/0/16597/coverbig.jpg?v=7671acdde2afa7678a9ec790a4948956)
Basudo anak orang tak mampu. Masa kecilnya didera kemiskinan. Masa kecil dipenuhi rasa dendam pada orang-orang yang ada hubungan dekat dengannya. Rasa dendam ini terus ada dan sulit dipadamkan. Rasa dendam itu sebisa mungkin dia lampiaskan. Pelampiasan dendam dilakukan sejak masih remaja sampai dewasa. Untuk melampiaskan dendam kesumat yang membaja di hati, Basudo meniti jalan berliku dan penuh resiko. Namun resiko apa pun dia hadapi. Resiko sebesar apa pun, dia tempuh demi tercapai keinginannya. Keinginan untuk menghabisi orang-orang yang pernah menyengsarakan hidupnya. Demi memenuhi ambisi ekonomi dan kekuasaan dalam upaya balas dendamnya, Basudo melakukan apa saja. Tidak peduli yang dia lakukan membuat orang lain menderita. Basudo melakukan berbagai tindakan yang membuat orang lain binasa. Bukan hanya satu orang yang telah dibinasakan Basudo, tetapi lebih banyak lagi yang tak terhitung jumlahnya. Tindakan Basudo yang di luar batas mendapat tentangan dari banyak orang. Di antara yang menentang, ada yang berani menghadapi sang raja mafia dengan resiko kehilangan nyawa. Defian dan Telma yang berani menempuh jalan kematian demi memusnahkan Basudo dan gerombolannya!
Prolog
Syahdan.
Menurut yang empunya cerita,
terpadu dengan berita dan derita,
di sebuah negeri,
Negeri Indasoka namanya,
pada suatu masa.
Hiduplah seorang manusia. Yang kini telah renta. Kerut kirut kulit yang membungkus tubuh renta menunjukkan cerita, berita, dan derita. Yang mendera sejak usia dini sampai senja. Yang mendera diri sendiri dan seluruh anggota keluarga. Dia pun sampai pada akhir kata. Pengorbanan tak terelakkan dalam sebuah perjuangan untuk mencapai pemuliaan manusia. Sebuah cita-cita yang sederhana. Memuliakan manusia.
Kini, si tua renta berada di halaman gubug reyot terbuat dari bambu tua. Kini si senja usia duduk di atas kursi roda bersama cucu satu-satunya. Dia berkata kepada si cucu, "Benar kata ayahmu. Negeri ini telah dikuasai mafia...."
*
Berpuluh-puluh tahun yang lalu....
Basudo, pemuda umur sembilan belas tahun. Masih malas-malasan bangun dari tidurnya. Basudo, anak sulung dari pasangan Setro–Samiyani. Ada tiga adiknya -Setiyani, Setiyono, Tarnoto- sudah berangkat sekolah. Setiyani dan Setiyono kelas XII di SMA 1 Tawangtalun. Tarnoto kelas IX di SMP 2 Bubudan. Setro sudah berangkat ke Pasar Bubudan sejak matahari belum terbit. Samiyani sudah berangkat ke SD Kapuguhan 03 jam lima pagi.
Pagi ini Basudo tidak seperti biasanya. Ada sesuatu yang ingin dilakukan, berbeda dari kebiasaannya. Pagi ini Basudo bangun lebih siang dari biasanya. Sejak masih SD, Basudo sudah terbiasa bangun pagi sebelum jam lima. Sebagai anak sulung, Basudo sudah terbiasa membantu pekerjaan ibunya sebagai penjual makanan di warung sekolah. Segala pekerjaan yang mampu dia tangani, akan dikerjakannya. Basudo membantu ibunya mencari uang untuk menghidupi dirinya dan ketiga adiknya.
Sejak remaja, Samiyani telah akrab dengan warung makan. Pada masa gadisnya, Samiyani membantu ibunya berjualan nasi pecel di Pasar Bubudan. Pengalaman Samiyani membantu sang ibu, membuatnya mampu memasak berbagai macam makanan dengan aroma dan rasa yang lezat. Mulai memasak sayur bayam sampai semur daging terjaga aroma dan rasanya. Orang-orang Dukuh Tegelan sudah tahu masakan Samiyani. Mereka selalu minta tolong Samiyani menjadi koki alias juru masak kalau punya kerja. Warga Tegelan kurang merasa afdol saat punya hajat kalau kokinya bukan Samiyani. Tidak jarang, seorang warga mengundurkan hari hajatan agar kokinya nanti Samiyani. Rasanya masakan akan terasa cemplang kalau yang memberikan bumbunya bukan Samiyani. Kalau kokinya bukan Samiyani, maka rasa makanan yang disajikan pasti akan hambar, begitu imej yang tertanam di benak seluruh warga Tegelan.
Keahlian Samiyani dalam masak-memasak merupakan tambang rejeki bagi perempuan itu. Berkat pendekatan Setro terhadap kepala sekolah, Samiyani diperbolehkan membuat kantin di dalam lingkup SD Kapuguhan 03 sejak Basudo masih bayi. Sejak saat itu, penghasilan Samiyani menjadi penyangga utama dalam keluarga Setro.
Sebenarnya Setro tidak akan terpuruk kehidupan ekonominya kalau saja sawah dua hektar yang menurut hukum adat menjadi miliknya tidak dibajak Sarko. Sarko paman Setro dari jalur ayahnya. Sarko adik sepupu Gotro. Gotro ayah Setro. Gotro kakek dari Basudo. Gotro terlahir dengan sikap dan sifat yang aneh. Gotro hanya mau membiayai anak-anaknya sekolah sampai tamat SD karena Gotro bersikukuh bahwa pendidikan tidak ada gunanya. Bagi Gotro, yang penting ketiga anaknya nanti akan mewarisi harta berupa sawah. Gotro mewarisi tiga hektar sawah dari orang tuanya. Ketiga hektar sawahnya kelak akan dia wariskan kepada ketiga anaknya: Setro, Rubiyem, dan Tariyem. Setro terlahir sebagai anak sulung, anak laki-laki satu-satunya dalam keluarga Gotro. Rubiyem nomor dua, perempuan, dan Tariyem adik Setro yang paling kecil, juga perempuan. Dalam wilayah Propinsi Sukagiri, berlaku hukum adat turun-temurun yang bunyi ringkasnya: ¬sepikul segendhongan. Anak laki-laki mendapatkan warisan sepikul artinya dua bagian, anak perempuan mendapatkan warisan segendhongan, yaitu satu bagian.
Gotro sangat percaya pada hukum adat yang berjalan secara otomatis. Dia tidak pernah membagi hartanya untuk ketiga anaknya. Ketiga hektar sawah Gotro masih atas nama Joyo, ayahnya. Gotro anak tunggal, sehingga dipastikan seluruh harta Joyo akan menjadi milik Gotro. Namun pemikiran Gotro tiak terbukti menjadi kenyataan setelah Gotro tiada. Setelah Gotro meninggal dunia, pembagian warisan itu menjadi problem. Problem bagi Setro, khususnya.
Saat Gotro meninggal dunia, Setro masih umur belasan tahun. Waktu itu Setro baru saja lulus SD. Rubiyem masih duduk di kelas 5 SD. Sedangkan Tariyem menyusul ayahnya sebulan setelah sang ayah meninggal karena wabah kolera. Basudo masih anak-anak, dan Sawiyah, istri Gotro tidak berhak mewarisi atau pun membagikan warisan. Pembagian warisan diserahkan kepada Sarko. Tempat tinggal Sarko yang masih satu kalurahan dengan Gotro, membuat pihak punggawa Desa Kapuguhan menyerahkan hak membagikan warisan milik Gotro kepada Sarko.
Sarko berkeputusan akan membagikan sawah secara resmi dalam bentuk sertifikat atas nama Setro dan Rubiyem setelah keduanya menikah. Rubiyem menikah lebih dulu dari Setro. Rubiyem mendapatkan warisan satu hektar sawah dari almarhum Joyo. Ya..., kenyataannya memang begitu. Ketiga hektar tanah milik Gotro memang masih atas nama Joyo. Maka cukup sulit bagi Sarko mengalihnamakan satu hektar tanah dari Joyo kepada Rubiyem. Berkat kelihaian Sarko mendekati berbagai pihak terkait, pembagian warisan berjalan lancar. Setro pun berharap begitu kalau tiba gilirannya untuk menerima warisan.
Berdasarkan hukum adat yang berlaku, pembagian warisan Gotro untuk anak-anaknya sudah adil. Setro mendapatkan dua hektar, Rubiyem setengah hektar, dan Tariyem setengah hektar. Karena Tariyem sudah meninggal dunia, maka setengah hektar warisannya menjadi hak Rubiyem. Berdasarkan hukum adat itu pula, mestinya Setro mendapatkan warisan dua hektar tanah itu. Namun yang terjadi tidak demikian. Nyatanya tidak demikian. Nyatanya tidak sesuai dengan keinginan Setro.
Dengan alasan tersembunyi, Sarko belum bersedia mengalihnamakan tanah warisan Gotro dari Joyo kepada Setro. Padahal saat itu Setro sudah menikah dengan Samiyani. Saat itu Samiyani sudah hamil. Kehamilan Samiyani yang tidak lama dari waktu pernikahannya, membuat warga Tegelan bertanya-tanya dalam hati masing-masing. Mereka bergunjing dengan nada bicara pelan, setengah berbisik, atau bisik-bisik. Yang namanya banyak orang, ada di antara warga berkomentar bahwa senjata Setro memang cespleng! Dengan berlalunya waktu, pergunjingan itu lenyap bagai ditelan bumi.
Karena alasan yang masih dirahasiakan, Sarko hanya bersedia mengalihnamakan sawah dua hektar dari Joyo kepada Setro kalau anak sulung Setro sudah dewasa. Namun, sebelum Basudo (anak sulung Setro) dewasa, Sarko telah meninggal dunia. Itu berarti, rahasia yang tersembunyi dalam pikiran Sarko terbawa sampai mati!
Rahasia yang dibawa Sarko ke alam keabadian menyebabkan kesengsaraan bagi Setro sekeluarga. Kesengsaraan keluarga Setro menimbulkan dendam kesumat.
"Kamu tidak boleh dendam pada kakekmu, Basudo," nasihat Setro kepada si anak sulung, suatu sore. Keduanya duduk di lincak yang terletak di emper rumah. Lincak, tempat duduk terbuat dari bambu, terdengar berkereyot ketika mereka duduki. "Walaupun Mbah Sarko bukan kakek langsung, tetapi beliau wajib kita hormati sebagai leluhur kita. Mendiang Mbah Sarko wajib kita doakan setiap waktu agar tenang di alam sana."
"Ya, Pak," sahut Basudo untuk melegakan hati ayahnya.
Basudo terlihat sudah bisa legawa, ikhlas dalam menerima kenyataan pahit dalam hidup yang dialami bersama ayah, ibu, dan ketiga adiknya. Padahal, dalam benaknya paling dalam, masih memendam dendam yang dalam. Dendam yang bisa hilang dari hati dan pikiran kalau dilampiaskan!
*
Wulan Sariningtyas disia-siakan Berti Sonika, ibu mertua, karena dianggap tidak pantas menjadi anak menantu. Selain itu, selama lima tahu berumah tangga dengan Haris Nandito, suaminya, Wulan belum memiliki anak. Wulan tahu diri. Dirinya berasal dari keluarga biasa, secara strata ekonomi jauh di bawah keluarga besar Berti Sonika – Wistara Janaloka. Walau berat hati, Wulan meninggalkan rumah megah sang mertua. Ketika hidup mandiri, Wulan menghadapi berbagai deraan lain yang tidak ringan. Kehadiran Jefri Sahima dalam kehidupan Wulan membuatnya semakin terbebani. Bukan hanya beban batin, tapi juga beban lain yang tak mudah dhindari. Tenyata Jefri anggota sebuah jaringan mafia yang selama ini ingin menghancurkan Perusahaan WIPA. Apalagi setelah Wulan tahu bahwa dirinya pewaris PT WIPA, makin berat masalah yang disangganya. Kehadiran Haris dan Berti yang memohon ampun atas kesalahan mereka di masa lalu, juga membuat pendirian Wulan goyah. Wulan ternyata belum bisa menghilangkan rasa cinta kepada Haris. Pada sisi lain, Wulan mulai jatuh hati kepada Jefri! Apa pun yang akan terjadi nantinya, Wulan mesti mengambil sebuah keputusan untuk kebahagiaan hidupnya kelak. Sebuah keputusan yang berat yang mesti diambil. Entah keputusan apa yang akan diambil Wulan, sama-sama ada risikonya.
Setelah bertemu kedua orang tuanya, Permana Brata memusatkan perhatiannya untuk penyembuhan Ki Sasmaya. Pendekar yang memiliki Pedang Kebenaran Sejati itu ingin berbakti kepada sang guru dengan cara mengupayakan kesembuhannya. Namun aral selalu saja ada tanpa terduga. Ada segerombolan perampok, penculik, sekaligus pemberontak ingin mengacau. Dunia persilatan akan dibuat carut malut oleh gerombolan Musto Ireng. Permana bertindak cepat untuk menyelamatkan dunia persilatan dari tangan-tangan kotor yang mencengkeram secara kejam.
Permana Brata yang lahir dari hubungan gelap antara Prabasari dengan Baron Smith, melanjutkan petualangannya. Setelah bertemu ibunda, kini ingin melacak keberadaan ayahanda. Berbekal berbagai ilmu dari Ki Sasmaya, jurus yang dikembangkan dari Sepuluh Syair Bumi Pertiwi, dan Pedang Kebenaran Sejati, Permana Brata menyingkirkan berbagai aral yang menghadang. Pahit getir di dunia persilatan, dijalani dengan tegar. Demi menemukan ayahanda, apa saja yang menjadi penghalang, diterjang dengan seluruh kemampuannya.
Suro Joyo melanjutkan pengembaraannya. Setelah berhasil menundukkan Putri Siluman Alas Waru, terjebak arus konflik di Kerajaan Karangtirta. Ada pemberontakan di kerajaan tersebut yang mesti diselesaikan. Suro Joyo juga mesti menghadapi bajak laut Selat Utara yang mengacaukan para pelintas di lautan luas. Ada lagi persoalan yang tidak bisa dihindari sang Pendekar Kembara Semesta, yakni permasalahan yang dihadapi Ayumanis di Penginapan Melati Jingga. Menyusul, ada tantangan dari Sanggariwut, pendekar hebat yang punya jurus andalan Jurus Ular Api Neraka.
Suro Joyo menolak keinginan ayahandanya untuk mewarisi tahta Kerajaan Krendobumi. Pendekar Rajah Cakra Geni itu lebih mementingkan siapa saja yang membutuhkan pertolongan. Dia mengembara ke segala penjuru jagat raya, sehingga mendapat julukan Pendekar Kembara Semesta. Dalam pengembaraannya, Suro terlibat perebutan Bunga Puspajingga, menghindari jerat Dewi Pemikat dan kesaktian Tombak Siung Sardula. Selain itu, Suro terseret kemelut para pendekar yang menginginkan harta karun Goa Barong. Demi menegakkan kebenaran dan keadilan di alam semesta, Suro harus berhadapan dengan Putri Siluman Alas Waru.
Sehebat apa pun Permana Brata, dia manusia. Manusia yang punya masa lalu gelap, kelam, dan kusam. Asal-usul Pendekar Budiman itu diwarnai noda hitam. Untuk mengubur dosa-dosa yang pernah dilakukan, Permana melakukan kebaikan terhadap siapa pun dalam pengembaraannya. Dengan bekal berbagai ilmu dan jurus Sepuluh Syair Bumi Pertiwi, serta Pedang Kebenaran Sejati, Permana melacak keberadaan kedua orang tuanya. Berbagai aral menghadang, dia terjang. Berbagai rintangan, dia hancurkan. Hanya satu prinsip Permana, basmi segala bentuk angkara murka di muka bumi. Musnahkan segala bentuk kejahatan demi tercipta kedamaian di jagat raya.
Alea Marisa Herlambang adalah gadis 19 tahun yang cantik dan cerdas. Gadis yang selalu patuh pada orang tua dan tidak pernah macam-macam. Setelah ayahnya terlibat kasus korupsi besar yang banyak merugikan negara, Alea bukan hanya ikut menjadi bahan bully semua orang di penjuru negeri, dia juga harus terpaksa berhenti dari kuliahnya dan kehilangan masa depan. Harta keluarganya dibekukan negara, ibunya mendadak struk karena suaminya yang tertangkap bersama wanita muda di sebuah hotel. Alea sudah tidak memiliki apa-apa dan tidak mungkin dia mengharap belas kasihan keluarga paman serta bibinya terus-menerus. Selain itu juga tidak ada yang mau memperkerjakan anak seorang koruptor, semua orang mencaci dan membencinya, bahkan memberi doa buruk untuk mereka. Untuk bisa mengurus ibunya Alea terpaksa menikah dengan seorang duda beranak satu yang anak laki-lakinya juga merupakan teman Alea di kampus. Apakah Alea akan tahan menjalani pernikahan dengan pria yang terlihat lebih pantas menjadi ayahnya? sementara anak laki-laki dari suaminya itu juga mencintai Alea sejak lama dan tidak pernah berhenti mengganggunya.
Usia terkadang tidak menjadi patokan buat seseorang bisa berbuat lebih dewasa. Banyak faktor yang memperngaruhinya, termasuk salah pergaulan. Khusus pembaca yang pernah mengalami gejolak hasrat cinta dan birahi masa remajanya, tentu kisahku ini akan sedikit memberikan kesan dan nostalgia terindah masa-masa remajanya. Sengaja disajikan utuh memotret masa beberapa tahun yang lalu, agar siapapun yang pernah merasakan bangku SMA dan dunia perkuliahan, bisa lebih menghayatinya. Namun demikian pada beberpa bab kisah ini hanya cocok buat dewasa karena mengandung adegan dewasa, mohon bijak dalam memilih bab-bab tertentu
Bianca tumbuh bersama seorang ketua mafia besar dan kejam bernama Emanuel Carlos! Bianca bisa hidup atas belas kasihan Emanuel pada saat itu, padahal seluruh anggota keluarganya dihabisi oleh Emanuel beserta Ayahnya. Akan tetapi Bianca ternyata tumbuh dengan baik dia menjelma menjadi sosok gadis yang sangat cantik dan menggemaskan. Semakin dewasa Bianca justru selalu protes pada Emanuel yang sangat acuh dan tidak pernah mengurusnya, padahal yang Bianca tau Emanuel adalah Papa kandungnya, tapi sikap keras Emanuel tidak pernah berubah walaupun Bianca terus protes dan berusaha merebut perhatian Emanuel. Seiring berjalannya waktu, Bianca justru merasakan perasaan yang tak biasa terhadap Emanuel, apalagi ketika Bianca mengetahui kenyataan pahit jika ternyata dirinya hanyalah seorang putri angkat, perasaan Bianca terhadap Emanuel semakin tidak dapat lagi ditahan. Meskipun Emanuel masih bersikap masa bodo terhadapnya namun Bianca kekeh menginginkan laki-laki bertubuh kekar, berwajah tampan yang biasa dia panggil Papa itu, untuk menjadi miliknya.
Nafas Dokter Mirza kian memburu saat aku mulai memainkan bagian bawah. Ya, aku sudah berhasil melepaskan rok sekalian dengan celana dalam yang juga berwarna hitam itu. Aku sedikit tak menyangka dengan bentuk vaginanya. Tembem dan dipenuhi bulu yang cukup lebat, meski tertata rapi. Seringkali aku berhasil membuat istriku orgasme dengan keahlihanku memainkan vaginanya. Semoga saja ini juga berhasil pada Dokter Mirza. Vagina ini basah sekali. Aku memainkan lidahku dengan hati-hati, mencari di mana letak klitorisnya. Karena bentuknya tadi, aku cukup kesulitan. Dan, ah. Aku berhasil. Ia mengerang saat kusentuh bagian itu. "Ahhhh..." Suara erangan yang cukup panjang. Ia mulai membekap kepalaku makin dalam. Parahnya, aku akan kesulitan bernafas dengan posisi seperti ini. Kalau ini kuhentikan atau mengubah posisi akan mengganggu kenikmatan yang Ia dapatkan. Maka pilihannya adalah segera selesaikan. Kupacu kecepatan lidahku dalam memainkan klitorisnya. Jilat ke atas, sapu ke bawah, lalu putar. Dan aku mulai memainkan jari-jariku untuk mengerjai vaginanya. Cara ini cukup efektif. Ia makin meronta, bukan mendesah lagi. "Mas Bayuu, oh,"
Cover by Lee Design warning 21+ !!! Adult Content2 Menikah di usia muda awalnya bukan pilihan bagi Alia tetapi ketika pacarnya mengutarakan niatnya kepada orang tuanya dan mereka menerima akhirnya Alia menjadi seorang istri di usia yang masih terlampau muda. Antara kuliah dan kewajiban seorang istri berusaha Alia jalanin walaupun harus menerima sikap mertuanya yang tidak menyukainya. Bahkan demi masa depan suaminya , Alia harus merelakan kehormatannya tergadaikan tetapi ketika seseorang yang tidak pernah di sangka Alia menolong dan membuat wanita itu merasakan sesuatu yang terlarang apa kah Alia harus melupakan perasaannya atau berbuat dosa dengan berkhianat dari suaminya. Ini hanya cerita fiktif. Bila ada kesamaan nama dan tempat, itu hanya kebetulan belaka. Tidak ada maksud menyinggung suku, agama dan ras mana pun, hanya imajinasi penulis