a berjalan dengan pelan, membawa sesuat
mam Areya ketika melihat pria dengan hoodie yang menutup
Mata Areya melebar begitu melihat
ta dengan gugup. "Ja-jangan mendekat! pergi kau dari sini!" Areya beringsut mundur
jek, "Silahkan Nona... kalau kau ingin pita s
n sepi seperti ini... siapa juga yang akan
tu? apa kau suruhan Papa untuk membunuhku?" tanya
tiga tikus itu, dan kau menuduhku seperti itu? Haish... keterlalu
ya Areya lagi padanya, "Sialan! pistolnya
saja mereka dan masalah selesai." Tangannya dengan pelan mengel
r jawaban di luar nalar dari pria y
ang." Pria itu berkata lagi, kemudian menjulurkan tangannya
n malah bertanya, "Bagaimana bisa aku ha
a, "Terserah, kalau kamu ingin bermalam di sini dengan mereka." Ja
u akan ikut, tapi... aku tidak bisa berdiri."
a... aku memang sering membunuh sih," Pasha tersenyum mengejek.
rhutang pada pria Pembunuh ini." ucap pria itu lagi
Ya, Areya malu pada Pasha karena jarak mereka terlalu dekat. Dia hanya melihat w
Manhwa. Gila, tampan seka
n terasa sedikit sakit. Berdirilah di sini, aku akan menopang tubuhmu sembari
ya lagi dan dengan perlahan, Pria itu meletakkan gadis
un, itu berakhir dengan kecanggungan karena wajah mereka berhadapan dengan sangat dekat. Mata mereka pun
a yang aneh pada dirinya. Tanpa ambil pusing, Pasha langsung d
terdengar. Areya diam menunduk, dan
terus melaju kalau aku belum memberitahu
m kuberi tahu dimana rumahku?" Areya pun ak
awab, "Aku tahu, tidak perlu khawatir
dan benar saja, jalan itu memang jalan menuju rumahnya. Areya menunduk lagi, mema
bersamaku atau mau turun?" Pasha bersuara,
a berbicara, rasa sakit pada punggungnya kembali dan membuatnya mengaduh
Ucap Pasha pelan membuat Areya merinding. Tangan dingin yang sedang mer
a mencegah Pasha yang akan membuka
ini selalu sepi. Jika kau tidak keberatan, tolong antarkan ak
mbuat cair suasana, Pasha menjawab, "Hm, Kamu mengundang pembunuh in
ena, jika kamu ingin melakukannya, kenapa tidak dari tadi saat di
sini, di kamarmu misalnya?" Jawab Pas
Hingga kamu mati sama seperti yang kamu lakukan pad
angan." Ucap gadis itu lagi, tepat saat kak
jika aku tinggal? atau aku akan menunggu hingga orang tuamu pulang?
ngku akan sembuh keesokan harinya." Ucap Areya berusaha menenangka
asha mengelus rambut Areya dengan lembut. Membua
tahu namaku?" Tanya
kamar hingga tak terlihat lagi oleh Areya. Tak ambil pusing d
Ayo makan, Mama sudah memasak untukmu." Sebuah panggil
di tidak mendengar." Teri
rlah, matikan musikmu itu!"
Areya lesu, lalu be
nya dan selalu menghindari Mama atau Pria yang dia sebut Papa. Karena, di
eya terpaku, melihat seseorang yang