itu mendengus kesal ketika harus bertatapan dengan Papanya. Areya menarik na
gi. Namun kenyataannya, Areya sendiri yang takut dengan reaksi Mamanya jika tahu tentang kejadian itu.
bisa membayangkan
anmu lho... Ada ikan asin juga nih." Sapa Mama Areya
ia." Ucap Areya sambil tersen
yo duduk. Mama sudah ambilkan nasi
koran ditangannya seolah tak terjadi apa-apa. Sedangkan Areya, hanya bisa menelan kekesalannya
dirimu di kamar dengan musik kerasmu it
awab singkat, "Hobby." Lalu dia
itu merasa anaknya sudah berubah, setela
i, "Apa karena ... Mama dan Papa tidak b
r. Setelah batuknya reda, dia menjawab dengan tenang, "Sudahlah, Ma. Bukannya sudah biasa, kalian tidak datang ke acara ti-dak penting-ku?
ana? Kamu juga... belum menghabiskan makananmu
ara di sini mendadak kotor, dan membuat
Saya
enti sejenak. Ingin rasanya, dia melempar vas bunga yang berada di samping tempatnya berdiri.
bisa membuat perasaannya sedikit membaik. Gadis itu terus berjalan sembari sesekali memejamkan mata. Sampai di mana, hidungnya men
ng. Kemudian tanpa menunggu lama, seorang pelayan datang mengh
tanpa gula. Untuk gadis Unfortunate." Pelayan itu mengern
gera datang." Pelayan itu mengucapkannya dengan le
hari. Dia Tampan, sekaligus mengerikan. Seakan membunuh tiga pemuda brengsek itu hanya seperti membunuh lalat. Bah
Pria bernama Pasha itu. Walaupun tak menampik, Pria itulah yang menyelamatkan d
ah datang." Seru seseorang menya
ketika kepalanya sudah sepenuhnya mendongak
di sini dan bisa memegang kopi p
dengannya. Tetapi sekarang, dia sudah berada te
milikku. Jadi, aku juga bisa melayani pelanggan cantik seper
hanya mengaku-ngaku bahwa tempat ini milikmu. Hish! yang benar saja!" Areya tiba-tiba
kemudian mengangkat tangan seperti memberikan kod
, "Apakah ada yang b
buka mulut, Areya sudah lebih dulu mengangkat tangan. "Stop! aku tidak perlu penjelasan. Lagi pula, itu ju
mbah yakin, bahwa, hidupnya mema
ebuah kemalangan katamu?" Pasha be
Baiklah, aku akan pergi. Aku sudah tidak berselera lagi, terima kasih." Areya seger
ngingat kejadian kemarin lagi. Dia juga takut berurusan dengan polisi, karena berhubungan dengan seora
pi, dia sama sekali tidak mau menengok, siapapun yang memanggilnya.
a Areya terasa a
makin cepet. Capek nih, ngejar Lu!" Omel seseorang di belakang A
aku kira
gue." Ucap lina sambil mengibaskan rambut panjangnya. Areya h
n. Tuhan juga belum puas. Lalu menghadiahkan seora
malah ngibrit begitu, ada penjahat
gkan kepala unt
s?" tanya
na, Kenapa juga ngejar aku?" tany
Lu, baru keluar dari kafe baru itu. Ya udah, gue panggil. Eh, Lu malah ngibrit
badan, habis lari tadi." Areya memint
ulang. Bye Re!" Ucap Lina sambil melambaikan tangan, Are
dirasa aman, Areya berjalan dengan riang. "Huh, aman! lega rasanya." Gumam gadis itu riang. Kemu
Ada seseorang yang baru keluar dari persembun
yangannya. Tempat ternyaman menurut Areya adalah kamarnya. Di kamar itu, dia b
ing. Gadis itu berniat untuk membiarkannya saja, karena rasa kantuknya sudah tid
ki orang yang menelepon dirinya. "Siapa sih, kamu? kalau penting langsung bicara. Kalau cuma iseng aku matiin kamu,
g pria di sebrang dengan nada berat. Mendengar pertany
a jengkel setengah mati. Dia saja, dapat gelar jomblo tahunan dari si Lina. Entah badai dari mana, ada Pria y
ya terkena serangan jantung. Tidak, bukan karena ketampanan orang yang ada difoto itu. Tetapi, orang itu adalah pria yang sangat Areya takuti. S
Tuan putri yang selalu muram setiap hari. Aku ingi