/0/21125/coverbig.jpg?v=20241116233850)
Arga memutuskan untuk pergi tepat setelah malam pengantin yang dingin dan bisu bersama Regina. Pernikahan yang terpaksa dilakukan mungkin akan menjadi beban bagi istrinya. Namun, tanpa Arga tahu ternyata Regina ...
Antara Harapan dan Kenyataan
Sudut-sudut jalan bisu, aku mengayuh sepeda lebih cepat untuk mendatangi rumah terakhir. Sore ini, mendung sudah menggantung, rumah lurah masih berada di ujung jalan.
Satu, dua rintik hujan sudah jatuh, untung sebelum lebat aku sudah tiba di tujuan. Dua botol susu terakhir kuletakan di teras rumah.
Selama bertahun-tahun, pekerjaanku tak pernah berubah. Pagi nguli, sore berkeliling mengantar pesanan susu segar yang kuambil dari peternak sapi yang ada di kampung sebelah.
Tak jarang pula, jika ada tetangga yang memintaku membantu memperbaiki genteng rumahnya, aku dengan senang hati menerima. Setiap tetes keringat yang mengalir, setiap lelah yang kurasa, semuanya kuterima tanpa keluhan. Sejak kecil aku sudah belajar satu hal, selama kerja keras itu menghasilkan uang, tidak ada pekerjaan yang terlalu rendah atau hina. Bagiku, yang penting perutku terisi dan aku bisa bertahan hingga esok hari.
Lalu, satu lagi. Pengagum rahasia Regina. Ini pekerjaan baru kulakoni sejak setahun lalu. Setelah celingak-celinguk beberapa waktu dan tak mendapati sosok yang kutunggu, kuputuskan untuk pulang.
"Mungkin Regina belum pulang," lirihku.
Sambil menerjang hujan, Aku mengingat pertama kali melihat Regina. Sama, sore hari seperti saat ini saat aku mengantar susu ke rumahnya. Ia berdiri di depan pintu, mengenakan seragam perawat yang bersih dan rapi. Rambutnya yang hitam lurus terurai lembut di pundaknya, dan senyumnya begitu manis saat ia menyapa salah seorang tetangga. Aku hanya bisa menunduk dan berlalu dengan cepat, takut jika dia menyadari tatapanku yang terlalu lama kala itu.
Sejak hari itu, aku seringkali berharap bisa lebih dekat dengannya. Namun, kenyataannya selalu menampar keras harapanku. Regina terlalu jauh dari jangkauanku. Dia bagaikan bintang yang bersinar di langit malam yang gelap, dan aku hanyalah seorang pejalan yang berjalan di bawahnya, hanya mampu mengagumi cahayanya dari kejauhan.
Aku selalu berpikir, "Bagaimana mungkin aku, lelaki yang hanya bisa makan dari hasil kerja serabutan, bisa memiliki tempat di hatinya?"
Setiap hari, aku melawan rasa minder yang terus menggerogoti pikiranku. Aku tahu aku tidak bisa menawarkan banyak hal. Rumahku saja bocor di sana-sini, penuh dengan barang-barang bekas yang kusebut "perabotan." Sementara Regina, pasti hidup dalam kenyamanan, dengan kehidupan yang tertata rapi. Aku selalu berpikir bahwa orang-orang sepertiku ini hanya ditakdirkan untuk melihat kebahagiaan dari jauh, tanpa pernah merasakannya secara langsung.
Namun, di balik semua itu, ada sisi kecil dalam hatiku yang terus berharap. Meskipun tipis, aku tetap menggenggam harapan bahwa suatu saat nanti takdir mungkin akan berbaik hati padaku. Bahwa mungkin, suatu hari nanti, aku bisa mendekati Regina dan menyampaikan perasaanku. Tetapi, setiap kali aku melihat bayangan diriku di cermin, aku segera sadar bahwa itu hanyalah angan-angan. Aku hanyalah seorang lelaki luntang-lantung yang bahkan tidak bisa menjamin masa depanku sendiri, apalagi masa depan orang lain.
Sore itu, setelah mengantarkan susu, aku duduk di depan rumah dengan tubuh yang masih basah, merenungi hidupku. Hembusan angin sore yang sejuk membelai wajahku, namun tidak bisa menenangkan hati yang sedang gelisah. Di kepalaku, bayangan Regina terus terlintas. Aku membayangkan bagaimana rasanya jika bisa berbicara dengannya, mengenalnya lebih jauh, dan mungkin, suatu hari, membuatnya tersenyum karena kehadiranku. Tapi kemudian, kenyataan selalu datang dan menghancurkan imajinasiku.
Di satu sisi, aku merasa bangga dengan diriku sendiri. Setidaknya aku tidak pernah menyerah. Setiap hari aku bangun pagi dan bekerja tanpa lelah, tanpa mengeluh. Aku tidak meminta-minta atau bergantung pada belas kasihan orang lain. Namun, di sisi lain, ada rasa tidak puas yang selalu menghantui. Setiap kali aku melihat Regina, aku merasa semua yang kulakukan tidak ada artinya. Seolah-olah segala usahaku hanyalah upaya sia-sia di hadapan perbedaan yang begitu mencolok antara kami.
Hari semakin gelap, dan aku masih duduk di sana, memandangi langit yang mulai dipenuhi bintang-bintang.
"Apakah aku akan selamanya seperti ini?" pertanyaan itu terus terngiang di benakku. Aku tidak tahu jawabannya. Yang kutahu hanyalah, aku tidak akan pernah berhenti bermimpi, meskipun mimpi itu terasa begitu jauh.
Sampai kapan pun, aku akan tetap berjalan di jalan hidup yang telah kutempuh selama ini. Walau kadang lelah, walau kadang merasa tak berdaya, aku akan tetap melangkah. Siapa tahu, di ujung perjalanan ini, ada cahaya yang menunggu. Siapa tahu, mungkin suatu hari takdir akan tersenyum kepadaku dan memberikan kesempatan untuk mendekati Regina. Meski hanya sedikit, harapan itu tetap ada. Dan selama harapan itu ada, aku akan terus berjuang. Sebab, bukankah hidup ini adalah tentang memperjuangkan apa yang kita yakini, meski seberapa kecil pun peluangnya?
Malam itu, ketika aku akhirnya memutuskan untuk masuk ke rumah, aku tersenyum kecil. Bukan senyum penuh kebahagiaan, tetapi senyum penuh keteguhan. Besok adalah hari baru, dan aku akan kembali menjalani hidupku. Siapa tahu, besok aku bisa melihat Regina lagi, meski hanya dari kejauhan. Biarpun kecil, harapan itu tetap menjadi alasan untukku melangkah ke depan.
Meski beberapa kali perasaan takut juga ikut menelusup saat satu pertanyaan melintas di benak.
"Apa aku bisa menghentikan perasaan ini jika nanti Regina menemukan jodohnya dan menikah dengan pria lain?"
Tanpa sadar, kepalan tanganku menghujam dada. Membayangkannya saja rasanya sesak tak terkira.
Saat semua orang sedang bersuka cita dan sibuk menyambut hari raya, aku membunuh Ibuku untuk kali pertama.
Menjadi cantik dan awet muda merupakan impian setiap wanita. Tapi, jika melewati jalan yang salah apa masih bisa di benarkan? Edi membuat istrinya terobsesi dengan kecantikan dan awet muda. Namun, Mayang sang istri tak tahu bahwa itu hanya taktik Edi agar ia Jadi Kuyang. ⚠️ Cerita ini Hanya Fisksi. Isi konten benar-benar hanya karangan penulis. Jangan lupa klik berlangganan sebelum membaca.
Bagaimana jika kamu berada di posisi Wulan? Seorang lelaki tak dikenal datang dan mengaku sebagai suami. Padahal Wulan yakin bahwa dirinya masih lajang. Lalu, bagaimana dengan Rayyan? Pemuda yang akan menikahinya tahun depan. Bunda, orang tua Wulan satu-satunya yang tersisa pun, bahkan membenarkan tentang Wisnu, suaminya. Kebenaran apa yang tidak diketahui Wulan? Apa Wulan harus menerima semua ini begitu saja? Tentu tidak. Wulan harus mencari tahu segalanya.
Kedua orang yang memegangi ku tak mau tinggal diam saja. Mereka ingin ikut pula mencicipi kemolekan dan kehangatan tubuhku. Pak Karmin berpindah posisi, tadinya hendak menjamah leher namun ia sedikit turun ke bawah menuju bagian dadaku. Pak Darmaji sambil memegangi kedua tanganku. Mendekatkan wajahnya tepat di depan hidungku. Tanpa rasa jijik mencium bibir yang telah basah oleh liur temannya. Melakukan aksi yang hampir sama di lakukan oleh pak Karmin yaitu melumat bibir, namun ia tak sekedar menciumi saja. Mulutnya memaksaku untuk menjulurkan lidah, lalu ia memagut dan menghisapnya kuat-kuat. "Hhss aahh." Hisapannya begitu kuat, membuat lidah ku kelu. Wajahnya semakin terbenam menciumi leher jenjangku. Beberapa kecupan dan sesekali menghisap sampai menggigit kecil permukaan leher. Hingga berbekas meninggalkan beberapa tanda merah di leher. Tanganku telentang di atas kepala memamerkan bagian ketiak putih mulus tanpa sehelai bulu. Aku sering merawat dan mencukur habis bulu ketiak ku seminggu sekali. Ia menempelkan bibirnya di permukaan ketiak, mencium aroma wangi tubuhku yang berasal dari sana. Bulu kudukku sampai berdiri menerima perlakuannya. Lidahnya sudah menjulur di bagian paling putih dan terdapat garis-garis di permukaan ketiak. Lidah itu terasa sangat licin dan hangat. Tanpa ragu ia menjilatinya bergantian di kiri dan kanan. Sesekali kembali menciumi leher, dan balik lagi ke bagian paling putih tersebut. Aku sangat tak tahan merasakan kegelian yang teramat sangat. Teriakan keras yang tadi selalu aku lakukan, kini berganti dengan erangan-erangan kecil yang membuat mereka semakin bergairah mengundang birahiku untuk cepat naik. Pak Karmin yang berpindah posisi, nampak asyik memijat dua gundukan di depannya. Dua gundukan indah itu masih terhalang oleh kaos yang aku kenakan. Tangannya perlahan menyusup ke balik kaos putih. Meraih dua buah bukit kembarnya yang terhimpit oleh bh sempit yang masih ku kenakan. .. Sementara itu pak Arga yang merupakan bos ku, sudah beres dengan kegiatan meeting nya. Ia nampak duduk termenung sembari memainkan bolpoin di tangannya. Pikirannya menerawang pada paras ku. Lebih tepatnya kemolekan dan kehangatan tubuhku. Belum pernah ia mendapati kenikmatan yang sesungguhnya dari istrinya sendiri. Kenikmatan itu justru datang dari orang yang tidak di duga-duga, namun sayangnya orang tersebut hanyalah seorang pembantu di rumahnya. Di pikirannya terlintas bagaimana ia bisa lebih leluasa untuk menggauli pembantunya. Tanpa ada rasa khawatir dan membuat curiga istrinya. "Ah bagaimana kalau aku ambil cuti, terus pergi ke suatu tempat dengan dirinya." Otaknya terus berputar mencari cara agar bisa membawaku pergi bersamanya. Hingga ia terpikirkan suatu cara sebagai solusi dari permasalahannya. "Ha ha, masuk akal juga. Dan pasti istriku takkan menyadarinya." Bergumam dalam hati sembari tersenyum jahat. ... Pak Karmin meremas buah kembar dari balik baju. "Ja.. jangan.. ja. Ngan pak.!" Ucapan terbata-bata keluar dari mulut, sembari merasakan geli di ketiakku. "Ha ha, tenang dek bapak gak bakalan ragu buat ngemut punyamu" tangan sembari memelintir dua ujung mungil di puncak keindahan atas dadaku. "Aaahh, " geli dan sakit yang terasa di ujung buah kembarku di pelintir lalu di tarik oleh jemarinya. Pak Karmin menyingkap baju yang ku kenakan dan melorotkan bh sedikit kebawah. Sayangnya ia tidak bisa melihat bentuk keindahan yang ada di genggaman. Kondisi disini masih gelap, hanya terdengar suara suara yang mereka bicarakan. Tangan kanan meremas dan memelintir bagian kanan, sedang tangan kiri asyik menekan kuat buah ranum dan kenyal lalu memainkan ujungnya dengan lidah lembut yang liar. Mulutnya silih berganti ke bagian kanan kiri memagut dan mengemut ujung kecil mungil berwarna merah muda jika di tempat yang terang. "Aahh aahh ahh," nafasku mulai tersengal memburu. Detak jantungku berdebar kencang. Kenikmatan menjalar ke seluruh tubuh, mendapatkan rangsangan yang mereka lakukan. Tapi itu belum cukup, Pak Doyo lebih beruntung daripada mereka. Ia memegangi kakiku, lidahnya sudah bergerak liar menjelajahi setiap inci paha mulus hingga ke ujung selangkangan putih. Beberapa kali ia mengecup bagian paha dalamku. Juga sesekali menghisapnya kadang menggigit. Lidahnya sangat bersemangat menelisik menjilati organ kewanitaanku yang masih tertutup celana pendek yang ia naikkan ke atas hingga selangkangan. Ujung lidahnya terasa licin dan basah begitu mengenai permukaan kulit dan bulu halusku, yang tumbuhnya masih jarang di atas bibir kewanitaan. Lidahnya tak terasa terganggu oleh bulu-bulu hitam halus yang sebagian mengintip dari celah cd yang ku kenakan. "Aahh,, eemmhh.. " aku sampai bergidik memejam keenakan merasakan sensasi sentuhan lidah di berbagai area sensitif. Terutama lidah pak Doyo yang mulai berani melorotkan celana pendek, beserta dalaman nya. Kini lidah itu menari-nari di ujung kacang kecil yang menguntit dari dalam. "Eemmhh,, aahh" aku meracau kecil. Tubuhku men
Seorang gadis SMA bernama Nada dipaksa untuk menyusui pria lumpuh bernama Daffa. Dengan begitu, maka hidup Nada dan neneknya bisa jadi lebih baik. Nada terus menyusui Daffa hingga pria itu sembuh. Namun saat Nada hendak pergi, Daffa tak ingin melepasnya karena ternyata Daffa sudah kecanduan susu Nada. Bagaimana kelanjutan kisahnya?
BERISI ADEGAN HOT++ Seorang duda sekaligus seorang guru, demi menyalurkan hasratnya pak Bowo merayu murid-muridnya yang cantik dan menurutnya menggoda, untuk bisa menjadi budak seksual. Jangan lama-lama lagi. BACA SAMPAI SELESAI!!
Sinta butuh tiga tahun penuh untuk menyadari bahwa suaminya, Trisna, tidak punya hati. Dia adalah pria terdingin dan paling acuh tak acuh yang pernah dia temui. Pria itu tidak pernah tersenyum padanya, apalagi memperlakukannya seperti istrinya. Lebih buruk lagi, kembalinya wanita yang menjadi cinta pertamanya tidak membawa apa-apa bagi Sinta selain surat cerai. Hati Sinta hancur. Berharap bahwa masih ada kesempatan bagi mereka untuk memperbaiki pernikahan mereka, dia bertanya, "Pertanyaan cepat, Trisna. Apakah kamu masih akan menceraikanku jika aku memberitahumu bahwa aku hamil?" "Tentu saja!" jawabnya. Menyadari bahwa dia tidak bermaksud jahat padanya, Sinta memutuskan untuk melepaskannya. Dia menandatangani perjanjian perceraian sambil berbaring di tempat tidur sakitnya dengan hati yang hancur. Anehnya, itu bukan akhir bagi pasangan itu. Seolah-olah ada penghalang jatuh dari mata Trisna setelah dia menandatangani perjanjian perceraian. Pria yang dulu begitu tidak berperasaan itu merendahkan diri di samping tempat tidurnya dan memohon, "Sinta, aku membuat kesalahan besar. Tolong jangan ceraikan aku. Aku berjanji untuk berubah." Sinta tersenyum lemah, tidak tahu harus berbuat apa ....
WARNING 21+ !!! - Cerita ini di buat dengan berhalu yang menimbulkan adegan bercinta antara pria dan wanita. - Tidak disarankan untuk anak dibawah umur karna isi cerita forn*graphi - Dukung karya ini dengan sumbangsihnya Terimakasih