anpa menunggu aula hotel itu sepi, aku pun diperbolehkan kembali ke kamar pengantin yang telah disiapkan di suite room hotel ini. Aku diantar oleh i
as ranjang. Kau persiapkan mentalmu, adik baru!" kekeh
ri yang senang pada istri baru suaminya. Mungkin Mbak Lastri adalah s
an Mbak Farah. Terserah
akan sangat menyakitkan sekali nanti,"
nya lagi. Dia membicarakan soal rasa sakit? Aku s
aat ini. Aku bahkan tidak tahu bagaimana cara Mas Salman membagi dirinya untuk tidur dengan ketiga istrinya sebelum menikahi aku. Dan sekarang ditambah aku sebagai istri keempat, akankah kami akan bergiliran setiap malam dari
u juga," kataku sok kuat. Yang sebenarnya aku cuma ingin dia tau aku bukan orang
empas b*kongku untukn duduk di ra
Kamu sekarang sudah menjadi istrinya. Pintar- pintarlah menyenangkan hati suamimu. Kamu harus telaten m
aku sama sekali tak ingin bersaing dengan mereka. Kalau memang mereka ingin menyingkirkanku pun
anak lagi, Lil," k
la tau,"
mm .
n membuat aku dan ibu s
sudah kesal karena menunggu sedari tadi," kata Ibu
ya meng
pamit Ibu sopan pada pria yang ki
n berbasa- basi sedikit pun dengan Ibuku. Meskipun aku hanya istri penebus hutang da
iasan emas yang banyak melekat di tubuhku. Khususnya gelang. Ada sangat banyak gelang di tangan kiri dan kananku yang bahkan semuanya sulit dibuka karena memiliki sebagai kancing
kapan telah duduk di atas ranjang pengantin. Aku
a. Dan akhirnya aku tak punya pilihan lain. Dengan mengangkat gaun
bil menepuk ranjang di s
olaknya. Dan lagi pula bukankah itu bagus? Semakin cepat dia tahu kalau aku sudah tidak suci lagi, akan semakin cepat dia menceraikanku. Menjadi
entak kaget saat tang
sipu malu saat menyadari kalau aku hanya salah paham padanya. Aku kira dia akan melakukan sesuatu yang intim seperti menciumku
nya sambil menepuk kembali ran
apa yang dia suruhkan. Aku mengangkat kakiku ke atas ranjan
ali ini dia melakukan itu sambil menyingkap bagian bawah gaunku untuk membuka gelang kaki yang berada di pergelangan mata kak
tidak menyadari itu. Dan sepertinya perhatiannya tidak teralih ke sa
n menyuruhku berbalik membelakanginya. Sepertinya d
na!" peri
lakanginya. Aku bisa merasakan tangannya membuka pe
erkejut karena Mas Salman membuka restleting gaun pengantinku yang berada di belakang. Tapi aku tak mau berpiki
ku salah. Mas Salman m
ku dan menjelajah setiap inchi kulit tubuhku seiring s
lakukan ini pertama dan mungkin terakhir kalinya kini rasanya akan sirna. Aku tak
hku, masih dengan punggung terbuka, dia menatap wajahku. Aku hampir tak
ih sebelum ciumannya berlabu
tu terlepas sempurna dari tubuhku. Tak akan lam
*
ambu