ksiku. Verza tak kena aku sama sekali. Dia mulai
" tanya Rikma seba
ab? Yang jelas Kakak jangan bo
ita ke dapur,
ja dia khawatir tentang calon keponakannya. Dituruti kemauan sang kakak tersebut mesti badan agak dipaksa sedi
kita ke sini?
i diambil dan didekatkan pada Satya hingga bisa terlihat isi di dalam tempat itu. "Nasi sudah ha
laki-laki,"
a. Kali ini tempat penyimpan beras. Beberapa takar beras diambil dan ditaruh pada wadah yang sudah dibawa ters
rannya seberapa. Aku tak pern
au cuci bersih bera
p, K
ir hingga tenggelam. Tangan yang lembut itu mengaduk air yang menenggelamkan beras. Warna air yang memutih dibuang seiringan den
akak telah datang dengan membawa teko berisikan air hangat. "Satya, ingat baik-baik ukurannya. kau sesuaikan
g dilakukan Satya ta
dalaman yang diperlukan. Penutup rice cooker diturunkan hingga tertutu
masak apa?"
sa apa?" tany
jawab Satya de
lama jadi gadis.
*
arkan tak lagi seperti di kala sedang berada di puncak. Di saat itulah rombongan nenek kembali ke rumah Satya.
" Rikma keheranan dengan apa
ga dia betah menjadi a
iar aku bantu,
," tolak s
Sambil duduk mereka membongkar barang tersebut. Satu per satu hasil dari bela
a mana?" t
ti baju," j
t. Seharusnya kita pulang l
satu kain diteliti, semua hampir seukuran dengan tubuhnya saat masih belum hamil. T
ju. Jika memakai baju bekasmu
dia pun berdiri sambil menawarkan diri, "Bu, yang
," kata s
Tapak demi tapak mengiring kepergiannya hingga menuju ke sebuah k
ang terketuk didengar Satya. Sambil menge
u," jaw
untuk mempersilhkan sang
ditaruh di atas kasur. Dia pun semakin dekat dengan Satya. Dari arah melakan kepala gadis tersebut dielus. Kepala diraba hingga bi
akku Verza. Ayo cepat katakan padaku atau
kuat lagi menahan itu. Bedak yang ada di tangan dilemparkan ke wajah sang bibi. Butiran bedak melayang mengenai w
ntuk meloloskan diri. Dia pun membalikan tubuh dan mengintari sang b
Lepaskan Satya
sendiri. Hal tersebut membuat dia merasa sedikit ber
enaga. Satya pun mundur dan terjatuh ke lantai. Alena melompat dan langsung menerjang tubuh perempuan muda tersebut. "Kataka
hanya segitu saja penderitaan yang harus dirasakan. Beberapa kali tamparan dari adik ibunya mendarat ke wajah yang lembut itu. Wajah yang menjadi p