa terduga. Ada segerombolan perampok, penculik, sekaligus pemberontak ingin mengacau. Dunia persilatan akan dibuat carut malut oleh gerombolan Musto Ireng. Permana bertindak cepat untuk menyelamatkan dunia persilatan dari tangan-tangan kotor yang mencengkeram secara kejam.
Permana Brata yang lahir dari hubungan gelap antara Prabasari dengan Baron Smith, melanjutkan petualangannya. Setelah bertemu ibunda, kini ingin melacak keberadaan ayahanda. Berbekal berbagai ilmu dari Ki Sasmaya, jurus yang dikembangkan dari Sepuluh Syair Bumi Pertiwi, dan Pedang Kebenaran Sejati, Permana Brata menyingkirkan berbagai aral yang menghadang. Pahit getir di dunia persilatan, dijalani dengan tegar. Demi menemukan ayahanda, apa saja yang menjadi penghalang, diterjang dengan seluruh kemampuannya.
Suro Joyo menolak keinginan ayahandanya untuk mewarisi tahta Kerajaan Krendobumi. Pendekar Rajah Cakra Geni itu lebih mementingkan siapa saja yang membutuhkan pertolongan. Dia mengembara ke segala penjuru jagat raya, sehingga mendapat julukan Pendekar Kembara Semesta. Dalam pengembaraannya, Suro terlibat perebutan Bunga Puspajingga, menghindari jerat Dewi Pemikat dan kesaktian Tombak Siung Sardula. Selain itu, Suro terseret kemelut para pendekar yang menginginkan harta karun Goa Barong. Demi menegakkan kebenaran dan keadilan di alam semesta, Suro harus berhadapan dengan Putri Siluman Alas Waru.
Sehebat apa pun Permana Brata, dia manusia. Manusia yang punya masa lalu gelap, kelam, dan kusam. Asal-usul Pendekar Budiman itu diwarnai noda hitam. Untuk mengubur dosa-dosa yang pernah dilakukan, Permana melakukan kebaikan terhadap siapa pun dalam pengembaraannya. Dengan bekal berbagai ilmu dan jurus Sepuluh Syair Bumi Pertiwi, serta Pedang Kebenaran Sejati, Permana melacak keberadaan kedua orang tuanya. Berbagai aral menghadang, dia terjang. Berbagai rintangan, dia hancurkan. Hanya satu prinsip Permana, basmi segala bentuk angkara murka di muka bumi. Musnahkan segala bentuk kejahatan demi tercipta kedamaian di jagat raya.
Basudo anak orang tak mampu. Masa kecilnya didera kemiskinan. Masa kecil dipenuhi rasa dendam pada orang-orang yang ada hubungan dekat dengannya. Rasa dendam ini terus ada dan sulit dipadamkan. Rasa dendam itu sebisa mungkin dia lampiaskan. Pelampiasan dendam dilakukan sejak masih remaja sampai dewasa. Untuk melampiaskan dendam kesumat yang membaja di hati, Basudo meniti jalan berliku dan penuh resiko. Namun resiko apa pun dia hadapi. Resiko sebesar apa pun, dia tempuh demi tercapai keinginannya. Keinginan untuk menghabisi orang-orang yang pernah menyengsarakan hidupnya. Demi memenuhi ambisi ekonomi dan kekuasaan dalam upaya balas dendamnya, Basudo melakukan apa saja. Tidak peduli yang dia lakukan membuat orang lain menderita. Basudo melakukan berbagai tindakan yang membuat orang lain binasa. Bukan hanya satu orang yang telah dibinasakan Basudo, tetapi lebih banyak lagi yang tak terhitung jumlahnya. Tindakan Basudo yang di luar batas mendapat tentangan dari banyak orang. Di antara yang menentang, ada yang berani menghadapi sang raja mafia dengan resiko kehilangan nyawa. Defian dan Telma yang berani menempuh jalan kematian demi memusnahkan Basudo dan gerombolannya!
Setelah menyembunyikan identitas aslinya selama tiga tahun pernikahannya dengan Kristian, Arini telah berkomitmen sepenuh hati, hanya untuk mendapati dirinya diabaikan dan didorong ke arah perceraian. Karena kecewa, dia bertekad untuk menemukan kembali jati dirinya, seorang pembuat parfum berbakat, otak di balik badan intelijen terkenal, dan pewaris jaringan peretas rahasia. Sadar akan kesalahannya, Kristian mengungkapkan penyesalannya. "Aku tahu aku telah melakukan kesalahan. Tolong, beri aku kesempatan lagi." Namun, Kevin, seorang hartawan yang pernah mengalami cacat, berdiri dari kursi rodanya, meraih tangan Arini, dan mengejek dengan nada meremehkan, "Kamu pikir dia akan menerimamu kembali? Teruslah bermimpi."
Kedua orang yang memegangi ku tak mau tinggal diam saja. Mereka ingin ikut pula mencicipi kemolekan dan kehangatan tubuhku. Pak Karmin berpindah posisi, tadinya hendak menjamah leher namun ia sedikit turun ke bawah menuju bagian dadaku. Pak Darmaji sambil memegangi kedua tanganku. Mendekatkan wajahnya tepat di depan hidungku. Tanpa rasa jijik mencium bibir yang telah basah oleh liur temannya. Melakukan aksi yang hampir sama di lakukan oleh pak Karmin yaitu melumat bibir, namun ia tak sekedar menciumi saja. Mulutnya memaksaku untuk menjulurkan lidah, lalu ia memagut dan menghisapnya kuat-kuat. "Hhss aahh." Hisapannya begitu kuat, membuat lidah ku kelu. Wajahnya semakin terbenam menciumi leher jenjangku. Beberapa kecupan dan sesekali menghisap sampai menggigit kecil permukaan leher. Hingga berbekas meninggalkan beberapa tanda merah di leher. Tanganku telentang di atas kepala memamerkan bagian ketiak putih mulus tanpa sehelai bulu. Aku sering merawat dan mencukur habis bulu ketiak ku seminggu sekali. Ia menempelkan bibirnya di permukaan ketiak, mencium aroma wangi tubuhku yang berasal dari sana. Bulu kudukku sampai berdiri menerima perlakuannya. Lidahnya sudah menjulur di bagian paling putih dan terdapat garis-garis di permukaan ketiak. Lidah itu terasa sangat licin dan hangat. Tanpa ragu ia menjilatinya bergantian di kiri dan kanan. Sesekali kembali menciumi leher, dan balik lagi ke bagian paling putih tersebut. Aku sangat tak tahan merasakan kegelian yang teramat sangat. Teriakan keras yang tadi selalu aku lakukan, kini berganti dengan erangan-erangan kecil yang membuat mereka semakin bergairah mengundang birahiku untuk cepat naik. Pak Karmin yang berpindah posisi, nampak asyik memijat dua gundukan di depannya. Dua gundukan indah itu masih terhalang oleh kaos yang aku kenakan. Tangannya perlahan menyusup ke balik kaos putih. Meraih dua buah bukit kembarnya yang terhimpit oleh bh sempit yang masih ku kenakan. .. Sementara itu pak Arga yang merupakan bos ku, sudah beres dengan kegiatan meeting nya. Ia nampak duduk termenung sembari memainkan bolpoin di tangannya. Pikirannya menerawang pada paras ku. Lebih tepatnya kemolekan dan kehangatan tubuhku. Belum pernah ia mendapati kenikmatan yang sesungguhnya dari istrinya sendiri. Kenikmatan itu justru datang dari orang yang tidak di duga-duga, namun sayangnya orang tersebut hanyalah seorang pembantu di rumahnya. Di pikirannya terlintas bagaimana ia bisa lebih leluasa untuk menggauli pembantunya. Tanpa ada rasa khawatir dan membuat curiga istrinya. "Ah bagaimana kalau aku ambil cuti, terus pergi ke suatu tempat dengan dirinya." Otaknya terus berputar mencari cara agar bisa membawaku pergi bersamanya. Hingga ia terpikirkan suatu cara sebagai solusi dari permasalahannya. "Ha ha, masuk akal juga. Dan pasti istriku takkan menyadarinya." Bergumam dalam hati sembari tersenyum jahat. ... Pak Karmin meremas buah kembar dari balik baju. "Ja.. jangan.. ja. Ngan pak.!" Ucapan terbata-bata keluar dari mulut, sembari merasakan geli di ketiakku. "Ha ha, tenang dek bapak gak bakalan ragu buat ngemut punyamu" tangan sembari memelintir dua ujung mungil di puncak keindahan atas dadaku. "Aaahh, " geli dan sakit yang terasa di ujung buah kembarku di pelintir lalu di tarik oleh jemarinya. Pak Karmin menyingkap baju yang ku kenakan dan melorotkan bh sedikit kebawah. Sayangnya ia tidak bisa melihat bentuk keindahan yang ada di genggaman. Kondisi disini masih gelap, hanya terdengar suara suara yang mereka bicarakan. Tangan kanan meremas dan memelintir bagian kanan, sedang tangan kiri asyik menekan kuat buah ranum dan kenyal lalu memainkan ujungnya dengan lidah lembut yang liar. Mulutnya silih berganti ke bagian kanan kiri memagut dan mengemut ujung kecil mungil berwarna merah muda jika di tempat yang terang. "Aahh aahh ahh," nafasku mulai tersengal memburu. Detak jantungku berdebar kencang. Kenikmatan menjalar ke seluruh tubuh, mendapatkan rangsangan yang mereka lakukan. Tapi itu belum cukup, Pak Doyo lebih beruntung daripada mereka. Ia memegangi kakiku, lidahnya sudah bergerak liar menjelajahi setiap inci paha mulus hingga ke ujung selangkangan putih. Beberapa kali ia mengecup bagian paha dalamku. Juga sesekali menghisapnya kadang menggigit. Lidahnya sangat bersemangat menelisik menjilati organ kewanitaanku yang masih tertutup celana pendek yang ia naikkan ke atas hingga selangkangan. Ujung lidahnya terasa licin dan basah begitu mengenai permukaan kulit dan bulu halusku, yang tumbuhnya masih jarang di atas bibir kewanitaan. Lidahnya tak terasa terganggu oleh bulu-bulu hitam halus yang sebagian mengintip dari celah cd yang ku kenakan. "Aahh,, eemmhh.. " aku sampai bergidik memejam keenakan merasakan sensasi sentuhan lidah di berbagai area sensitif. Terutama lidah pak Doyo yang mulai berani melorotkan celana pendek, beserta dalaman nya. Kini lidah itu menari-nari di ujung kacang kecil yang menguntit dari dalam. "Eemmhh,, aahh" aku meracau kecil. Tubuhku men
Apa yang terlintas di benak kalian saat mendengar kata CEO? Angkuh? Kejam? Arogan? Mohammad Hanif As-Siddiq berbeda! Menjadi seorang CEO di perusahaan besar seperti INANTA group tak lantas membuat dia menjadi tipikal CEO yang seperti itu. Dia agamis dan rajin beribadah. Pertemuan putrinya Aisyah dengan Ummi Aida, seorang office girl di tempat dimana dia bekerja, membuat pertunangannya dengan Soraya putri pemilik perusahaan terancam batal karena Aisyah menyukai Ummi yang mirip dengan almarhum ibunya. Dengan siapa hati Hanif akan berlabuh?
Binar Mentari menikah dengan Barra Atmadja,pria yang sangat berkuasa, namun hidupnya tidak bahagia karena suaminya selalu memandang rendah dirinya. Tiga tahun bersama membuat Binar meninggalkan suaminya dan bercerai darinya karena keberadaannya tak pernah dianggap dan dihina dihadapan semua orang. Binar memilih diam dan pergi. Enam tahun kemudian, Binar kembali ke tanah air dengan dua anak kembar yang cerdas dan menggemaskan, sekarang dia telah menjadi dokter yang berbakat dan terkenal dan banyak pria hebat yang jatuh cinta padanya! Mantan suaminya, Barra, sekarang menyesal dan ingin kembali pada pelukannya. Akankah Binar memaafkan sang mantan? "Mami, Papi memintamu kembali? Apakah Mami masih mencintainya?"
Sinta butuh tiga tahun penuh untuk menyadari bahwa suaminya, Trisna, tidak punya hati. Dia adalah pria terdingin dan paling acuh tak acuh yang pernah dia temui. Pria itu tidak pernah tersenyum padanya, apalagi memperlakukannya seperti istrinya. Lebih buruk lagi, kembalinya wanita yang menjadi cinta pertamanya tidak membawa apa-apa bagi Sinta selain surat cerai. Hati Sinta hancur. Berharap bahwa masih ada kesempatan bagi mereka untuk memperbaiki pernikahan mereka, dia bertanya, "Pertanyaan cepat, Trisna. Apakah kamu masih akan menceraikanku jika aku memberitahumu bahwa aku hamil?" "Tentu saja!" jawabnya. Menyadari bahwa dia tidak bermaksud jahat padanya, Sinta memutuskan untuk melepaskannya. Dia menandatangani perjanjian perceraian sambil berbaring di tempat tidur sakitnya dengan hati yang hancur. Anehnya, itu bukan akhir bagi pasangan itu. Seolah-olah ada penghalang jatuh dari mata Trisna setelah dia menandatangani perjanjian perceraian. Pria yang dulu begitu tidak berperasaan itu merendahkan diri di samping tempat tidurnya dan memohon, "Sinta, aku membuat kesalahan besar. Tolong jangan ceraikan aku. Aku berjanji untuk berubah." Sinta tersenyum lemah, tidak tahu harus berbuat apa ....
BERISI ADEGAN HOT++ Leo pria tampan dihadapan dengan situasi sulit, calon mertuanya yang merupakan janda meminta syarat agar Leo memberikan kenikmatan untuknya. Begitu juga dengan Dinda, tanpa sepengetahuan Leo, ternyata ayahnya memberikan persyaratan yang membuat Dinda kaget. Pak Bram yang juga seorang duda merasa tergoda dengan Dinda calon menantunya. Lantas, bagaimana dengan mereka berdua? Apakah mereka akan menerima semua itu, hidup saling mengkhianati di belakang? Atau bagaimana? CERITA INI SERU BANGET... WAJIB KAMU KOLEKSI DAN MEMBACANYA SAMPAI SELESAI !!