/0/20400/coverbig.jpg?v=8334eb1ac0082d8c0b36d2f63aa0a8bc)
Marla terpilih sebagai pelayan di keluarga Austin. Tak pernah dia duga kalau itu hanya sebuah alasan dari Margaret untuk menjodohkannya dengan Richard cucu tertua keluarga tersebut. Sosok Richard Branson Austin adalah pria dingin dan jarang sekali berbicara. Berbanding terbalik dengan Ascar Branson Austin yang pembangkang dan pengacau. Dua sisi yang berbeda, akankah Marla bertahan di rumah tersebut atau malah melarikan diri dari perjodohan yang sudah direncanakan sejak pertama kali.
"Marla!" Teriak seorang gadis dengan surai panjang berlari tergesa menghampiri gadis bersurai gelombang. Gadis itu sedang asik bermain ayunan di taman belakang.
"Ada apa, Erika?" gadis itu berkata dengan kedua tangannya menggerakan ayunan. Tetap tidak mengubah posisinya, terus bermain dengan ayunan kesayangan.
"Ibu Anya menyuruh semua untuk berkumpul di aula. Gosip yang beredar, mereka salah satu keluarga terpandang dan sedang mencari seorang pelayan. Ayo, ikut. Ini kesempatan kita ...." Erika menarik lengan gadis itu yang bergeming dengan reaksi berlebihan gadis itu.
"Nggak akan menarik buatku. Kamu saja yang pergi. Aku akan tetap disini. Menghirup udara segar pagi ini dengan aroma mawar dan gardenia yang paling kusukai." Marla tetap menggeleng dan tidak menggerakkan kakinya untuk turun dari ayunan.
"Ayolah, Marla, aku tahu, kamu memang tak menginginkan ini, tapi setidaknya kamu temani aku. Aku sudah sangat bosan terkurung disini. Mungkin saja, hari ini adalah hari keberuntunganku." Erika sedikit menunjukan wajah menyedihkan, gadis itu tahu, teman kecil terbaiknya itu tidak akan pernah sanggup menolak wajahnya. Itu adalah senjata paling ampuh untuk menghadapi teman kecilnya itu.
"Hoh, astaga, Erika. Apa itu? Stop! Jangan tunjukan wajah seperti itu. Kamu yakin nggak sedang merayuku? Wajah menyebalkanmu itu benar-benar deh ...."
Habis sudah Marla kali ini, gadis itu tidak dapat berkutik lagi. Wajah iba dari teman kecilnya itu sudah membuat frustasi.
"Ayolah, aku mohon, Marla, ini 'kan nggak ada ruginya juga buat kamu ...." Erika masih dengan pendiriannya.
"Erika, Erika, seorang pelayan? Heem, sudahlah. Jangan membujuk lagi. Ini nggak akan berhasil. Pergilah. Kamu tahu sendiri, aku nggak perlu izin itu untuk keluar. Aku punya kartu akses bebas kemanapun aku pergi ...." Ya ... Gadis itu tidak akan terkecoh oleh godaan sang teman kecil. Dia bahkan tanpa ragu menunjukkan sederet gigi putihnya.
"Oke. Aku tahu. Kamu memang yang terbaik. Paling terdepan. Paling beruntung. Paling-paling di antara kami. Kamu punya keahlian melukis dan bermain piano. Ditambah lagi, ibu Anya menyayangimu seperti anak sendiri. Paket komplit. Sedangkan aku? Hem, apapun aku nggak bisa. Nggak punya keahlian sedikitpun!"
Marla hanya bisa menghela nafas panjang. Saat mendengar si cerewet Erika menggunakan semua alibi, gadis itu sudah tidak bisa berkata apapun.
"Dasar mulut cerewet. Bisa nggak sih, kamu nggak menggunakan alasan itu. Aku juga nggak tahu kenapa aku punya dua keahlian itu. Kamu kan tahu, sejak kecil aku jarang berbicara dan sering sekali menghindari kalian." Marla tidak ingin mengalah, meskipun pada akhirnya gadis itu akan memenangkan pertarungan mulut kali ini.
"Makanya temani aku, oke? Please! Kali ini saja, aku janji. Begini saja ... jatah cemilanku saat makan siang nanti akan menjadi milikmu. Bagaimana? Ayolah, temani aku, Marla," bujuk Erika tidak akan mengalah sampai disitu saja.
"Hah, baiklah cerewet, aku temani. Jangan gunakan sogokan kecil seperti itu. Nggak mempan tahu. Tapi, aku nggak mau ikut-ikutan seperti yang lain, oke? Aku akan bersembunyi sampai nggak terlihat, deal?" Erika mengangguk cepat. Rasanya dia sudah tidak tahan untuk melompat kegirangan.
"Yes. Kamu memang teman paling baik, Marla. Ayo, pergi!" Erika mengaitkan tangannya dan membawa Marla ke aula.
***
Di ruangan ibu Anya seorang wanita sedang berbicara dengan serius.
"Sepertinya aku tidak perlu menjelaskannya dengan detail, Anya. Nyonya hanya menginginkan gadis yang pernah datang pada pesta ulang tahun keluarga Christian bulan lalu. Dia, masih tinggal disini kan?" Sejak kedatangan wanita paruh baya itu, Anya tampak gelisah. Tidak biasanya wanita paruh baya itu akan secara khusus mendatangi tempatnya jika memang tidak ada suatu hal yang mendesak. Dan, apapun keinginannya, tetap harus terpenuhi.
Wanita itu berpenampilan sederhana, namun itu sama sekali tidak mengurangi sikap anggun dan tegasnya. Anya tidak memberikan jawaban apapun. Wanita itu hanya beranjak dari duduknya. Mencari dalam rak satu buah buku. Tepatnya satu album foto yang berisi semua penghuni di dalam kediamannya.
Lalu, meski sedikit ragu, Anya membawa album foto itu ke hadapan wanita tadi. Membukanya, mencarikan sesaat dan menunjuk salah satu foto yang terpasang di dalamnya.
"Apa benar, nyonya menginginkannya?" tidak ada jawaban lain selain anggukan cepat dari wanita itu. Satu helaan nafas lembut penuh kegelisahan mungkin saja terdengar oleh wanita itu.
"Kau tidak perlu mengkhawatirkan apapun, Anya, nyonya tidak akan melukainya!"
"Saya mengerti, kalau begitu, ada baiknya anda melihat anak yang lainnya. Mungkin saja, masih ada anak lain yang memenuhi kriteria nyonya!" bujuk Anya. Sambil mengajak wanita tadi keluar dari ruangan dan memperlihatkan anak-anak lainnya.
"Nyonya tidak menginginkan yang lainnya, hanya gadis itu. Dimana dia sekarang?" Anya membawa wanita itu ke aula. Semua anak tampak sudah berkumpul disana.
"Aku akan langsung membawanya. Aku harap, kau bisa segera mempersiapkan. Bila perlu, tidak perlu membawa apapun, disana dia tidak akan kekurangan apapun!" tegasnya tanpa memperdulikan saat Anya mengajaknya berkeliling untuk melihat anak lainnya.
"Anda yakin tidak ingin melihat yang lainnya Madam Ester? Anak kami, mungkin bisa sekali lagi Madam lihat," sepertinya Anya sangat berusaha keras membujuk Ester. Ester tidak menjawab. Tetap berkeliling dan mencari keberadaan sosok yang dicarinya.
Erika menarik Marla diam-diam di barisan paling belakang. Marla ingin sekali bersembunyi, tapi gandengan tangan dari Erika membuatnya mau tidak mau terseret dalam barisan. Ester masih terus berkeliling. Wajah Anya semakin gelisah saat mendekati barisan paling belakang. Ingin sekali Anya menarik lengan Ester agar kembali, namun sayangnya langkah kaki Ester lebih cepat dalam meneliti satu demi satu anak dalam barisan.
"Marla, lihat, dia kemari. Huwaa, semoga saja aku yang terpilih," bisik Erika antusias dan terdengar tidak sabar. Tangannya terus menyenggol sikut gadis itu yang tidak perduli sama sekali dengan tingkah heboh teman kecilnya.
"Um, iya, iya. Semoga kamu yang terpilih. Kamu kan tahu, alasanku tetap berada disini!" sahut Marla, suara seperti bergumam dan hampir tidak terdengar.
Kini Ester tepat berdiri di hadapan dua gadis itu. Erika makin gugup dan jantungnya sudah berdebar tidak karuan. Tangannya dingin saat bersentuhan dengan Marla.
"Kau!" ucap Ester semakin membuat Erika gugup.
"Sa-saya, Nyonya?" sahut Erika, raut wajahnya terlihat sangat bahagia.
"O-oo," Ester menggelengkan kepalanya, "Bukan kau, tapi, kau!" sekali lagi Ester berkata, namun kali ini Ester menunjuk dengan jari telunjuknya tepat ke arah Marla.
"Ahh, ba-baiklah," sorot kecewa dari Erika terlihat jelas, namun itu hanya sesaat, Erika melupakan itu saat teman kecilnya yang terpilih.
"Ma-Marla, hei, Marla!" suara Erika setengah berbisik sambil menyenggol lengan gadis di sebelahnya. Marla, tidak peduli. Dia merasa ada di dalam dunianya sendiri. Tidak sadar dengan kehadiran Ester dihadapannya.
Anya kehabisan kata. Hanya bisa menghela nafas panjang sebelum tangannya menarik tangan gadis itu.
"Aw!" pekik gadis bersurai gelombang lembut itu saat tangannya tiba-tiba ditarik paksa keluar barisan.
"Bu, ada apa? Sakit sekali!"
"Bodoh! Kenapa kau ada disana?" hardik Anya setengah berbisik.
Ester mengikutinya dari belakang.
"Lho? Memangnya ada apa, Bu?" Sekali lagi Marla yang sedang bingung mengajukan pertanyaan.
"Seperti yang aku bilang tadi, Anya. Bantulah dia bersiap-siap atau aku akan membawanya sekarang?" Ester berkata dengan nada cukup penuh penekanan. Membuat Marla memutar otaknya. Mengingat kembali ucapan Erika beberapa saat lalu dan akhirnya ....
"Nggak, Bu? Ini nggak benar kan, Bu? Apa maksud ucapannya?" Wajah pias sudah tergambar dalam wajah gadis bersurai gelombang tadi.
Anya tidak menjawab apapun. Perkataan Ester sama halnya dengan perintah nyonya. Anya tidak dapat menolak atau membuat permohonan pengganti. Marla sepenuhnya sadar dengan situasinya. Wanita tadi adalah orang yang diceritakan Erika. Dia yang sedang mencari seorang pelayan dan Marla-lah yang terpilih.
"En-nggak, Bu, aku nggak mau pergi. Aku nggak menginginkan tempat ini, Bu. Aku mau tetap disini, Bu. Aku mohon, jangan aku yang pergi, Bu," pinta gadis bersurai gelombang tadi, kali ini dia sudah benar-benar memohon. Cairan bening itu mulai membasahi wajah cantiknya.
"Sayang maafkan Ibu, Ibu pun tidak menginginkan hal ini. Hanya saja, Ibu tidak bisa menolaknya. Ini permintaan langsung dari nyonya, Sayang. Ibu harap kamu mengerti!"
"Nggak, Bu. Aku mohon, a-atau, Erika saja, Bu. Biarkan Erika yang pergi. Aku benar-benar nggak mau pergi dari sini, Bu!" Tangis gadis bersurai gelombang itu pecah, baginya, ini adalah hal terburuk yang dialaminya.
"Maafkan Ibu, sayang, Ibu tidak bisa!" Anya mencoba menenangkan gadis itu, mencoba menyakinkan semua akan baik-baik saja.
"Nggak, Bu. Erika saja, Bu. Dia benar-benar menginginkan ini. Aku mohon, Bu. Biarkan Erika saja yang pergi, Bu!"
"Maafkan saya, Nyonya Anya, Madam Ester sudah menunggu, mohon segera!" Suara seorang laki-laki memecah pembicaraan mereka.
"Ba-baik, mohon ditunggu sebentar saja!" Anya berbalik dan memohon, "Ayo, Marla, Ibu mohon, jangan membantah lagi!" Anya setengah menyeret paksa tubuh gadis itu karena dia tetap menolak pergi.
"Ibu ... tolong, Bu ... aku nggak mau pergi, Bu. Aku mohon, Bu," tangis Marla mengiba. Gadis bersurai gelombang tadi bahkan rela bersujud. Tetapi, saat ini, ibu yang selalu saja bersikap baik padanya mengabaikan. Saat Anya sudah berada di kamar gadis itu. Dia mengeluarkan tas dan memasukan baju gadis itu dengan cepat.
Erika yang tidak tega ikut masuk ke kamar. Itu adalah kamar mereka berdua.
"Bu, biarkan Erika saja yang pergi, Bu. Jangan Marla. Ibu kan tahu, Marla tidak menginginkan ini. Marla tetap harus disini, Bu!" Gadis yang bernama Erika itu ikut bersujud di samping tubuh Marla. Menyaksikan teman terbaiknya menangis bukan hal yang menyenangkan. Selama ini, Marla jarang sekali menangis, bahkan hampir tidak pernah menangis meski anak lain dulu merundungnya.
"Diam, Erika! Kamu tidak berhak ikut campur. Kalau kamu ingin tetap bersujud. Bersujudlah sampai makan malam. Kamu tidak perlu makan siang. Ini adalah hukuman karena kamu mencoba membantah, Ibu!"
Marla hampir tidak percaya. Ibunya yang terkenal baik hati sampai tega menghukum. Itu bukan kebiasaannya, ibu tidak akan pernah menghukum anaknya, meskipun anaknya melakukan kesalahan yang besar. Ibu pasti akan memaafkan dan memberikan hukuman yang tidak akan membuat orang lain terlukai.
"Ayo, Marla. Jangan biarkan Madam menunggumu. Ini tidak akan baik untukmu!"
Marla kembali diseret paksa sampai depan gerbang. Dilihatnya, wanita yang bernama Ester tadi menunggunya tak sabar. Saat melihat gadis itu diseret oleh Anya, Ester segera memerintahkan salah seorang pengawal untuk menjemputnya.
"Tu-tunggu dulu, aku mohon, izinkan aku memeluk Ibuku, aku mohon!" pinta gadis bersurai gelombang tadi. Tangisannya tetap tidak berhenti saat dia memeluk Ibu yang selama ini sudah membesarkannya sebagai anak sendiri.
"Maafkan Ibu, sayang, maafkan, Ibu ...."
Lirih perkataan Anya menyayat kalbu Marla. Pertama kalinya dia berpisah dengan orang yang amat berarti. Dia, wanita itu, wanita yang sudah membesarkannya dengan penuh kasih sayang, kini, gadis itu harus melepaskannya.
"Aku nggak mau pergi, Bu, aku mohon ...."
Tangisannya sudah tak bisa terbendung. Ester hanya bisa memandangi sambil menyuruh dua orang pengawal menyeret paksa Marla yang tetap menolak masuk mobil. Meski berat, Anya tetap harus melepaskan gadis itu pergi.
***
Annabella dan Logan Mason, dua dunia yang berbeda mencoba menyatukan rasa. Annabella merasa Logan bisa membantu kesulitan keluarganya, jadi dia meminta Logan untuk menikah kontrak dengannya. Dua orang yang saling membutuhkan, namun terjebak dengan perasaan yang tidak bisa mereka hindari.
Maya terpaksa menerima pernikahan kontrak dengan Reno demi menyelamatkan ibunya yang terbaring di rumah sakit. Sedangkan, Reno mengambil kesempatan memanfaatkan ketidak berdayaan Maya untuk mengikatnya dalam kontrak pernikahan. Reno sediri, mengikat Maya agar dirinya bisa mendapatkan warisan dan menguatkan posisinya di perusahaan.
WARNING RATE 21+. Please be awise to reading!! Santi adalah anak yang dibesarkan dipanti asuhan. Tanpa dia tahu ibu dan ayahnya seperti apa. Dia bekerja sebagai kasir di sebuah toko kue. Tiba-tiba saat dia bekerja dituduh mencuri uang kasir dan dia dipecat. Demi bertahan hidup dan memenuhi kebutuhan sehari-hari yang mendesak, akhirnya Santi menerima tawaran menjadi sebuah perawat di rumah besar untuk merawat orang tua yang lumpuh. Dan terpaksa Santi harus menerima pekerjaan itu. Namun, pekerjaan itu mengharuskannya dia selalu standby 24 jam. Hingga, saat Santi membantu Bimo seorang Casanova yang sedang mabuk yang juga merupakan anak dari tuan yang dia rawat. Sosok Bimo yang selalu tak pernah puas dengan orientasi seks-nya, akhirnya menemukan pelabuhan terakhirnya pada Santi. Bagaimana kisah Santi dan Bimo selanjutnya, baca no skip ya!!
Mature Content. Please be awise to reading!!! Bocil harap menyingkir, please!! Menikah selama 2 tahun dan belum di karuniai anak menjadikan Nay sedikit sedih. Apalagi suaminya jarang sekali menyentuh. Dia mencari kesibukan dengan berjualan kue dan takdir mempertemukan Nay dengan Alex.
Bertemu mantan yang masih sendiri, pengusaha sukses dan tampan siapa yang tidak mau? Mungkin hanya seorang Dominique Anastasia yang menolaknya. Dominique Anastasia terus berlari menghindari mantannya, mantan yang dianggap seperti "setan", posesif dan diktator yang membuat bulu kuduk Dominique berdiri dan merinding. Haiden Aramgyan pengusaha sukses, single, tampan juga kaya sangat mudah baginya membuat hati wanita berpaling dan bertekuk lutut, namun dia hanya terobsesi pada seorang Dominique. Dominique yang menurutnya manis dan imut.
Santi gadis kampung yang mengadu nasib di kota demi membiayai adik-adiknya. Nasibnya bertemu dengan Bima seorang CEO dan Casanova yang senang berganti teman mesra, namun Bima luluh oleh kepolosan Santi yang gadis kampung.
Bagi Sella Wisara, pernikahan terasa seperti sangkar yang penuh duri. Setelah menikah, dia dengan bodoh menjalani kebidupan yang menyedihkan selama enam tahun. Suatu hari, Wildan Bramantio, suaminya yang keras hati, berkata kepadanya, "Aisha akan kembali, kamu harus pindah besok." "Ayo, bercerailah," jawab Sella. Dia pergi tanpa meneteskan air mata atau mencoba melunakkan hati Wildan. Beberapa hari setelah perceraian itu, mereka bertemu lagi dan Sella sudah berada di pelukan pria lain. Darah Wildan mendidih saat melihat mantan isrtinya tersenyum begitu ceria. "Kenapa kamu begitu tidak sabar untuk melemparkan dirimu ke dalam pelukan pria lain?" tanyanya dengan jijik. "Kamu pikir kamu siapa untuk mempertanyakan keputusanku? Aku yang memutuskan hidupku, menjauhlah dariku!" Sella menoleh untuk melihat pria di sebelahnya, dan matanya dipenuhi dengan kelembutan. Wildan langsung kehilangan masuk akal.
Kayla Herdian kembali ke masa lalu dan terlahir kembali. Sebelumnya, dia ditipu oleh suaminya yang tidak setia, dituduh secara salah oleh seorang wanita simpanan, dan ditindas oleh mertuanya, yang membuat keluarganya bangkrut dan membuatnya menggila! Pada akhirnya, saat hamil sembilan bulan, dia meninggal dalam kecelakaan mobil, sementara pelakunya menjalani hidup bahagia. Kini, terlahir kembali, Kayla bertekad untuk membalas dendam, berharap semua musuhnya masuk neraka! Dia menyingkirkan pria yang tidak setia dan wanita simpanannya, membangun kembali kejayaan keluarganya sendirian, membawa Keluarga Herdian ke puncak dunia bisnis. Namun, dia tidak menyangka bahwa pria yang dingin dan tidak terjangkau di kehidupan sebelumnya akan mengambil inisiatif untuk merayunya: "Kayla, aku tidak punya kesempatan di pernikahan pertamamu, sekarang giliranku di pernikahan kedua, oke?"
Novel Ena-Ena 21+ ini berisi kumpulan cerpen romantis terdiri dari berbagai pengalaman romantis dari berbagai latar belakang profesi yang ada seperti CEO, Janda, Duda, Mertua, Menantu, Satpam, Tentara, Dokter, Pengusaha dan lain-lain. Semua cerpen romantis yang ada pada novel ini sangat menarik untuk disimak dan diikuti jalan ceritanya sehingga bisa sangat memuaskan fantasi para pembacanya. Selamat membaca dan selamat menikmati!
Binar Mentari menikah dengan Barra Atmadja,pria yang sangat berkuasa, namun hidupnya tidak bahagia karena suaminya selalu memandang rendah dirinya. Tiga tahun bersama membuat Binar meninggalkan suaminya dan bercerai darinya karena keberadaannya tak pernah dianggap dan dihina dihadapan semua orang. Binar memilih diam dan pergi. Enam tahun kemudian, Binar kembali ke tanah air dengan dua anak kembar yang cerdas dan menggemaskan, sekarang dia telah menjadi dokter yang berbakat dan terkenal dan banyak pria hebat yang jatuh cinta padanya! Mantan suaminya, Barra, sekarang menyesal dan ingin kembali pada pelukannya. Akankah Binar memaafkan sang mantan? "Mami, Papi memintamu kembali? Apakah Mami masih mencintainya?"
Bayangkan menikah dengan seorang pria miskin hanya untuk menemukan bahwa dia sebenarnya tidak miskin. Katherine tidak tahu apa lagi yang harus diharapkan setelah dia dicampakkan oleh pacarnya dan akhirnya menikah dengan pria lain keesokan harinya. Suami barunya, Esteban, tampan, tetapi dia pikir kehidupan pernikahannya tidak akan istimewa sama sekali. Dia terkejut ketika menemukan bahwa Esteban sebenarnya sangat lengket. Anehnya, semua masalah yang dia temui setelah pernikahan diselesaikan dengan mudah. Ada sesuatu yang ganjil. Dengan curiga, dia bertanya padanya, "Esteban, apa yang terjadi di sini?" Sambil mengangkat bahu, Esteban menjawab, "Mungkin keberuntungan ada di pihakmu." Katherine memercayainya. Bagaimanapun, dia telah menikah dengan Esteban ketika pria itu akan bangkrut. Dialah pencari nafkah keluarga mereka. Mereka terus menjalani hidup sebagai pasangan sederhana. Jadi, tidak ada yang mempersiapkan Katherine untuk kejutan yang dia terima suatu hari. Suaminya yang sederhana tidak sesederhana itu! Dia tidak percaya bahwa dia benar-benar menikah dengan seorang miliarder. Sementara dia masih memproses keterkejutannya, Esteban memeluknya dan tersenyum. "Bukankah itu bagus?" Kathrine punya sejuta pertanyaan untuknya.