n kesal. Hingga mobil akhirnya berhenti di garasi rumah. Aku keluar lal
ka-suka pemiliknya dong. Terserah mau kuapakan mobil in
ku. Dengan sengaja aku menginjak kakinya yang hanya m
Papa berdiri di teras. Matanya memerah melihat ke
ba-tiba menyergapku. Kenapa Papa marah? Apa karena aku menginjak kaki Tio? Tidak m
dengan isyarat mata. Mama hanya mengangkat bahu, tidak tahu. Papa dan Tio berjalan bersisian. Mereka melangkah ke arah aku dan m
duduk di sofa yang sama dengan Tio. "Dia bisa jalan-jalan selama kamu belajar. Ken
ertanyaan Papa. Percuma saja aku cerita tentang alasan mel
dan menatap kesal pada Tio. "Besok Papa tidak mau hal ini terulang. Ing
adaku demi laki-laki bermuka dua ini. Baru kali ini Papa berkata kasar padaku
pun dia mau. Enggak perlu repot-repot ngantar aku. Masih banyak bus yang
belum seles
apa bicara kasar padaku. Selama ini Papa selalu bersikap lembut. Kesalahanku tida
empuan lain, artinya Papa selingkuh. Bagaimana cara selingkuhnya? Jarak umurku dengan Tio mungkin hanya beberapa tahun. Aku belum tahu pasti berapa usianya. K
h. Saya yang salah ka
t Tio. Apa dia akan mengakui sikap kurang ajarny
a dia Tio. Kamu bu
bih baik masuk ke kamar dan tidur. Tidak ada gunanya menangisi nasib. Kukunci pintu kamar, lalu menghempaskan tubuh di atas tempat ti
n karena mendengar suara panggilan Mama. Aku tahu Mama tidak ikut berkata kasar, tapi tetap saja tidak kujawab panggilannya. Kalau
an, pintu kembali digedor. Kali ini suara Papa yang terdengar memanggilku. Aku terse
nta maaf, Anak jelek. Jangan su
erdiri di depan. Tangan kanannya memegang piring berisi n
il alih bawaan papa. "Biar saya s
pesek. Bibirku kembali cemberut. Papa mencubit pipiku kemudian beranjak pe
ampingnya. Dia memintaku duduk melantai. Dengan w
lantai begini, kan? Coba, deh. Makan den
amku padanya membuat dia berhenti mengoc
Papa segala. Kayak anak kecil," ujarku gera
n siang bareng. Masa aku harus pergi denga
ia munafik? Kenapa sulit baginya berbohong pada Papa.
adamu. Maafin aku, ya! Aku janji tidak akan mengulang l
aya!" banta
maaf. Kamu bisa memberiku hukuman sesuka
Seru juga kalau bermain-main. Dia sudah bersedia di
ruhku?" tanyaku ragu. "Nggak
hak. "Aku tidak mengadu
ang jujur? Kalau gitu, jujurlah! Apa kamu sudah bia
kedua tangan. Helaan napasnya terdengar be
mbil mengarahkan sendok yang sudah
ab d
aku. Entah kenapa tiba-tiba muncul keinginan untuk
ba mencari kebenaran di sana. Kenapa matanya b
gulang lagi," kataku mengakhiri perseterua
itu, Nyon
cik. "Tugas pert
ang hati, N
ya, boleh berbicara asalkan mengenai pujian terhadap makanan. Juga, memuji
ya!" Dia mengangguk, lalu berdiri. Ak
uk a
kamu. Okey?" Aku masih memandang waj
ut uluran tanganku. Senyu
mesra. Bol
a terbahak dan