/0/16643/coverbig.jpg?v=f590d790133422e8790b48b1c5974542)
Suro Joyo menolak keinginan ayahandanya untuk mewarisi tahta Kerajaan Krendobumi. Pendekar Rajah Cakra Geni itu lebih mementingkan siapa saja yang membutuhkan pertolongan. Dia mengembara ke segala penjuru jagat raya, sehingga mendapat julukan Pendekar Kembara Semesta. Dalam pengembaraannya, Suro terlibat perebutan Bunga Puspajingga, menghindari jerat Dewi Pemikat dan kesaktian Tombak Siung Sardula. Selain itu, Suro terseret kemelut para pendekar yang menginginkan harta karun Goa Barong. Demi menegakkan kebenaran dan keadilan di alam semesta, Suro harus berhadapan dengan Putri Siluman Alas Waru.
Suro Joyo harus bisa mendapatkan Bunga Puspajingga. Kalau sampai tidak bisa memetik bunga itu, maka seumur hidupnya bakal merasa gagal berbakti kepada ibundanya. Juga merasa gagal berbakti kepada ayahanda. Sang ayahanda yang memerintahkan Suro Joyo untuk memetiknya.
"Aku akan memetik bunga itu walau harus menempuh resiko apa pun!" tekat membaja di dada sang pemuda sambil memandang puncak Gunung Sumbing. Gunung yang kokoh berdiri menantang para pendekar untuk menaklukkannya.
Sudah beredar kabar di kalangan pendekar bahwa Bunga Puspajingga yang ada di tebing Gunung Sumbing telah mekar. Bunga itu menjadi incaran para pendekar dari delapan penjuru mata angin karena memiliki banyak khasiat yang sangat hebat.
"Setelah kupetik, Bunga Puspajingga akan kubawa pulang ke Istana Kerajaan Krendobumi untuk menyembuhkan Ibunda Niken Sari," gumam Suro Joyo.
Pendekar tampan berpakaian serba putih itu berdiri di kaki gunung yang segera didaki. Sebelum mendaki, dirinya teringat tentang kedua kaki ibundanya yang lumpuh sejak Suro Joyo masih bayi sampai sekarang.
Kelumpuhan kaki Niken Sari akibat pukulan maut dari ajian seorang pendekar pilih tanding dari golongan hitam bernama Jati Kawangwamg. Saat Suro Joyo masih bayi, Krendobumi diserang Jati Kawangwang yang memiliki kesaktian luar biasa. Penyerang yang sangat hebat dan kebal segala macam senjata itu punya julukan Dewa Naga Baja.
Raja Agung Paramarta, ayahanda Suro Joyo kalah dalam pertarungan melawan Dewa Naga Baja. Agung Paramarta diselamatkan Maeso Item. Sedangkan Niken Sari yang mengalami kelumpuhan pada kedua kakinya diselamatkan Trinil Manis.
"Untung saja kedua orang tuaku diselamatkan para pendekar sakti itu," kenang Suro Joyo tentang Maeso Item dan Trinil Manis. Sepasang pendekar yang tidak akur, tapi sama-sama mewariskan segala macam ilmu yang mereka miliki kepada Suro Joyo. Sepasang pendekar yang sebenarnya tidak layak disebut 'sepasang' karena mereka tinggal di pesanggrahan yang berbeda.
Maeso Item, suka berpakaian compang-camping, suka bersikap nyleneh alias aneh, tinggal di Goa Setan, memiliki julukan Pengemis Gila Goa Setan. Trinil Manis suka bersyair, berpikiran agak miring, memiliki julukan Penyair Edan Pantai Selatan, tinggal di sebuah pesanggrahan yang berada di Pantai Selatan.
Atas didikan kedua gurunya yang aneh, tapi berilmu dahsyat, Suro Joyo berhasil merebut kembali tahta Krendobumi dari tangan Jati Kawangwang. Tahta kembali ke tangan Agung Paramarta. Sekilas terbayang di benak Suro Joyo saat dirinya bertarung hidup-mati melawan si Dewa Naga Baja.
Saat itu lawan Suro Joyo tidak mempan segala macam jenis senjata sakti. Jati Kawangwang juga kebal segala macam ajian. Untung saja Suro Joyo mengetahui titik lemah musuh bebuyutan Kerajaan Krendobumi. Trinil Manis yang memberitahu Suro Joyo tentang kelemahan ajian lawan. Kelemahan si Dewa Naga Baja terletak di kepala bagian belakang. Ada bagian seluas lobang mata uang yang bisa ditembus dengan senjata atau pun ajian.
Saat Jati Kawangwang sedikit lengah, Suro Joyo menggunakan ajian andalannya, ajian Rajah Cakra Geni. Ajian dari Maeso Item. Dari telapak tangan kanan memancar sinar berbentuk cakra. Pukulan dari telapak itu adalah pukulan Cakra Geni. Benda apa saja yang kena hantaman, bakal lebur.
Hantaman dari ajian Suro Joyo menyambar bagia belakang kepala Jati Kawangwang. Tubuh Jati Kawangwang tumbang. Tergeletak di tanah. Suro Joyo ingin mendekat uti memastikan lawannya masih hidup ataukah sudah binasa.
Namun di luar dugaan Suro Joyo, ada sosok pendekar wanita berpakaian serba ungu bergerak sangat cepat. Pendekar wanita itu menyambar tubuh Jati Kawangwang. Tubuh Dewa Naga Baja lenyap dalam kelebatan kilat si pendekar misterius.
"Kalau saja waktu itu aku tidak kelelahan, pasti kukejar," gumam Suro Joyo. "Aku masih penasaran. Jati Kawangwang sudah mati atau hanya terluka."
Suro Joyo sampai sekarang masih memikirkan tentang bagaimana keadaan Jati Kawangwang. Kalau dia Jati Kawangwang masih hidup, tentu masih merasa gusar. Jati Kawangwang tentu akan kembali ke Krendobumi untuk menguasai kerajaan itu kembali. Dia telah merasakan enaknya menjadi raja dengan cara merebut paksa tahta dari yang berhak. Rasa nikmat itu tentu ingin dirasakannya lagi.
"Seandainya Jati Kawangwang masih hidup dan ingin merebut kembali Krendobumi, aku sudah siap menghadapinya," kata Suro Joyo lirih, yang hanya bisa didengar diri sendiri. "Aku tidak akan membiarkan Krendobumi lepas dari tangan Ayahanda."
Sejenak Suro Joyo melupakan tentang Jati Kawangwang. Dia kembali memikirkan cara tercepat untuk memetik Bunga Puspajingga. Kedua kaki ibundanya yang lumpuh harus disembuhkan secepatnya. Suro Joyo merasa sangat kasihan kepada sang ibu. Niken Sari tidak bisa menggunakan kedua kakinya untuk berjalan selama belasan tahun. Ingin secepatnya Suro Joyo melihat ibunya bisa berjalan dan melakukan apa saja dengan kedua kakinya.
Masalahnya aku tidak tahu jalan paling dekat menuju puncak gunung. Suro Joyo berkata dalam hati. Ini ada jalan bercabang. Satu menuju ke arah tenggara. Satunya menuju arah timur laut. Di antara dua jalan ini, mana yang paling cepat menuju puncak Gunung Sumbing?
Di puncak kebingungannya untuk memilih satu dari dua jalan yang mesti dilalui, ada seorang pendekar berjalan dari arah barat berhenti di pertigaan. Tidak jauh dari tempat Suro Joyo berdiri. Pendekar yang juga muda usia itu bernama Garjitalung. Dia sosok pendekar muda berwajah tampan, tidak kalah rupawan dibandingkan Suro Joyo.
Garjitalung mengenakan pakaian warna coklat muda yang cerah. Kecerahan warna pakaian itu menambah penampilannya semakin menawan. Di pinggangnya terselip tombak pendek yang terbungkus sarung kulit binatang warna hitam. Di dunia persilatan, Garjitalung termasuk pendekar hebat yang diperhitungkan oleh sesama pendekar.
Ketika melihat Suro Joyo, Garjitalung terlihat kaget. Dia tidak menyangka ada orang yang telah lebih dulu sampai di pertigaan ini. Dahi Garjitalung berkerut, merasa asing dengan sosok pendekar muda berpakaian serba putih. Dia cermati sosok pemuda yang berdiri di depannya dari ujung rambut sampai ujung kaki.
Keduanya bertatapan sejenak. Suro Joyo ingin bertanya, tapi Garjitalung mendahului.
"Hei, apa kamu tahu jalan terdekat menuju Gunung Sumbing?" tanya Garjitalung. Nada suaranya kasar. Sikapnya kurang menyenangkan bagi orang lain yang belum mengenalnya.
"Hei, kamu ini mau Tanya, apa mau ngejek?" Suro Joyo balik bertanya. Rasa kesal terdengar dari nada suara.
"Monyet! Beraninya kamu balik bertanya! Apa kamu belum tahu siapa aku?"
"Lho, memangnya kamu ini siapa? Kamu merasa lebih hebat ya?"
"Brengsek! Jangan bersikap sembarangan! Bisa-bisa nyawamu melayang dengan sia-sia!"
"Kamu juga jangan bersikap sembarangan pada orang yang belum kamu kenal. Bisa-bisa kamu kehilangan muka!"
Gemeretak gigi Garjitalung. Sikap dan kata-kata Suro Joyo membuatnya naik pitam. Dia yang selama ini dihargai sesama pendekar, kini serasa diremehkan oleh orang yang menurutnya bukan orang yang terkenal di belantara persilatan.
"Bangsat! Diam atau kurobek mulutmu!" gertak Garjitalung untuk menekan mental lawan bicara.
"Lho..., apa hakmu kok pakai nyuruh-nyuruh diam!" Suro Joyo menjawab dengan enteng. Sikapnya tenang, tidak terbawa arus kemarahan lawan bicara yang sikapnya menjengkelkan.
"Agaknya mulutmu perlu dibungkam secara paksa, hiaaat!"
Garjitalung langsung melancarkan pukulan-pukulan mautnya untuk menghantam wajah Suro Joyo. Pukulan-pukulannya gencar dan cepat untuk membungkam orang yang menyinggung perasaannya.
***
Wulan Sariningtyas disia-siakan Berti Sonika, ibu mertua, karena dianggap tidak pantas menjadi anak menantu. Selain itu, selama lima tahu berumah tangga dengan Haris Nandito, suaminya, Wulan belum memiliki anak. Wulan tahu diri. Dirinya berasal dari keluarga biasa, secara strata ekonomi jauh di bawah keluarga besar Berti Sonika – Wistara Janaloka. Walau berat hati, Wulan meninggalkan rumah megah sang mertua. Ketika hidup mandiri, Wulan menghadapi berbagai deraan lain yang tidak ringan. Kehadiran Jefri Sahima dalam kehidupan Wulan membuatnya semakin terbebani. Bukan hanya beban batin, tapi juga beban lain yang tak mudah dhindari. Tenyata Jefri anggota sebuah jaringan mafia yang selama ini ingin menghancurkan Perusahaan WIPA. Apalagi setelah Wulan tahu bahwa dirinya pewaris PT WIPA, makin berat masalah yang disangganya. Kehadiran Haris dan Berti yang memohon ampun atas kesalahan mereka di masa lalu, juga membuat pendirian Wulan goyah. Wulan ternyata belum bisa menghilangkan rasa cinta kepada Haris. Pada sisi lain, Wulan mulai jatuh hati kepada Jefri! Apa pun yang akan terjadi nantinya, Wulan mesti mengambil sebuah keputusan untuk kebahagiaan hidupnya kelak. Sebuah keputusan yang berat yang mesti diambil. Entah keputusan apa yang akan diambil Wulan, sama-sama ada risikonya.
Setelah bertemu kedua orang tuanya, Permana Brata memusatkan perhatiannya untuk penyembuhan Ki Sasmaya. Pendekar yang memiliki Pedang Kebenaran Sejati itu ingin berbakti kepada sang guru dengan cara mengupayakan kesembuhannya. Namun aral selalu saja ada tanpa terduga. Ada segerombolan perampok, penculik, sekaligus pemberontak ingin mengacau. Dunia persilatan akan dibuat carut malut oleh gerombolan Musto Ireng. Permana bertindak cepat untuk menyelamatkan dunia persilatan dari tangan-tangan kotor yang mencengkeram secara kejam.
Permana Brata yang lahir dari hubungan gelap antara Prabasari dengan Baron Smith, melanjutkan petualangannya. Setelah bertemu ibunda, kini ingin melacak keberadaan ayahanda. Berbekal berbagai ilmu dari Ki Sasmaya, jurus yang dikembangkan dari Sepuluh Syair Bumi Pertiwi, dan Pedang Kebenaran Sejati, Permana Brata menyingkirkan berbagai aral yang menghadang. Pahit getir di dunia persilatan, dijalani dengan tegar. Demi menemukan ayahanda, apa saja yang menjadi penghalang, diterjang dengan seluruh kemampuannya.
Suro Joyo melanjutkan pengembaraannya. Setelah berhasil menundukkan Putri Siluman Alas Waru, terjebak arus konflik di Kerajaan Karangtirta. Ada pemberontakan di kerajaan tersebut yang mesti diselesaikan. Suro Joyo juga mesti menghadapi bajak laut Selat Utara yang mengacaukan para pelintas di lautan luas. Ada lagi persoalan yang tidak bisa dihindari sang Pendekar Kembara Semesta, yakni permasalahan yang dihadapi Ayumanis di Penginapan Melati Jingga. Menyusul, ada tantangan dari Sanggariwut, pendekar hebat yang punya jurus andalan Jurus Ular Api Neraka.
Sehebat apa pun Permana Brata, dia manusia. Manusia yang punya masa lalu gelap, kelam, dan kusam. Asal-usul Pendekar Budiman itu diwarnai noda hitam. Untuk mengubur dosa-dosa yang pernah dilakukan, Permana melakukan kebaikan terhadap siapa pun dalam pengembaraannya. Dengan bekal berbagai ilmu dan jurus Sepuluh Syair Bumi Pertiwi, serta Pedang Kebenaran Sejati, Permana melacak keberadaan kedua orang tuanya. Berbagai aral menghadang, dia terjang. Berbagai rintangan, dia hancurkan. Hanya satu prinsip Permana, basmi segala bentuk angkara murka di muka bumi. Musnahkan segala bentuk kejahatan demi tercipta kedamaian di jagat raya.
Basudo anak orang tak mampu. Masa kecilnya didera kemiskinan. Masa kecil dipenuhi rasa dendam pada orang-orang yang ada hubungan dekat dengannya. Rasa dendam ini terus ada dan sulit dipadamkan. Rasa dendam itu sebisa mungkin dia lampiaskan. Pelampiasan dendam dilakukan sejak masih remaja sampai dewasa. Untuk melampiaskan dendam kesumat yang membaja di hati, Basudo meniti jalan berliku dan penuh resiko. Namun resiko apa pun dia hadapi. Resiko sebesar apa pun, dia tempuh demi tercapai keinginannya. Keinginan untuk menghabisi orang-orang yang pernah menyengsarakan hidupnya. Demi memenuhi ambisi ekonomi dan kekuasaan dalam upaya balas dendamnya, Basudo melakukan apa saja. Tidak peduli yang dia lakukan membuat orang lain menderita. Basudo melakukan berbagai tindakan yang membuat orang lain binasa. Bukan hanya satu orang yang telah dibinasakan Basudo, tetapi lebih banyak lagi yang tak terhitung jumlahnya. Tindakan Basudo yang di luar batas mendapat tentangan dari banyak orang. Di antara yang menentang, ada yang berani menghadapi sang raja mafia dengan resiko kehilangan nyawa. Defian dan Telma yang berani menempuh jalan kematian demi memusnahkan Basudo dan gerombolannya!
BERISI ADEGAN HOT++ Seorang duda sekaligus seorang guru, demi menyalurkan hasratnya pak Bowo merayu murid-muridnya yang cantik dan menurutnya menggoda, untuk bisa menjadi budak seksual. Jangan lama-lama lagi. BACA SAMPAI SELESAI!!
Warning! Banyak adegan dewasa 21+++ Khusus untuk orang dewasa, bocil dilarang buka!
Pada hari pernikahannya, saudari Khloe berkomplot dengan pengantin prianya, menjebaknya atas kejahatan yang tidak dilakukannya. Dia dijatuhi hukuman tiga tahun penjara, di mana dia menanggung banyak penderitaan. Ketika Khloe akhirnya dibebaskan, saudarinya yang jahat menggunakan ibu mereka untuk memaksa Khloe melakukan hubungan tidak senonoh dengan seorang pria tua. Seperti sudah ditakdirkan, Khloe bertemu dengan Henrik, mafia gagah tetapi kejam yang berusaha mengubah jalan hidupnya. Meskipun Henrik berpenampilan dingin, dia sangat menyayangi Khloe. Dia membantunya menerima balasan dari para penyiksanya dan mencegahnya diintimidasi lagi.
Hari itu adalah hari yang besar bagi Camila. Dia sudah tidak sabar untuk menikah dengan suaminya yang tampan. Sayangnya, sang suami tidak menghadiri upacara tersebut. Dengan demikian, dia menjadi bahan tertawaan di mata para tamu. Dengan penuh kemarahan, dia pergi dan tidur dengan seorang pria asing malam itu. Dia pikir itu hanya cinta satu malam. Namun yang mengejutkannya, pria itu menolak untuk melepaskannya. Dia mencoba memenangkan hatinya, seolah-olah dia sangat mencintainya. Camila tidak tahu harus berbuat apa. Haruskah dia memberinya kesempatan? Atau mengabaikannya begitu saja?
Novel ini berisi kompilasi beberapa cerpen dewasa terdiri dari berbagai pengalaman percintaan penuh gairah dari beberapa karakter yang memiliki latar belakang profesi yan berbeda-beda serta berbagai kejadian yang dialami oleh masing-masing tokoh utama dimana para tokoh utama tersebut memiliki pengalaman bercinta dengan pasangannya yang bisa membikin para pembaca akan terhanyut. Berbagai konflik dan perseteruan juga kan tersaji dengan seru di setiap cerpen yang dimunculkan di beberapa adegan baik yang bersumber dari tokoh protagonis maupun antagonis diharapkan mampu menghibur para pembaca sekalian. Semua cerpen dewasa yang ada pada novel kompilasi cerpen dewasa ini sangat menarik untuk disimak dan diikuti jalan ceritanya sehingga menambah wawasan kehidupan percintaan diantara insan pecinta dan mungkin saja bisa diambil manfaatnya agar para pembaca bisa mengambil hikmah dari setiap kisah yan ada di dalam novel ini. Selamat membaca dan selamat menikmati!