ama tidur. Ketika aku hendak berteriak, dia membekap mulutku. Katanya, dia hanya ingin mengucapkan selamat tidur. Katanya lagi, dia
nya yang manis, dia membukakan pintu mobil bagian depa
nya Tere Liye. Aku tak lagi berminat dekat dengan si Tio. Tidak mungkin juga aku ingin di
elalu tersenyum, biar kecantikannya semaki
memesona, tapi sikap kurang ajarnya membuatku muak. Aku ingin mengadu pada Papa. Namun, urung karena katanya Papa tidak mungkin percaya dengan kata-ka
an kusetel lagu-lagu happy, dan menyumbat telinga dengan earphone. Sayangnya, po
nya masuk ke dalam. Hari ini aku ingin memberinya pelajar
embukakan pintu mobil. Sebelum keluar, kumasukkan
utri berda
ia menutup pintu, aku menyandarkan tubuh ke badan mobil. Dengan sikap sok g
a tiga temannya. Mereka memandang ke arah kami dengan rupa yang sok imut. Aku tahu mereka terpesona de
tanya Zara berbis
m pada Kalina dan tiga temannya. Mereka mendekati Tio, mengulurkan tangan m
o dan Zara. "Dia memang ganteng, tapi ganteng aja nggak cukup. D
. Sedangkan aku tersenyum penuh kemenangan. Aku mengambil kunci mobil dari tangannya deng
dah kuduga dia akan memberi nasihat panjang lebar.
" lanjut Zara. "Bagiku, yang penting dia adalah
melebar kemana-mana. "Awalnya aku terima dia dengan baik. Udahlah, ngg
🍂
ri kelas. Dari tadi dia juga bawel karena aku tak menawari Tio makan siang. Dia sendiri yang membeli makanan,
a di sana. Seperti biasa, Kalina tidak berhenti berbicara. Namun, Tio tak
n?" tanya Zara ragu-ragu. Aku menggeleng
ah, Zara." Gadis itu berbina
palagi senyum Tio mengembang saat melihat Zara. Dia membukaka
uk. "Nyonya muda men
diubah seganas mungkin. Zara menoleh, menatapku sejenak. Kepalanya menggele
Ra?" tanya Tio saat
ungkin tahu jalannya," jawabku mer
muda. Zara tertawa mendengar jawaban Tio dan menganguk setuju. Aku mendengus sebal. Kualihkan pandangan ke luar
saat mendengar cerita Tio yang lucu. Cerita laki-laki berengsek itu memang lucu, tapi tidak m
p sendiri.' Begitu kata si ibu sambil berusaha masuk ke liang kubur. Orang-orang sibuk menahan tubuh si ibu. Ustadz yang mengurus jenazah jadi marah. Dia m
membuatku tertarik. Namun, acara humor di TV Indonesia rata-rata membuatku mual. Candaan para pelawak itu tidak jauh-jauh dari hinaan dan
elt, lalu keluar dari mobil. Aku melakukan hal yang sama. Pulang bersama Tio bukan menjadi
in di rumah Zara. Ntar aku pul
. Saya tidak mungkin pulang sendiri,"
a menatapku tanpa senyum. Zara me
k Tio. Biar dia nungg
ku terkatup. Gigi-gigiku bergemelutuk. Rahangku mengeras. Napasku be
pa Zara tidak mengerti? Aku ingin laki-laki itu pulang karena tak ingin melihat rupanya. Kenapa Zara berh
ggubrisnya. "Aku nggak ngerti, deh. Kenapa kamu mara
"Iya. Dia memang baik. Baik banget hingga Zara yang aku kenal bertahun
esuatu yang salah. Apa yang sudah dia laku
aku." Zara menahan tanganku saat aku hendak melangkah pergi. Aku tepis tangannya, lal
u sering kesal padanya karena hobi sekali memberi petuah seperti nenek. Meski ram
ng tidak mengerti apa-apa. Yang Zara tahu, Tio itu baik karena tak berlaku kur
ngat. Aku ingin menceritakan penderitaan ini semenjak ada Tio. Dia sahabatku yang
jauh dari laki-laki kutu kupret itu. Aku ingin cepat-cepat tiba di rumah, lalu masu
g-masing manusia memiliki kedua sifat itu. Bagaimana kita menyikapi dengan menonjolkan bagian yang ingin dikenali orang. Jika ingin jadi j
ki-laki berengsek itu memaksa si tukang ojek menepi. Dia turun dari mobil, memberik
ngin meminjam palunya. Kepala laki-