k di tepi kasur. Aku mengerti maksudnya. Dia ingin menyodok vaginaku dari belakang. Posisi favoritnya, yang selalu membuatku kewalahan. Tanpa perl
alam ini selalu membuatku kehilangan akal sehat. Diraihnya payudaraku yang menggelantung bebas, diremasnya kuat-ku
amun anehnya, bukan hanya rasa sakit yang menjalar. Ada sengatan listrik yang memicu adrenalin, dan jujur saja, di balik rasa terhina itu, ada gelombang hasrat yang ikut berdenyut. Pag
my yang besar mencengkeram pinggangku erat, seolah memastikan aku tidak bisa melarikan diri dari kenikmatan yang ia berikan. Sebuah erangan lolos dari bibirku, bukansahan tertahan dan erangan yang semakin keras dari bibirnya. Aku bisa merasakan setiap otot di tubuhnya menegang saat ia memompa tubuhku dengan brutal. Dan kemudian, puncaknya tiba. Sperma Jimmy menyembur begitu deras, membanjiri perutku, punggungk
gah-engah. Berat tubuhnya menindihku, namun aku tak be
telingaku. Suaranya penuh kepuasan, seolah baru saja
ggoda. Ia berusaha meraih bibirku untuk sebuah ciuma
srat yang sempat muncul. Dengan sekuat tenaga, kudorong tubuhnya menjauh. Aku turun dari ranjang, kakiku terasa lemas dan
memerah terasa perih, mengingatkanku pada tamparan-tamparan Jimmy tadi. Tanpa menoleh ke belakang, aku keluar dari kamar itu, meninggalkan Jimmy yang masih terbaring di ranjang denga
AT LALU, DI
zaliya
masuk melalui celah gorden, menerangi kamar apartemenku yang mewah. Aku bangkit dari tempat tidur dan berjalan menuju meja ria
a pahaku. Kuperiksa celana dalamku. Benar saja, area kewanitaanku terasa lengket dan basah. Semalam, jemariku
yangan di cermin. Rasa gatal dan keinginan yang membak
desiran hangat di antara kedua kakiku. Kulihat lagi diriku di cermin, dan bayangan wajah Firhan tiba-tiba muncu
CK ACAR
gu ini aku seharusnya menemani bosku bertemu klien penting. Aku sudah sempat mengatakan pada Meilani, temanku yang mengajak ke acara reuni, bahwa aku kemungkinan tidak bisa datang. Lagipula, acara reuni selalu
rlambat. Kuedarkan pandanganku, mencari sosok Meilani dan Puspita di antar
reka...," gu
ku menanyakan keberadaan Meilani dan Puspita. Sayangnya, tak ada yang tahu. Setiap kali aku berjalan, ada saja tema
porsional, dadanya bidang, pantatnya berisi, alisnya tebal dan hitam, gaya rambutnya rapi. Auranya begitu kuat dan berkarisma. Siapa dia? Apakah dia pasangan salah satu teman wanita? Bukankah di undangan tertulis jelas, dilarang membawa pasangan? Cukup lama aku memp
an, saat musik berhenti sejenak untuk berganti lagu, aku me
mereka," p
ol dengan pria tampan tadi. Tanpa ragu, aku mengh
unya. Yang penting, penampilannya saat ini bagaikan pangeran tampan yang keluar dari negeri dongeng. Ia terlihat begitu polos dan jujur saat mengatakan belum memiliki pasangan. Dan yang lebih meny
lamku yang terasa lengket, dan berjalan menuju kamar mandi. Air shower yang hangat akan membersihkan tubuhku, tapi pikiranku masih
V FI
GGGG
0
git dengan remang-remang parkiran motor di basement tiga. Bahkan sorotan puluhan lampu neon di sana pun tak mampu menan
berdebar, bahkan sempat mencicipi jalur busway yang kosong melompong, akhirnya aku tiba juga. Aku menyebutnya kompleks pergedungan karena memang terdiri dari lima bangunan pencakar langit. Tower nomor tiga, dengan desainnya yang
menimba ilmu, berjuang melewati masa magang dengan harapan bisa mendapatkan
anselku untuk diperiksa dengan metal detector, sementara aku sendiri melewati gerbang pemindai. Kuperhatikan, prosedur yang sama diterapkan d
ang tergerai menyambutku. Senyum manis merekah di bibirnya yang mungil