/0/16726/coverbig.jpg?v=efe350198bc12824dac0039d2c800dbc)
"Dira, teteh titip anak teteh sama kamu", ucapnya terdengar seperti merintih. "Teteh jangan bilang gitu, teteh harus sembuh", "Teteh mau kamu gantiin teteh jadi Bunda dari anak teteh, kamu mau nikah sama Wira?" ucapnya begitu tiba-tiba. Diraya Paramitha, gadis muda yang harus dihadapkan pada kondisi kehilangan dan harus mengambil alih tanggung jawab besar atas hidup sang keponakan dan Wira Dharmawan, ayah sang bayi. Akankah Sang Pemilik Cinta membukakan hati keduanya, ataukah hanya pernikahan atas nama kewajiban yang akan keduanya jalani.
Matahari sudah menanjak tinggi, seorang pria berusia kurang lebih 26 tahun masih bergelut dengan selimut dan kasurnya.
"Woy.. bangun!" ucap Hendra.
"Hmm."
"Wira, cepetan lo bangun kita ke pantai", ucap Oki yang baru keluar dari kamar mandi.
"Udah kalian berdua aja, gue ntar nyusul", ucapnya langsung mengangkat selimutnya menutup wajahnya.
"Maneh mah, nyaho urang teu apal tempatna (kamu tuh gimana, udah tahu kita gak tahu tempatnya)", ucap Hendra dengan logat sunda yang fasih.
"Iya lo mah gimana kita mau liburan ke pantai malah berakhir di kasur, ngenes", ucap Oki.
"Berisik lo berdua, ya udah kalian tunggu aja di luar gue mau mandi dulu", ucapnya final.
Wira, lelaki dengan tinggi 180 cm seorang pengusaha muda yang merintis perusahaannya sendiri sejak masih berkuliah. Dengan tubuh ideal dan wajah tampannya yang memikat kaum hawa, kulitnya sedikit putih dan badannya atletis beberapa otot tercetak di badan dan perutnya.
Wira Dharmawan, anak kedua dari 3 bersaudara, ia memiliki 1 kakak lelaki yang sudah menikah dan adik perempuan yang masih SMA. Keluarganya berasal dari Yogyakarta namun saat Wira sekolah Dasar ia pindah ke Bandung mengikuti Ayahnya yang bekerja sebagai polisi yang berpindah tugas dan hingga sekarang mereka tinggal di Bandung.
Wira bersama 2 temannya sedang berlibur di Kulon Progo, Rumah Budhe dan Pakde Wira yang berada di Yogyakarta membuat teman Wira yang sedang berlibur bekerja mengajaknya untuk menikmati liburan di Yogyakarta selama 3 hari, mereka memilih menginap di penginapan dengan pantai karena jarak rumah Pakde Wira dengan pantai yang lumayan jauh.
"Ehh itu banyak cewek-cewek pake jas Almamater cantik-cantik", ucap Hendra.
"Itu dari universitas mana ya? Kayaknya mereka lagi ada acara", ucap Oki sambil memainkan sedotan es kelapa ijo yang baru mereka pesan.
Wira hanya menatap jengah kedua sahabat karibnya sudah berteman dengannya sejak SMP itu, kelakuan 2 playboy dengan mata kerajang yang sering membuat Wira terkadang ingin menenggelamkan kedua sahabatnya itu.
Hendra memiliki wajah manis khas sunda tubuhnya tidak terlalu berisi ia memiliki kumis tipis dan alis tebal, sedangkan Oki lelaki tinggi dengan badan yang atletis seperti Wira, wajar karena ia atlet basket saat SMA dulu, wajahnya lebih tampan dari Hendra sedikit ia memiliki lesung pipi di kiri dan mereka berdua memiliki kharismatik yang berbeda hanya saja mereka sedikit genit pada kaum hawa.
"Wir, diem bae lu kesambet ntar", ucap Hendra yang memang selalu ceplas-ceplos.
"Gue lagi makan gak lihat lu", ucapnya kesal.
"Ehh iya ini ada kerang ijo, ahh di Bandung juga ada kayak giniaan gue aja waktu SD suka beli gopean pake plastik", ucap Hendra kembali.
"Berisik lo Hen, kita makan dulu." ucap Oki.
Tak berlangsung lama, mereka selesai menghabiskan makanan yang mereka pesan, Wira masih sibuk berkutat dengan handphonenya, ia mengecek urusan kantornya juga mengecek klien, Wira memang sangat profesional dalam pekerjaannya, ia juga tak suka membuang waktu untuk hal yang tidak penting termasuk saat ini untuk liburan saja temannya harus menyeret pakaiannya agar ia bisa ikut berlibur, Wira memang terlalu gila pada pekerjaan makanya ia sampai kini masih single karna terlalu sibuk dengan bisnisnya.
"Wir, kita kesana yuk, gue pengen ngeredem kaki tuh enak kayaknya", ajak Hendra.
"Kalian berdua aja, gue di sini aja panas", ucapnya malas karena memang Wira sudah sering kepantai ini.
"Yaelah ngajak Wira kudu pake jurus Kage Bunsin No Justu-nya Naruto biar ikut kita", ucap Oki yang kesal pada sahabatnya itu.
Wira hanya menatap kedua temannya itu yang sibuk berfoto ria dengan gaya macho mereka, Wira hanya menggeleng-geleng kepala dan ia kembali sibuk dengan handphonenya.
"Mas Riki, udah ini kita ada acara apalagi atau langsung pulang?" tanya seorang wanita dengan jas almamater yang berwarna absurd.
Wira yang sedang duduk mendengar suara wanita yang sedang berbincang itu dan melihat ke arahnya, ia sedang duduk di kursi dan memegang topi miliknya, Wira hanya bisa melihat wanita itu dari arah samping.
"Kita udah selesai sih, tinggal habisin waktu liburan aja, besok pagi kita pulang", ucap lelaki itu dengan logat jawa yang khas.
Wanita itu hanya mengganguk dan tersenyum pada lelaki itu, dan Wira hanya menatapnya, wanita itu tersenyum dan tertawa terlihat cantik bahkan sangat cantik, mereka sedang berkumpul beristirahat untuk makan bersama teman-teman kuliahnya, entah tugas apa yang mereka kerjakan hingga sampai ke pantai ini, dan Wira masih menatap wanita itu yang kini meminum air putih.
"Wir, fotoin kita cepetan", ucap Oki tiba-tiba datang menghampiri Wira.
"Kalian bawa tongsis kenapa mesti gue yang motoin", ucap Wira yang langsung meminum kelapa ijonya kembali.
"Yaelah bentar doang minta fotoin doang Wir, cepetan." ucap Hendra menarik tangan Wira dan akhirnya Wirapun mengikuti dua temannya itu.
Wira mencoba menahan rasa sabarnya tatkala temannya itu meminta berfoto dengan beberapa bule seksi yang berada disana dan juga meminta Kamera Nikon Wira yang mengabadikan momen tersebut, benar-benar kesal Wira hanya menghela nafas karena terpaksa menjadi tukang foto keliling Oleh sahabatnya itu.
"Ehh eta awewena galelis eung (Itu perempuannya cantik-cantik ya)", ucap Hendra melihat perempuan yang membuka jas almamater mereka dan langsung duduk di tepi pantai.
"Sayangkan kalau gak kenalan sama mereka mumpung ketemu sesekali", ucap Oki yang malah memberi ide buruk.
"Woy sadar umur, masih aja genit-genit umur udah tua!" ucap Wira.
Tanpa peduli ucapan Wira Hendra dan Oki langsung menghilang memulai aksinya, sedangkan Wira memilih duduk di tepi pantai sambil memotret pemandangan dengan kameranya.
Mata Wira tiba-tiba tertuju pada wanita yang sedang menggerai rambutnya, Wira tampak asyik memerhatikan wanita cantik itu, ia wanita yang tadi Wira lihat dan kini sudah membuka jas almamaternya, ia memakai kaos putih yang pas dengan lekukan tubuhnya yang tinggi dan sedikit berisi ia juga memakai celana panjang yang menutupi Kaki jenjangnya, rambutnya tertiup angin membuatnya merapihkannya dan Wira yang sedang memegang kameranya dengan iseng memotret wanita tersebut, wanita itu memiliki kulit putih dan leher jenjang benar-benar sangat cantik batin Wira berkata.
Beberapa foto berhasil Wira abadikan, ia melihat kembali foto-foto yang ia tangkap, beruntung tidak ada yang melihat Wira sedang mengambil potret wanita itu, jika tidak mungkin ia akan kena masalah karena wanita itu dikelilingi teman-teman kuliahnya yang berjumlah kurang lebih 30 orang dan dan 10 diantaranya laki-laki.
"Capek juga ya", ucap Oki yang duduk di pinggir Wira.
"Tapi enak sih liburan gini dari pada kerja lembur bagai kuda", ucap Hendra.
"Kalian memang dasarnya pemalas." ujar Wira
"Ehh cing lihat foto yang tadi", ucap Hendra merebut kamera Wira
Wira yang refleks ingin mengambilnya namun Oki juga ikut melihat hasil jepretannya.
"Lah ini cewek cantik banget loe fotoin", ucap Hendra.
"Wah gelo si Wira jarang-jarang motoin cewek", ungkap Oki.
"Eh jangan di hapus ya, kalau kalian hapus gue tenggelemin kalian sekarang juga", ancam Wira.
"Eh gak boleh suudzon sama saya teh, masa foto cewek cantik di hapus sih", ucap Hendra dengan muka sok polosnya.
"Yang mana sih ceweknya?" tanya Oki melihat ke arah wanita-wanita yang berkumpul di pantai.
"Eta tah nu make baju bodas, ehh geulis pisannya aslina (itu yang pakai baju putuh, ehh cantik banget aslinya), bisaan si Wira nyarinya." ucap Hendra menggoda Wira.
Wira hanya diam memerhatikan wanita itu, memang cantik itulah kata pertama yang dilontarkan hatinya melihat wanita itu, ia berharap bisa berkenalan dengannya meskipun ragu karena Wira memang tipikal pria yang cuek.
"Mau kenalan gak? Biar ku gue aja kenalinnya?" ajak Hendra.
"Apaan sih, gue cuman gak sengaja foto-foto aja cuman angle kebetulan bagus", ucap Wira langsung mengambil kameranya kembali.
"Ah loe mah gimana sih diajakin kenalan malah gak mau, nanti ke mimpi-mimpiin baru tau rasa!"ucap Oki.
Wira kembali memerhatikan wanita itu yang sedang sibuk selfie dengan ponselnya bersama teman-temannya, tak lama seorang pria sebaya dengannya menghampirinya. Jika diperhatikan lelaki itu sangat akrab dengannya sepertinya dia pacarnya pikir Wira, karena wanita itu langsung mengandeng tangan lelaki itu dan kembali duduk di atas pasir sambil berbincang-bincang dengan lelaki itu.
"Kayaknya loe pindah haluan aja, itu cewek udah ada yang punya kelihatannya si cowok itu kabogohna", ucap Hendra menepuk bahu Wira.
"Saingan berat bro, si cowok ganteng masih muda juga cocok sama si ceweknya" ucap Oki.
"Kalian berdua ngapain sih gue cuman fotoin dia aja gak ada rasa apa-apa udah ah bosen gue sama dua curut kayak kalian", ucapnya kemudian pergi.
Wira tahu ia sedikit kecewa ketika wanita itu tiba-tiba di hampiri oleh pria yang tiba-tiba datang , umurnya terlihat masih muda sebaya dengan wanita cantik itu, Wira tidak cemburu dia memang hanya mengagumi wanita itu karena wanita itu cantik natural dengan senyum manis tidak lebih.
*-*-*-*
Wira kembali ke penginapannya setelah hari sudah sore, ia kembali membuka laptopnya untuk mengecek email yang masuk dari kantornya, memang begitu sibuk Wira bekerja sampai liburan kini pun ia masih saja sibuk dengan urusan kantornya.
"Wir, kapan kita ke Malioboro?" tanya Oki.
"Besok ajalah kita kan pulang besok pagi", ucap Wira tanpa melirik dan masih fokus pada laptopnya sambil mentransfer foto dari kameranya.
"Lusa kita balik Bandung ya? Sebentar banget liburan teh", ucap Hendra.
"Kalian kalau masih betah terusin aja liburannya, gue masih banyak kerjaan dan gara-gara kalian narik gue kesini jadi pekerjaan gue numpuk", ucap Wira menyeruput kopi yang ia pesan.
"Ah kaga gue malu sama Budhe sama Pakde lo." ucap Oki.
Wira pun tak menghiraukan kicauan sahabat-sahabatnya, ia lebih memilih fokus pada Laptop kesayangannya. Setelah selesai dengan pekerjaannya Wira kembali memainkan ponselnya, ia melihat beranda pada akun facebook, bagai tertimpan durian runtuh Wira menemukan akun Instagram wanita yang ia temui di pantai tadi siang, mungkin karena ia mengaktifkan lokasi di ponselnya jadi mudah menemukannya.
Wira yang penasaranpun melihatnya namun tidak banyak yang dia harapkan karena mungkin wanita itu menyembunyikan akunnya dari publik, Wira hanya melihat foto profilnya saja yang berada di beranda wanita itu.
Wirapun menambahkan pertemanan padanya, namanya Dirayana Paramitha kelahiran 1998 umurnya masih muda. Wira berharap permintaan pertemanannya di sosial media di konfirmasi olehnya.
From : Maya
Mas besok lusa jadi pulang kan?
To : Maya
Kenapa dek?
From : Maya
Bunda sama Ayah mau ada acara, Mas disuruh datang",
To : Maya
InsyaAllah Mas pulang
Wira menaruh ponsel di kasur dan ia mengusap wajahnya, ada rasa sedikit lelah yang ia rasakan, sejujurnya Wira dulu bukan penggila kerja seperti sekarang. Saat dia sekolah ia sama seperti teman-teman sebayanya yang selalu pergi keluar dan menghabiskan waktu bermain hingga larut malam. Saat itu Wira memiliki kekasih yang ia pacari sejak pertama kali masuk SMA, mereka juga selalu menghabiskan waktu bersama.
Saat itu Wira memilih kuliah di Bandung, sedangkan kekasih Wira bernama Giskha memilih kuliah di Surabaya bersama kakaknya yang menetap di sana, awalnya hubungan mereka baik-baik saja karena masih terjalin dengan kabar yang mereka berikan.
Namun setelah satu tahun Giskha seolah menghilang dan Wira juga tak pernah bertukar kabar dengan Giskha. Wira sudah mencari informasi tentang Giskha kepada keluarganya dan sahabat-sahabatnya, namun selalu tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan, hingga akhirnya 5 bulan setelahnya Giskha datang sendiri pada Wira membawa undangan pernikahannya dengan seorang pengusaha ternama di Surabaya.
Dan semenjak saat itu, Wira yang patah hati merasa kecewa karena dikhianati pacarnya. Sejak itulah Wira melampiaskan semua amarah dan emosinya dengan bekerja keras hingga ia memutuskan membuat usahanya sendiri. Yang Wira tahu Giskha meninggalkannya karena lelaki yang menikahinya seorang pengusaha kaya dan ia berusaha agar bisa menjadi seperti suami Giskha. Dan terbukti selama beberapa tahun kerja kerasnya berhasil, ia membuka perusahaan sendiri tak lepas dari bantuan Ayahnya yang memiliki sahabat pengusaha pula.
Wira mulai menutup dirinya dari wanita, belum siap membuka hatinya pada wanita mana pun karena terlalu takut kejadian dahulu terulang kembali. Bagi Wira jika ia sudah siap ia akan memulai berhubungan serius dengan seorang wanita, namun untuk saat ini ia masih ingin mengabdikan dirinya pada perusahaan yang dibangunnya.
Dayana tidak berencana menikah. Dia tidak ingin mengulang kesialan demi kesialan yang dialami oleh keluarganya. Rencana Dayana sejauh ini hanyalah kerja keras, menjadi kaya, dan menghabiskan masa tuanya di panti jompo. Dia tidak membutuhkan keluarga berikatan darah, karena dia punya sahabat-sahabat yang sempurna. Namun, ketika satu per satu sahabatnya menikah, mereka mulai mengkhawatirkan keputusan Dayana: mereka takut Dayana kesepian. Dengan barter sebuah uang sewa apartemen di kawasan strategis selama setahun, Dayana membiarkan teman-temannya mengatur kencan buta demi kencan buta dengan pria potensial. Sementara Dayana diam-diam, bagaimanapun caranya, membuat kencan-kencan itu tidak berhasil. Sampai akhirnya dia bertemu Naren, si pria berengsek yang disodorkan Debby–sahabatnya–yang kesal karena Dayana terus-terusan menolak pria-pria baik yang dia rekomendasikan. Sayangnya, Naren menawarkan sesuatu yang sulit Dayana tolak. Padahal pria itu jelas-jelas seperti papan peringatan "WASPADA" berjalan.
"Pacarku memang dekat, lima langkah dari rumah." Allana mendengus kesal saat lagu Pacar Lima Langkah yang dinyanyikan oleh lceu Wong itu ternyata masih ada di dalam playlist Spotify-nya. la benar-benar lupa, belum menghapus lagu legendaris itu dari playlist-nya. Lagu yang pernah terdengar begitu manis itu, membuat Allana teringat akan kisahnya dulu dengan si Mantan Suami. Kisah yang kini hanya bisa ia sesali. Allana bersumpah akan mencari sampo yang ia dapatkan pada periode flash sale itu nanti, di kamar mandi Marchell. Bulan lalu saja hand body favoritnya yang dihemat setengah mati, ia temukan di sudut kamar Marchell. Allana menghela napas panjang. Kapan Marchell akan berhenti seenaknya menggunakan barang-barangnya? Toh mereka bukan lagi suami istri. Pasca bercerai, tentu saja ia semakin sibuk mencari rezeki. Memangnya apa yang bisa diharapkan dari pria seperti Marchell? Demi secepatnya bercerai dari Marchell, Allana memutuskan tidak terlalu mempermasalahkan harta gono-gini, asalkan hak asuh anak jatuh ke tangannya. Lagi pula, harta yang mereka miliki setelah menikah tidak begitu banyak. Hanya boks bayi, stroller, dan beberapa perlengkapan bayi lainnya. Marchell juga tidak menuntut pembagian uang tabungan yang memang sebagian besar berasal dari hasil kerjanya. Proses perceraian mereka berjalan sangat lancar meskipun hakim berkali-kali menawarkan mediasi. "Ibu Allana yakin bercerai? Suami anda good looking, baik, tidak KDRT, dan tidak selingkuh. Hanya belum beruntung dalam mencari rezeki. Toh anda juga bekerja," tanya Pak Hakim kala itu di pengadilan. "Saya yakin seyakin-yakinnya Pak! Saya sudah tidak tahan hidup bersama dia!" jawab Allana kala itu sambil melirik sengit pada mantan suami yang tampak hanya menghela napas panjang. Setelah melalui proses yang nyaris tanpa hambatan, akhirnya mereka resmi bercerai. Allana pikir, segalanya akan berjalan mudah karena mereka tidak lagi tinggal satu atap. Namun kenyataannya, tidak seperti yang Allana bayangkan karena sang mantan suami memutuskan kembali menempati rumah lamanya, yang hanya berjarak lima langkah dari rumah. Persis di depan rumahnya.
Kamari terjebak pada cinta pertamanya, seorang pemuda tampan yang menjadi tetangga sekaligus teman dikala dirinya bosan di rumah. Namun siapa sangka, cintanya harus kandas karena Sang Pemuda memilih untuk menikah dengan pilihan orangtuanya. Beberapa tahun berpisah, namun perasaan Kamari tidak pernah berubah, dan kini dia dipertemukan kembali dengan Sang Cinta Pertama dalam keadaan yang berbeda. Apa yang terjadi dengan kehidupan Kamari setelah menyadari bahwa pernyataannya untuk menunggu Sang Pemuda hingga menjadi Duda akhirnya terwujud? Bagaimana reaksi Kamari yang dulu mengejar Sang Pemuda, saat menyadari kini dirinya yang sedang di kejar-kejar?
Apa yang kamu lakukan jika tunanganmu meninggalkanmu dan memutuskan untuk menikah dengan wanita lain saat pernikahan kalian sudah dekat? Menangis semalaman karena patah hati atau bermain cantik untuk membalas dendam pada mereka yang melukaimu? Ya, Elaina bukan Cinderella, namun ia kehilangan sebelah sepatunya saat mengacau di pesta pernikahan sang mantan tunangan. Setelah mendapati tunangannya menikah dengan gadis lain, beberapa hari setelah memutuskan hubungan dengannya. Ia dengan diliputi sakit hati dan dendam, berencana mengacaukan pernikahan itu, namun gagal. Elaina bukan Cinderella, namun penderitaan karena sakit hatinya tidak kurang dari penderitaan Cinderella yang ditindas Ibu tirinya. Setelah rencana mengacau itu gagal, ia justru dibawa takdir kepada kisah baru untuk kehidupannya. Dalam keadaan putus asa dan patah hati, Elaina bertemu Alister, pria tampan yang karismatik dan juga berbahaya. Elaina bukan Cinderella, namun siapa sangka, Alister – yang adalah orang terdekat dari mantan tunangannya – justru menjadikannya bak Cinderella. Memberikan warna baru bagi Elaina, sekaligus menjadi medianya untuk membalaskan sakit hatinya pada sang mantan tunangan. Bagaimana kisah ini berakhir?
"Anak-anak manis, kalian tidak apa-apa?" Kedua anak kembar itu mendongak, wajah mereka sudah dibasahi hujan dan air mata. Mendadak, kedua anak itu berteriak keras sambil memeluk Althea. "Mamaaaa...!!" "Wait... Mama? Siapa Mama?" "Eh, tunggu. Kalian siapa?" tanyanya bingung. "Oh, ada mamanya. Bagaimana kerja kamu jadi jadi orang tua, hah! Anak dibiarin hujan-hujan. Lihat, nih, saya hampir jatuh karena ngindarin anak itu!" Althea, seorang dokter muda mandiri yang tidak mengenal kata manja. Ia dibesarkan oleh orangtua tunggal, Mama-nya, setelah Papa-nya meninggal karena terlambat mendapat penanganan medis. Sang Papa adalah pekerja keras yang memilih meninggalkan kekayaan keluarganya dan hidup bersama Mama-nya. Setelah kepergian Sang Papa, Opa dari Papa-nya kembali datang untuk membawa Althea dan Mama-nya masuk menjadi bagian keluarga. Ketulusan dan kebaikan hati Althea dan Sang Mama membuat Opa-nya begitu menyayangi dan mempercayakan seluruh asset-nya untuk mereka kelola. Hingga di akhir hayatnya, Sang Opa mewariskan seluruh asetnya kepada keduanya. Hal ini menimbulkan konflik dengan Sang Tante serta sepupu-sepupunya. Kelembutan hati Althea membawanya bertemu dengan sepasang anak kembar yang telah ditinggal meninggal oleh Mama-nya sejak kecil. Rasa senasib karena harus hidup dengan orangtua tunggal, membuat Althea sangat memahami kesepian anak-anak itu. Terbukti dengan begitu mudahnya ia dekat dan sayangnya Althea pada kedua anak kembar – anak tetangganya itu. Kedekatannya dengan anak-anak itu membuat mereka merasa aman dan bergantung pada Althea. Siapa sangka, kasih sayangnya pada anak-anak itu membawanya pada kisah cinta yang tidak biasa namun tetap indah. Sementara itu Evander, duda keren beranak dua, tidak pernah menyangka bahwa usahanya untuk membentengi diri dari wanita demi anak-anaknya, justru dibuat kembali merasakan jatuh cinta seperti anak remaja oleh seorang wanita unik. Kisah cinta mereka tidak semulus jalan tol, juga tidak secantik taman bunga, tapi cukup menggemaskan dan penuh tantangan.
Fernanda menjalin hubungan tanpa cinta dengan Daniel. Dua tahun bersama hanya ada sex di antara mereka. Sementara Daniel menyimpan rasa cinta, Fernanda berkutat dengan sakit hati karena masa lalu. Gagalnya pertunangan membuat Amanda terpuruk dan harus bangkit dengan tekanan dari lingkungan dan orang-orang sekitarnya. Pribadinya yang tegar dan pantang menyerah, menjadikannya makin kuat demi kedua orangtuanya. Sayangnya, semua upaya menyembuhkan luka hatinya justru membutakannya dari perhatian dan cinta tulus yang ditawarkan oleh Daniel. Dan saat keadaan membuatnya bimbang, Fernanda baru disadarkan akan rasa kehilangan sosok yang selama ini hanya dianggapnya teman. Kisah sederhana tentang cinta, hubungan tanpa status, dan wanita yang berusaha keluar dari rasa jiwa yang terluka.
Warning 21+ Harap bijak memilih bacaan. Mengandung adegan dewasa! Bermula dari kebiasaan bergonta-ganti wanita setiap malam, pemilik nama lengkap Rafael Aditya Syahreza menjerat seorang gadis yang tak sengaja menjadi pemuas ranjangnya malam itu. Gadis itu bernama Vanessa dan merupakan kekasih Adrian, adik kandungnya. Seperti mendapat keberuntungan, Rafael menggunakan segala cara untuk memiliki Vanessa. Selain untuk mengejar kepuasan, ia juga berniat membalaskan dendam. Mampukah Rafael membuat Vanessa jatuh ke dalam pelukannya dan membalas rasa sakit hati di masa lalu? Dan apakah Adrian akan diam saja saat miliknya direbut oleh sang kakak? Bagaimana perasaan Vanessa mengetahui jika dirinya hanya dimanfaatkan oleh Rafael untuk balas dendam semata? Dan apakah yang akan Vanessa lakukan ketika Rafael menjelaskan semuanya?
Setelah tiga tahun menikah yang penuh rahasia, Elsa tidak pernah bertemu dengan suaminya yang penuh teka-teki sampai dia diberikan surat cerai dan mengetahui suaminya mengejar orang lain secara berlebihan. Dia tersentak kembali ke dunia nyata dan bercerai. Setelah itu, Elsa mengungkap berbagai kepribadiannya: seorang dokter terhormat, agen rahasia legendaris, peretas ulung, desainer terkenal, pengemudi mobil balap yang mahir, dan ilmuwan terkemuka. Ketika bakatnya yang beragam diketahui, mantan suaminya diliputi penyesalan. Dengan putus asa, dia memohon, "Elsa, beri aku kesempatan lagi! Semua harta bendaku, bahkan nyawaku, adalah milikmu."
Setelah diusir dari rumahnya, Helen mengetahui bahwa dia bukanlah putri kandung keluarganya. Rumor mengatakan bahwa keluarga kandungnya yang miskin lebih menyukai anak laki-laki dan mereka berencana mengambil keuntungan dari kepulangannya. Tanpa diduga, ayah kandungnya adalah seorang miliarder, yang melambungkannya menjadi kaya raya dan menjadikannya anggota keluarga yang paling disayangi. Sementara mereka mengantisipasi kejatuhannya, Helen diam-diam memegang paten desain bernilai miliaran. Dipuji karena kecemerlangannya, dia diundang menjadi mentor di kelompok astronomi nasional, menarik minat para pelamar kaya, menarik perhatian sosok misterius, dan naik ke status legendaris.
"Jang, kamu sudah gak sabar ya?." tanya Mbak Wati setelah mantra selesai kami ucapkan dan melihat mataku yang tidak berkedip. Mbak Wati tiba tiba mendorongku jatuh terlentang. Jantungku berdegup sangat kencang, inilah saat yang aku tunggu, detik detik keperjakaanku menjadi tumbal Ritual di Gunung Keramat. Tumbal yang tidak akan pernah kusesali. Tumbal kenikmatan yang akan membuka pintu surga dunia. Mbak Wati tersenyum menggodaku yang sangat tegang menanti apa yang akan dilakukannya. Seperti seorang wanita nakal, Mbak Wati merangkak di atas tubuhku...
"Aku sangat membutuhkan uang untuk membayar biaya pengobatan Nenek. Aku akan menggantikan Silvia untuk menikahi Rudy, segera setelah aku mendapatkan uangnya." Ketika saudara perempuannya melarikan diri dari pernikahan, Autumn terpaksa berpura-pura menjadi Silvia dan menikahi Rudy. Satu-satunya keinginannya adalah bercerai setelah satu tahun. Rudy adalah pria yang sangat kaya dan berkuasa. Namanya telah dikaitkan dengan banyak wanita. Rumornya, dia punya pacar yang berbeda untuk setiap hari dalam setahun. Mereka tidak menyangka bahwa mereka akan jatuh cinta dengan satu sama lain.
Istriku Lidya yang masih berusia 25 tahun rasanya memang masih pantas untuk merasakan bahagia bermain di luar sana, lagipula dia punya uang. Biarlah dia pergi tanpaku, namun pertanyaannya, dengan siapa dia berbahagia diluar sana? Makin hari kecurigaanku semakin besar, kalau dia bisa saja tak keluar bersama sahabat kantornya yang perempuan, lalu dengan siapa? Sesaat setelah Lidya membohongiku dengan ‘karangan palsunya’ tentang kegiatannya di hari ini. Aku langsung membalikan tubuh Lidya, kini tubuhku menindihnya. Antara nafsu telah dikhianati bercampur nafsu birahi akan tubuhnya yang sudah kusimpan sedari pagi.