ak suaminya meninggalkan rumah dengan alasan menghadiri rapat mendadak. Namun, b
keluar dari mobil dengan hati-hati dan memilih meja di sudut yang cukup tersem
up menarik perhatian. Senyumnya merekah saat ia menyapa Arya. Maya merasa
nta berbicara santai, penuh tawa kecil di sela-sela obrolan mereka. Hatinya hancur meliha
nang di pelupuk matanya. Ia mengeluarkan ponselnya, mencoba merekam mom
Maya," gumamnya pelan
ab. Maya mencoba mendengar sepenggal pembicar
aku merasa apa yang kita lakukan ini salah
nggak benar, tapi aku nggak bisa berhenti, Sin. Ada hal-hal yang aku ngg
. Apa maksud Arya? Apa yang tidnggak mau jadi alasan kamu meninggalkan Maya, M
gak akan meninggalkan Maya. Aku hanya bu
u, dan tangannya semakin erat menggenggam ponsel. Ia ingin langsung meng
afe. Maya tetap di tempatnya, menunggu mereka pergi sebelum mem
au kamu nggak mau meninggalkan aku, ken
i. Tapi kali ini, ia tidak akan hanya memi
tamu, menunggu Arya pulang. Dengan bukti dan rasa sakit yan
hanya menyala di sudut ruangan, menciptakan bayangan yang menari di dinding. Di at
Maya mencoba menenangkan dirinya, tapi setiap detik y
a. Arya masuk, masih mengenakan jasnya yang rap
?" tanya Arya den
ya tajam. "Ak
berusaha tersenyum. "Kenapa?
pat tangan di dada. "Kamu p
nyangka pertanyaan itu. "Dari kantor, s
pahitan. "Dari kantor, ya? Apa kantor seka
ya menunjukkan keterkejuta
kkan foto-foto Arya bersama Sinta di kafe. "Ini maksudku, Arya.
tu dengan ekspresi bingung dan panik. "May
meninggi. "Kamu bilang kamu mencintai aku, tapi kenapa kamu
"Aku minta maaf karena nggak pernah bilang. Tapi aku dan Sint
ini soal kerjaan lagi, karena a
t semakin terpojok. "Aku nggak t
ran, Arya. Aku hanya
n dan penuh rasa bersalah. "Sinta... dia ada hubungannya dengan masa
ba mencerna kata-kata Arya. "Jadi, dia mantanmu? Dan sekarang
nya niat untuk kembali ke dia. Dia datang ke hidupku lag
memang nggak berniat kembali, k
ang lebih besar yang ia sembunyikan. M
n ini. Aku sudah cukup sakit hati melihat kamu dengan dia. Jadi, kal
asa bersalah. "Baik, aku akan cerita. Tapi tolong,
g masih berdiri dengan tangan bersilang di dada. Maya menunggu,
Aku akan ceritakan semuanya, dari awal. Tapi
tap keras. "Aku akan mendengarkan, Arya. T
, tampak lelah, la
akan. Waktu itu, aku masih muda, ambisius, dan nggak mau terikat. Aku mengakhir
hatikan den
l lagi sekarang? Apa hu
i aku. Awalnya aku nggak mau bertemu. Tapi dia bilang ada sesuatu yang penting. Waktu
engan jawaban itu. "Masalah apa? Da
ng dia pinjam uangnya nggak main-main. Dia bilang hidupnya terancam. Aku nggak tahu harus bagaimana, t
at, mencoba mencerna apa
m? Dengan risiko menghancurkan pernikaha
pat. "Aku hanya ingin membantunya keluar dari masalah itu. Aku p
amu nggak bilang apa-apa ke aku, Arya. Kamu memilih berbohong,
alah paham, takut kalau kamu nggak bisa menerima alasan ini. T
ah cukup menderita karena semua ini. Aku kehilangan kepercayaan pada
dah menghancurkan kepercayaanmu, tapi aku nggak mau kehilangan kamu. Aku akan berhenti bertemu
i tindakanmu menunjukkan hal yang berbeda. Apa yang aku lihat tadi siang di kaf
ku nggak mencintai dia, Maya. Sumpah. A
ku butuh waktu. Aku nggak tahu apakah aku bisa ter
ik. "Tolong, jangan pergi, M
k bilang aku akan pergi, Arya. Tapi aku nggak bisa langsung m
ambu