/0/20059/coverbig.jpg?v=a58f84c1025c37cb00e883f7ff5219a6)
Alina terbangun dengan keringat dingin membasahi tubuhnya. Jantungnya berdebar kencang, napasnya tersengal-sengal. Mimpi itu lagi. Mimpi yang selalu menghantuinya setiap malam
Alina terbangun dengan keringat dingin membasahi tubuhnya. Jantungnya berdebar kencang, napasnya tersengal-sengal. Mimpi itu lagi. Mimpi yang selalu menghantuinya setiap malam.
Dalam mimpi itu, ia berada di sebuah hutan lebat. Pohon-pohon menjulang tinggi, menaungi tanah yang dipenuhi lumut hijau. Udara dingin menusuk tulang, dan bau tanah basah memenuhi hidungnya. Ia berjalan sendirian, langkahnya berat, seolah terbebani oleh sesuatu yang tak terlihat.
Tiba-tiba, ia mendengar suara gemerisik dedaunan. Ia menoleh, jantungnya berdebar semakin kencang. Di sana, berdiri seorang pria. Wajahnya samar-samar, terhalang oleh bayangan pepohonan. Namun, matanya, mata berwarna biru kehijauan yang dalam, menatapnya dengan intensitas yang tak terlupakan.
"Siapa kamu?" tanya Alina, suaranya gemetar.
Pria itu tidak menjawab. Ia hanya tersenyum, senyum yang hangat dan menenangkan. Alina merasa terhipnotis oleh tatapannya. Ia ingin mendekat, namun tubuhnya terasa lumpuh.
"Aku... aku harus pergi," ucap Alina, suaranya nyaris tak terdengar.
Pria itu kembali tersenyum, lalu menghilang dalam kegelapan. Alina terbangun, tubuhnya masih bergetar. Ia mengusap keringat dingin di dahinya, mencoba memahami mimpi itu.
Mimpi itu selalu sama, namun terasa semakin nyata setiap malam. Alina mulai merasa terusik. Siapa pria itu? Mengapa ia selalu muncul dalam mimpinya? Dan apa arti dari hutan lebat itu?
Alina mencoba melupakan mimpi itu. Ia bangkit dari tempat tidur, berjalan ke jendela. Bulan purnama bersinar terang di langit, menerangi kota yang tertidur lelap. Alina menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan dirinya.
"Hanya mimpi," gumamnya. "Hanya mimpi."
Namun, di lubuk hatinya, Alina tahu bahwa mimpi itu bukanlah sekadar mimpi. Itu adalah kilasan masa lalu, sebuah misteri yang menanti untuk dipecahkan.
Alina menghabiskan hari-hari berikutnya dalam kebingungan. Mimpi itu terus menghantuinya, wajah pria bermata biru itu terukir jelas di benaknya. Ia mencoba mencari jawaban dalam buku-buku sejarah, menelusuri arsip keluarga, bahkan berkonsultasi dengan seorang ahli mimpi. Namun, semua usahanya sia-sia.
"Mungkin itu hanya mimpi biasa, Alina," kata Profesor Davis, ahli mimpi yang ia konsultasikan. "Terkadang, mimpi kita mencerminkan keinginan terpendam atau ketakutan yang kita miliki."
Alina menggeleng. Ia yakin mimpi itu bukan sekadar khayalan. Ada sesuatu yang lebih dalam, lebih nyata, yang tersembunyi di balik mimpi itu.
Suatu malam, saat ia sedang membaca buku tentang sejarah keluarga, matanya tertuju pada sebuah foto lama. Foto itu memperlihatkan seorang wanita muda dengan rambut cokelat panjang dan mata biru kehijauan yang dalam. Alina tersentak. Wanita itu memiliki mata yang sama dengan pria dalam mimpinya.
"Ini dia," gumam Alina, jantungnya berdebar kencang. "Ini dia kunci dari misteri ini."
Ia mempelajari foto itu dengan saksama. Di bagian bawah foto tertulis nama wanita itu: "Amelia, 1890." Alina langsung mencari informasi tentang Amelia di internet. Ia menemukan sebuah catatan singkat tentang Amelia, seorang pelukis yang meninggal muda dalam sebuah kecelakaan kereta api.
Alina merasa terdorong untuk menelusuri jejak Amelia lebih jauh. Ia memutuskan untuk mengunjungi kota tempat Amelia tinggal, sebuah kota kecil di daerah pedesaan. Ia berharap menemukan petunjuk tentang Amelia dan mungkin, tentang pria bermata biru dalam mimpinya.
Perjalanan Alina ke kota kecil bernama Willow Creek terasa seperti perjalanan ke masa lalu. Rumah-rumah tua dengan arsitektur Victorian menghiasi jalanan berbatu. Udara dipenuhi dengan aroma bunga dan tanah basah, mengingatkan Alina pada hutan dalam mimpinya.
Alina mengunjungi museum lokal, berharap menemukan informasi lebih lanjut tentang Amelia. Namun, museum itu hanya menyimpan sedikit koleksi tentang Amelia, hanya beberapa lukisan dan sebuah catatan singkat tentang hidupnya.
"Amelia adalah pelukis yang berbakat," kata kurator museum, seorang wanita tua dengan rambut putih dan mata tajam. "Ia memiliki bakat luar biasa dalam menangkap keindahan alam. Sayangnya, ia meninggal muda dalam sebuah kecelakaan kereta api."
Alina mencoba menggali lebih dalam tentang kecelakaan itu, namun wanita tua itu hanya menggeleng. "Tidak ada yang tahu pasti penyebab kecelakaan itu," katanya. "Kereta api itu tiba-tiba tergelincir dan jatuh ke jurang. Amelia dan beberapa penumpang lainnya tewas seketika."
Alina meninggalkan museum dengan perasaan hampa. Ia merasa semakin dekat dengan Amelia, namun juga semakin jauh dari jawaban atas misteri mimpinya.
Ia memutuskan untuk menjelajahi kota itu lebih jauh. Ia berjalan menyusuri jalanan berbatu, melewati rumah-rumah tua yang tampak kosong dan sunyi. Kota ini terasa seperti kota hantu, dipenuhi dengan kenangan yang terlupakan.
Tiba-tiba, Alina terhenti di depan sebuah rumah tua yang tampak berbeda dari yang lain. Rumah itu memiliki taman yang terawat dengan baik, dipenuhi bunga-bunga berwarna cerah. Di depan pintu, tergantung sebuah papan nama dengan tulisan "The Blue Eye Inn."
Alina merasakan jantungnya berdebar kencang. Mata biru. The Blue Eye Inn. Apakah ada hubungannya dengan pria dalam mimpinya?
Alina mengetuk pintu The Blue Eye Inn dengan tangan gemetar. Pintu terbuka, memperlihatkan seorang wanita tua dengan rambut putih dan mata biru yang tajam. Wanita itu tersenyum hangat, mempersilakan Alina masuk.
"Selamat datang di The Blue Eye Inn," kata wanita itu. "Nama saya Mrs. Hawthorne. Apa yang bisa saya bantu?"
Alina tertegun. Mata biru itu. Sama seperti mata pria dalam mimpinya. Ia merasa seperti telah menemukan jawaban atas misteri yang selama ini menghantuinya.
"Saya... saya mencari informasi tentang Amelia," kata Alina. "Amelia, pelukis yang meninggal dalam kecelakaan kereta api."
Mrs. Hawthorne mengangguk. "Ya, saya tahu Amelia. Ia adalah teman baik saya. Kami sering melukis bersama di taman ini."
Alina terkesima. Ia tidak menyangka akan menemukan seseorang yang mengenal Amelia. Ia bertanya tentang Amelia, tentang kecelakaan kereta api, dan tentang pria bermata biru dalam mimpinya.
Mrs. Hawthorne mendengarkan dengan saksama. Setelah Alina selesai berbicara, Mrs. Hawthorne mengajak Alina ke ruang belakang, sebuah ruangan kecil dengan meja dan cermin besar di dinding.
"Amelia sering melukis di sini," kata Mrs. Hawthorne. "Ia suka melihat bayangannya di cermin. Ia percaya bahwa bayangannya menyimpan rahasia tentang masa depannya."
Alina mendekat ke cermin, menatap bayangannya sendiri. Tiba-tiba, ia merasakan hawa dingin yang menusuk tulang. Ia menoleh ke belakang, namun Mrs. Hawthorne telah menghilang.
Alina melihat ke cermin lagi. Di sana, berdiri seorang pria. Wajahnya samar-samar, namun matanya, mata berwarna biru kehijauan yang dalam, menatapnya dengan intensitas yang tak terlupakan.
"Kau..." bisik Alina, suaranya gemetar. "Kau pria dalam mimpiku."
Pria itu tersenyum, senyum yang hangat dan menenangkan. Alina merasa terhipnotis oleh tatapannya. Ia ingin mendekat, namun tubuhnya terasa lumpuh.
"Aku... aku harus pergi," ucap Alina, suaranya nyaris tak terdengar.
Pria itu kembali tersenyum, lalu menghilang dari cermin. Alina terhuyung mundur, tubuhnya gemetar. Ia merasa seperti telah terjebak dalam sebuah mimpi yang tak berujung.
Bersambung...
Naya melangkah cepat, sepatu hak tingginya mengetuk lantai marmer koridor kantor dengan irama yang familiar. Wajahnya, yang biasanya memancarkan keceriaan, tampak lesu. Matanya, yang biasanya berbinar dengan semangat, kini redup, seolah memendam beban berat.
Maya, dengan rambut cokelat keemasan yang selalu terurai bebas dan mata biru yang berbinar-binar, adalah personifikasi semangat muda. Ia selalu bersemangat dalam menjalani hidup, tak pernah lelah mengejar mimpi-mimpi yang terukir di hatinya. Hari itu, seperti biasa, ia menjelajahi lorong-lorong toko barang bekas di pusat kota, mencari harta karun tersembunyi yang mungkin terlupakan oleh pemiliknya sebelumnya.
Kota Harapan, dengan rumah-rumah tua bercat warna pastel dan taman-taman kecil yang tertata rapi, terasa begitu damai dan menenangkan. Aria, seorang fotografer muda yang baru saja pindah ke sini, berharap dapat menemukan inspirasi baru untuk karyanya. Ia ingin menangkap keindahan sederhana yang terpancar dari setiap sudut kota ini.
Mentari mulai meredup, menorehkan warna jingga dan ungu di cakrawala. Ombak berdesir lembut di bibir pantai, menyapa kaki-kaki telanjang Laras yang menapaki pasir lembut. Angin sepoi-sepoi membawa aroma laut asin yang familiar, membangkitkan kenangan masa kecil yang terlupakan. Laras memejamkan mata, menghirup dalam-dalam udara segar yang terasa begitu menenangkan.
Safira adalah seorang gadis berusia 25 tahun yang tinggal di kota kecil bernama Springville. Ia memiliki wajah yang cantik dengan mata berwarna cokelat yang memikat dan senyum yang ramah. Safira dikenal sebagai sosok yang selalu siap membantu orang lain tanpa pamrih.
Maya, yang kini menjalani kehidupan setelah kehilangan Rama, merasa hampa dan kesepian. Namun, suatu hari, dia menerima sebuah kejutan tak terduga yang mengubah hidupnya. Dia bertemu dengan seseorang yang secara kebetulan memiliki banyak kesamaan dengan Rama, baik dalam penampilan maupun kepribadian.
Keseruan tiada banding. Banyak kejutan yang bisa jadi belum pernah ditemukan dalam cerita lain sebelumnya.
Setelah diusir dari rumahnya, Helen mengetahui bahwa dia bukanlah putri kandung keluarganya. Rumor mengatakan bahwa keluarga kandungnya yang miskin lebih menyukai anak laki-laki dan mereka berencana mengambil keuntungan dari kepulangannya. Tanpa diduga, ayah kandungnya adalah seorang miliarder, yang melambungkannya menjadi kaya raya dan menjadikannya anggota keluarga yang paling disayangi. Sementara mereka mengantisipasi kejatuhannya, Helen diam-diam memegang paten desain bernilai miliaran. Dipuji karena kecemerlangannya, dia diundang menjadi mentor di kelompok astronomi nasional, menarik minat para pelamar kaya, menarik perhatian sosok misterius, dan naik ke status legendaris.
Sayup-sayup terdengar suara bu ustadzah, aku terkaget bu ustazah langsung membuka gamisnya terlihat beha dan cd hitam yang ia kenakan.. Aku benar-benar terpana seorang ustazah membuka gamisnya dihadapanku, aku tak bisa berkata-kata, kemudian beliau membuka kaitan behanya lepas lah gundukan gunung kemabr yang kira-kira ku taksir berukuran 36B nan indah.. Meski sudah menyusui anak tetap saja kencang dan tidak kendur gunung kemabar ustazah. Ketika ustadzah ingin membuka celana dalam yg ia gunakan….. Hari smakin hari aku semakin mengagumi sosok ustadzah ika.. Entah apa yang merasuki jiwaku, ustadzah ika semakin terlihat cantik dan menarik. Sering aku berhayal membayangkan tubuh molek dibalik gamis panjang hijab syar'i nan lebar ustadzah ika. Terkadang itu slalu mengganggu tidur malamku. Disaat aku tertidur…..
Pada hari pernikahannya, saudari Khloe berkomplot dengan pengantin prianya, menjebaknya atas kejahatan yang tidak dilakukannya. Dia dijatuhi hukuman tiga tahun penjara, di mana dia menanggung banyak penderitaan. Ketika Khloe akhirnya dibebaskan, saudarinya yang jahat menggunakan ibu mereka untuk memaksa Khloe melakukan hubungan tidak senonoh dengan seorang pria tua. Seperti sudah ditakdirkan, Khloe bertemu dengan Henrik, mafia gagah tetapi kejam yang berusaha mengubah jalan hidupnya. Meskipun Henrik berpenampilan dingin, dia sangat menyayangi Khloe. Dia membantunya menerima balasan dari para penyiksanya dan mencegahnya diintimidasi lagi.
Bima tak menyangka, jika seorang gadis yang dia tolong seminggu yang lalu akan menjadi ibu susu anaknya. Dia adalah Jenny, seorang gadis cantik berusia 18 tahun yang masih berstatus pelajar SMA. Namun, entah alasan apa, diumurnya yang masih terbilang muda gadis itu sudah mengandung. Apa mungkin karena salah pergaulan? Atau justru memang dia sudah menikah? Semakin lama dilihat, Jenny semakin mempesona. Hingga membuat seorang Bima Pradipta yang masih berstatus suami orang menyukainya. Dan suatu ketika, sebuah insiden kesalahan pahaman membuat keduanya terpaksa menikah dan menjadikan Jenny istri kedua Bima. Akankah pernikahan mereka abadi? Lalu, bagaimana dengan Soraya istri pertama Bima? Akankah dia terima dengan pernikahan kedua Bima? Atau justru dialah yang terlengserkan? “Setelah kita menikah, aku akan menceraikan Raya, Jen!” Bima~ “Kalau begitu Bapak jahat namanya, masa Bu Raya diceraikan? Aku dan dia sama-sama perempuan, aku nggak mau menyakitinya!” Jenny~
Dua tahun setelah pernikahannya, Selina kehilangan kesadaran dalam genangan darahnya sendiri selama persalinan yang sulit. Dia lupa bahwa mantan suaminya sebenarnya akan menikahi orang lain hari itu. "Ayo kita bercerai, tapi bayinya tetap bersamaku." Kata-katanya sebelum perceraian mereka diselesaikan masih melekat di kepalanya. Pria itu tidak ada untuknya, tetapi menginginkan hak asuh penuh atas anak mereka. Selina lebih baik mati daripada melihat anaknya memanggil orang lain ibu. Akibatnya, dia menyerah di meja operasi dengan dua bayi tersisa di perutnya. Namun, itu bukan akhir baginya .... Bertahun-tahun kemudian, takdir menyebabkan mereka bertemu lagi. Raditia adalah pria yang berubah kali ini. Dia ingin mendapatkannya untuk dirinya sendiri meskipun Selina sudah menjadi ibu dari dua anak. Ketika Raditia tahu tentang pernikahan Selina, dia menyerbu ke tempat tersebut dan membuat keributan. "Raditia, aku sudah mati sekali sebelumnya, jadi aku tidak keberatan mati lagi. Tapi kali ini, aku ingin kita mati bersama," teriaknya, memelototinya dengan tatapan terluka di matanya. Selina mengira pria itu tidak mencintainya dan senang bahwa dia akhirnya keluar dari hidupnya. Akan tetapi, yang tidak dia ketahui adalah bahwa berita kematiannya yang tak terduga telah menghancurkan hati Raditia. Untuk waktu yang lama, pria itu menangis sendirian karena rasa sakit dan penderitaan dan selalu berharap bisa membalikkan waktu atau melihat wajah cantiknya sekali lagi. Drama yang datang kemudian menjadi terlalu berat bagi Selina. Hidupnya dipenuhi dengan liku-liku. Segera, dia terpecah antara kembali dengan mantan suaminya atau melanjutkan hidupnya. Apa yang akan dia pilih?