/0/17131/coverbig.jpg?v=d9551c0e72c2b34078a7fc4e4fb0b942)
Dev dan Lila terjebak dalam suatu hubungan yang rumit dan tidak pernah bisa mereka pertanggungjawabkan. Ke manakah kebersamaan itu akan berakhir?
-Lila Winter
"Ruby!"
Kuharap dia tahu apa yang dilakukannya.
"Ruby, keluarlah. Ayo, kita pergi ke pemakaman."
Sepertinya, hanya dia yang keras kepala di hari kematian ibunya sendiri.
"Bibi Esther akan bersedih jika melihat kau tidak ada di sana."
Hening.
Walau dia ada di dalam, bersembunyi dan tidak bersuara, Ruby Marion akan terus keras kepala hingga akhir.
"Okay. Jika itu maumu. Nanti, lain kali, jangan pernah mengeluh menyesal di depanku."
Tetap tidak ada jawaban apa pun. Aku sudah membujuk lebih dari lima belas menit di sini. Itu melelahkan bagiku. Cukup sudah!
"Bagaimana?" Ray-adikku-di seberang terdengar gelisah.
Dia saja tidak berhasil membujuk, apalagi aku.
"Sama saja."
Helaan napas Ray terasa nyaring di telingaku. Kuputuskan untuk mengakhiri panggilan telepon secara sepihak. Bergegas masuk ke mobilku yang berada tepat di pekarangan rumah Ruby.
Gerimis mulai turun tipis-tipis. Bahkan langit pun ikut bersedih atas kepergian bibi Esther.
Kuinjak rem mendadak, ketika rasanya nyaris menabrak sesuatu di depan. Oh, bukan! Maksudku, ada yang tiba-tiba melompat cari mati ke depan mobilku.
Kulihat seorang pria berada dalam posisi setengah berbaring di depan mobil. Mengenakan kaus lengan pendek hitam, topi dan masker yang berwarna sama.
Segera berjongkok tubuhku untuk memeriksa keadaannya. "Hei, kenapa kau-"
Dia mengeluarkan pistol. Tiba-tiba sekali. Mengarah padaku, walau secara tidak langsung. Dia bukan sedang menodongkan mulut benda itu ke kepalaku, tapi mengarahkannya lurus padaku.
"Ikuti saja perintahku, Nona. Cepat masuk kembali ke mobilmu dan biarkan aku ikut bersamamu."
Walau terasa seperti ada sesuatu yang menghantam diriku, membuat kedua kakiku lemas ketika melihat senjata apinya yang mengarah padaku, aku berusaha tampak kuat. Seperti yang biasa kulakukan. Meski situasinya jauh berbeda.
Aku sudah berada di balik kemudi. Menunggu arahan si pria bermasker, sambil berusaha mencari bantuan lewat cara apa pun yang memungkinkan dan yang bisa kupikirkan.
"Jalan."
Meski kedua tanganku gemetar, namun aku berhasil melajukan kembali mobilku dengan baik di jalanan.
Aku tidak berusaha meliriknya sama sekali. Hanya fokus menatap ke depan. Sementara pikiranku berkelana. Menyadari seketika bahwa aku tidak bisa menghadiri pemakaman bibi Esther. Sudah terlambat lebih dari tiga puluh menit!
Gila. Aku duduk bersebelahan dengan pria bersenjata api. Bagaimana jika dia menembakku, lalu membuangku ke sungai untuk menghilangkan-
"Belok kanan, Nona."
Akh, hampir saja aku mati terkejut karena mendengar suaranya. Bahkan kemudian, aku tidak sadar entah sejak kapan dia sudah melepaskan maskernya.
Jalan yang dilalui mulai berbatu kerikil dengan lubang kecil di sana sini.
Suara tembakan yang datang tiba-tiba dari belakang, membuatku tersentak. Hampir saja aku menghentikan mobilku, jika pria itu tidak mengingatkanku.
"Fokus! Tetap menyetir, Nona. Jangan hiraukan apa pun. Antarkan saja aku ke tempat tujuanku, agar kau bisa selamat!"
Bentakannya malah membuatku tenang. Setidaknya, aku aman karena dia memiliki senjata api di tangannya. Asal bukan pistol mainan saja.
Jalanan semakin menguji nyali. Turunan yang licin dan berbatu. Bahkan yang tadinya gerimis tipis-tipis, kini sudah berganti menjadi hujan deras.
"Aku akan pindah ke belakang. Terus fokus mengemudi, tanpa menghiraukan apa pun. Terobos saja sungai dangkal berbatu di depan sana. Jangan berhenti sebelum aku memerintahkan itu padamu. Kau mengerti?"
"Ya." Berusaha untuk hanya fokus pada jalanan yang nyaris rusak, aku tahu saat dia sedang memerintahkan ini dan itu padaku, pria ini terus saja mengarahkan senjatanya padaku. Meski tidak menodongkan pistolnya tepat ke pelipisku.
Jantungku berdebar begitu hebat. Lebih mengejutkan, ketika sungai dangkal berbatu sudah terlihat di depan mata.
"Jangan ragu," bisiknya. Tiba-tiba suaranya sudah ada di belakangku. Dekat telingaku. "Terobos saja. Kau pasti bisa, Nona."
Sekarang, kupikir dia memilihku karena jenis mobil yang kukendarai. Entah, jika itu salah duga.
Mobil off-road dengan jenis SUV milikku ini memang tangguh di segala medan.
Suara tembakan yang terdengar dekat, membuatku refleks menoleh ke belakang. Napasku tercekat di tenggorokan. Rasanya sesak.
Seperti di film-film action, kulihat dia mengeluarkan setengah tubuhnya keluar jendela.
Tidak sayang nyawa. Itu definisi yang tepat untuk mendeskripsikan pria ini. Padahal, jalanan berbatu seperti yang terlihat, memungkinkan tubuhnya terlempar keluar jendela.
Kembali fokus. Kau di kehidupan nyata! Bukan syuting film.
Dan, yap! Aku berhasil melewati sungai dangkal dengan dasar yang tidak menentu itu. Kelegaan berubah menjadi sesuatu yang menyenangkan.
Aneh, memang. Bagaimana bisa? Padahal, ini bukan situasi di mana aku sedang-
"Masuk ke semak-semak itu." Suaranya terdengar lagi di belakangku.
Setelah sungai, sekarang semak belukar? Dia ini buronan yang butuh tempat persembunyian atau bagaimana?
"Lebih dalam sedikit lagi."
Aku memajukan mobilku perlahan. Kesayanganku ini memang luar biasa. Sampai-sampai dia menjadi saranaku untuk menyusul bibi Esther secepat mungkin.
"Matikan mobilnya."
Segera kulakukan. Aku berusaha bernapas dengan teratur. Keadaan di sekitarku gelap karena tertutup semak-semak yang tingginya nyaris dua meter. Bahkan suara hujan deras yang menimpa mobil terasa menakutkan berkombinasi dengan gesekan daun-daun memanjang runcing.
Rasa-rasanya, aku lebih takut ditemukan oleh binatang buas daripada para penjahat bersenjata.
Padahal, apa bedanya mereka bagi orang biasa tanpa senjata untuk melawan?
"Kita akan diam di sini selama beberapa jam."
Apa? Sontak aku menoleh melihatnya yang sudah kembali ke kursi di sampingku.
"Kalau begitu, aku harus menghubungi keluargaku."
Dia menatapku. Baru kusadari seberapa mengerikan wajahnya itu. Dia pria dewasa yang mungkin lebih cocok kupanggil 'paman' daripada 'kakak' meski wajahnya tidak setua paman Eddie atau paman Winter-ku yang lain.
Mengerikan dalam artian, dia seperti tidak memiliki gurat lembut sedikit pun, di wajah seriusnya itu. Kesannya seolah dia ini pembunuh berdarah dingin.
Ah, ya. Aku memang pecinta film dengan genre action dan thriller.
Dia masih belum menjawabku. Hanya terus mengamatiku. Lalu diam-diam mengumpat.
Hei, aku bisa mendengar umpatanmu, Bro!
"Kirim pesan, kalau begitu."
Okay. Aku mengerti bahasamu. Kau melarangku menelepon.
"Setelah selesai, berikan ponselmu padaku. Kita tidak boleh terlacak oleh siapa pun."
Aku menolak. Jelas saja. "Mereka tidak mengenalku. Bagaimana mungkin-"
"Menurut saja, Nona. Nyawamu itu berharga."
Sejak dulu, aku pihak yang tidak senang berdebat. Sehingga kuturuti saja. Jariku mulai mengetik, sementara dia terus memperhatikan layar ponselku. Aku tahu itu.
Kusodorkan begitu saja ponselku padanya. Tentu saja setelah menonaktifkannya.
Hujan deras seperti menulikan telingaku. Aku tidak mendengar apa pun, tapi pria di sampingku ini memintaku tidak bersuara. Dia sedang coba mendengar sesuatu setelah memperingatiku lewat isyarat jari telunjuk di bibir.
Apa kami ketahuan?
Aku menunggu sambil menahan napas. Semakin tidak karuan saat dia mendekatkan wajahnya padaku. Oh, bukan. Bibirnya ke telingaku.
"Tidak aman. Kita harus pergi. Kau harus menyetir lagi. Lebih fokus lagi. Apa kau siap?"
Memangnya aku punya pilihan? Aku mengangguk. Tanganku siap menyalakan mesin mobil, ketika tangannya mencegah gerakanku.
"Jangan sekarang. Tunggu aba-aba dariku."
"Oh, okay." Aku melihat tangannya yang bertumpu di tanganku. Kokoh dengan urat yang menonjol di sana sini. Tubuhnya tidak terlalu terbentuk, tapi kupikir, lebih bagus dari paman-pamanku yang seperti raksasa.
Hujan kian mulai berangsur reda. Namun pria ini jelas sudah tidak berniat sama sekali untuk memberiku aba-aba.
Gawat bila aku tertidur di sini. Kulirik si pria yang terus sibuk melakukan pengintaian lewat pendengarannya.
Dengan gerak perlahan dan hati-hati, dia membuka pintu, lalu keluar dari mobil dengan hati-hati.
Dia mau ke mana?
Tatapan kami tiba-tiba saling bertemu. Dia memberi isyarat dengan tangannya, agar aku tetap di tempatku.
Hujan sudah benar-benar reda, tapi pria itu belum juga kembali. Suara semak-semak sesekali terdengar bergesekan karena tertiup angin.
Apa dia menipuku? Mungkin saja saat ini dia sudah berlari menjauhi tempat ini. Menyelamatkan dirinya sendiri.
Merasa perlu bertindak dan menyaksikan sendiri, aku turun dari mobilku dengan perlahan, hati-hati. Semak-semak ini sedikit luas dengan keadaan yang mencekam.
Hanya bermodal nekat, aku coba keluar dari semak. Baru satu langkah, tanganku sudah ditarik dari arah samping. Aku sungguh berharap bahwa yang melakukannya itu, pria tadi.
Memang dia. Namun ekspresinya siap membunuhku saat ini.
Punggungku terasa sakit menabrak badan mobil sisi samping. Dia mendorongku cukup kuat. Berengsek memang! Ini sakit sekali.
"Kau mau mengantarkan nyawamu dengan suka rela?" Dia bertanya setengah berbisik, setengah menggeram. Marah, matanya berkilat penuh kemarahan.
"Kau terlalu lama meninggalkanku seorang diri tanpa kepastian. Aku ragu kau akan kembali. Jadi, aku memeriksa keadaan untuk memastikan."
Mina Allerick hanya ingin satu hal, kebebasan. Tapi dunia seakan tidak pernah memberinya ruang untuk bernapas. Ketika hidupnya dipenuhi ancaman dari Gabin-pria kejam yang seharusnya dia sebut keluarga-Mina melarikan diri dengan segenggam keberanian. Namun, pelarian malah membawanya ke dalam kegelapan yang lebih kelam. Sebuah rumah. Tiga mayat. Dan dua pria berbahaya dari keluarga Blackwood yang tak mengenal belas kasih. Red Blackwood, pria dengan tatapan sedingin malam, menawarkan perlindungan dengan satu syarat-Mina harus menjadi miliknya. Sementara itu, King Blackwood, kakaknya Red, menuntut sesuatu yang lebih mengejutkan-sebuah ikatan rahasia yang menjerat Mina sangat jauh dan dalam. Di tengah rahasia, kekuasaan, dan rasa takut, Mina terperangkap dalam permainan mereka. Dia tidak tahu siapa yang bisa dipercaya, siapa yang sebenarnya melindunginya, dan siapa yang memanipulasi nasibnya. "Kau cuma punya dua pilihan, Mina. Mencintaiku atau mati di tanganku." Tapi, apa jadinya jika hati Mina memilih melawan? Atau justru menyerah pada salah satu Blackwood?
Sudah dua tahun Ava dan Jay menjalani pernikahan karena perjodohan. Selagi Jay terus main gila di luar, Ava pun melakukan hal yang sama dengan mengencani seorang pria kaya dari keluarga terpandang. Meski sangat ingin, Ava dan Jay tidak bisa bercerai. Sehingga Jay akhirnya mengizinkan Ava menjalani pernikahan bersama pria lain yang dirahasiakan. Bisakah rahasia itu terus terjaga? Sampai kapan?
Setelah mengganti identitasnya menjadi Olivia Finley, ZeeZee kini berperan penuh untuk dirinya sendiri dalam kehidupan barunya. Hubungan Rhys dan Olivia terus diguncang jarak yang terbentang di antara mereka. Ketidakpercayaan, cemburu, dan masa lalu, memicu hal itu terus membuat hubungan keduanya semakin goyah. Di saat hidup sendirian jauh dari Rhys, Olivia tidak pernah sadar dirinya menjadi incaran seorang penguasa kota tempat dia menetap saat ini. Tanpa sebab dan alasan yang jelas. Brady White. Pria tampan mengerikan itu, memberikan banyak kejutan kecil dan penderitaan untuk Olivia agar dia bersedia bertekuk lutut dihadapannya. ZeeZee si gadis pemberontak tidak akan pernah tunduk pada siapa pun! Apa itu tetap berlaku pada Olivia Finley?
ZeeZee Dimitri Oxley salah satu anggota keluarga termuda di keluarga Oxley, cenderung menyukai pemberontakan pada setiap hal yang dianggapnya tidak menyenangkan. Hidupnya berubah ketika si Kakak tertua—Rhys—menjadikannya sebagai target bagai boneka yang mudah dikendalikan. Walau awalnya dipenuhi oleh rasa takut pada Kakaknya yang bengis dan tak berperasaan, lama kelamaan ZeeZee tak lagi ketakutan saat bersama Rhys. Masalah muncul ketika ZeeZee menemukan sebuah rahasia besar tentang dirinya yang bukan Anak kandung dari keluarga Oxley dan rasa tertariknya yang makin kuat pada Rhys. Bisakah cinta ZeeZee dan Rhys bersatu?
Setelah diusir dari rumahnya, Helen mengetahui bahwa dia bukanlah putri kandung keluarganya. Rumor mengatakan bahwa keluarga kandungnya yang miskin lebih menyukai anak laki-laki dan mereka berencana mengambil keuntungan dari kepulangannya. Tanpa diduga, ayah kandungnya adalah seorang miliarder, yang melambungkannya menjadi kaya raya dan menjadikannya anggota keluarga yang paling disayangi. Sementara mereka mengantisipasi kejatuhannya, Helen diam-diam memegang paten desain bernilai miliaran. Dipuji karena kecemerlangannya, dia diundang menjadi mentor di kelompok astronomi nasional, menarik minat para pelamar kaya, menarik perhatian sosok misterius, dan naik ke status legendaris.
Apa yang terlintas di benak kalian saat mendengar kata CEO? Angkuh? Kejam? Arogan? Mohammad Hanif As-Siddiq berbeda! Menjadi seorang CEO di perusahaan besar seperti INANTA group tak lantas membuat dia menjadi tipikal CEO yang seperti itu. Dia agamis dan rajin beribadah. Pertemuan putrinya Aisyah dengan Ummi Aida, seorang office girl di tempat dimana dia bekerja, membuat pertunangannya dengan Soraya putri pemilik perusahaan terancam batal karena Aisyah menyukai Ummi yang mirip dengan almarhum ibunya. Dengan siapa hati Hanif akan berlabuh?
Cerita ini hanya fiksi belaka. Karanga author Semata. Dan yang paling penting, BUKAN UNTUK ANAK2. HANYA UNTUK DEWASA. Cinta memang tak pandang tempat. Itulah yang sedang Clara rasakan. Ia jatuh cinta dengan ayah tirinya sendiri bernama Mark. Mark adalah bule yang ibunya kenal saat ibunya sedang dinas ke Amerika. Dan sekarang, ia justru ingin merebut Mark dari ibunya. Gila? Tentu saja. Anak mana yang mau merebut suami ibunya sendiri. Tapi itulah yang sekarang ia lakukan. Seperti gayung bersambut, Niat Clara yang ingin mendekati Mark diterima baik oleh pria tersebut, apalagi Clara juga bisa memuaskan urusan ranjang Mark. Akankah Clara berhasil menjadikan Mark kekasihnya? Atau lebih dari itu?
Arga adalah seorang dokter muda yang menikahi istrinya yang juga merupakan seorang dokter. Mereka berdua sudah berpacaran sejak masih mahasiswa kedokteran dan akhirnya menikah dan bekerja di rumah sakit yang sama. Namun, tiba-tiba Arga mulai merasa jenuh dan bosan dengan istrinya yang sudah lama dikenalnya. Ketika berhubungan badan, dia seperti merasa tidak ada rasa dan tidak bisa memuaskan istrinya itu. Di saat Arga merasa frustrasi, dia tiba-tiba menemukan rangsangan yang bisa membangkitkan gairahnya, yaitu dengan tukar pasangan. Yang menjadi masalahnya, apakah istrinya, yang merupakan seorang dokter, wanita terpandang, dan memiliki harga diri yang tinggi, mau melakukan kegiatan itu?
Dua tahun setelah pernikahannya, Selina kehilangan kesadaran dalam genangan darahnya sendiri selama persalinan yang sulit. Dia lupa bahwa mantan suaminya sebenarnya akan menikahi orang lain hari itu. "Ayo kita bercerai, tapi bayinya tetap bersamaku." Kata-katanya sebelum perceraian mereka diselesaikan masih melekat di kepalanya. Pria itu tidak ada untuknya, tetapi menginginkan hak asuh penuh atas anak mereka. Selina lebih baik mati daripada melihat anaknya memanggil orang lain ibu. Akibatnya, dia menyerah di meja operasi dengan dua bayi tersisa di perutnya. Namun, itu bukan akhir baginya .... Bertahun-tahun kemudian, takdir menyebabkan mereka bertemu lagi. Raditia adalah pria yang berubah kali ini. Dia ingin mendapatkannya untuk dirinya sendiri meskipun Selina sudah menjadi ibu dari dua anak. Ketika Raditia tahu tentang pernikahan Selina, dia menyerbu ke tempat tersebut dan membuat keributan. "Raditia, aku sudah mati sekali sebelumnya, jadi aku tidak keberatan mati lagi. Tapi kali ini, aku ingin kita mati bersama," teriaknya, memelototinya dengan tatapan terluka di matanya. Selina mengira pria itu tidak mencintainya dan senang bahwa dia akhirnya keluar dari hidupnya. Akan tetapi, yang tidak dia ketahui adalah bahwa berita kematiannya yang tak terduga telah menghancurkan hati Raditia. Untuk waktu yang lama, pria itu menangis sendirian karena rasa sakit dan penderitaan dan selalu berharap bisa membalikkan waktu atau melihat wajah cantiknya sekali lagi. Drama yang datang kemudian menjadi terlalu berat bagi Selina. Hidupnya dipenuhi dengan liku-liku. Segera, dia terpecah antara kembali dengan mantan suaminya atau melanjutkan hidupnya. Apa yang akan dia pilih?
Setelah dua tahun menikah, Sophia akhirnya hamil. Dipenuhi harapan dan kegembiraan, dia terkejut ketika Nathan meminta cerai. Selama upaya pembunuhan yang gagal, Sophia mendapati dirinya terbaring di genangan darah, dengan putus asa menelepon Nathan untuk meminta suaminya itu menyelamatkannya dan bayinya. Namun, panggilannya tidak dijawab. Hancur oleh pengkhianatan Nathan, dia pergi ke luar negeri. Waktu berlalu, dan Sophia akan menikah untuk kedua kalinya. Nathan muncul dengan panik dan berlutut. "Beraninya kamu menikah dengan orang lain setelah melahirkan anakku?"