img CINTA YANG RETAK  /  Bab 2 Bukti di Tangan | 10.00%
Unduh aplikasi
Riwayat Membaca

Bab 2 Bukti di Tangan

Jumlah Kata:1230    |    Dirilis Pada: 25/11/2024

mpak begitu lelap. Hatinya bergolak antara keinginan untuk percaya dan dorongan kuat untuk mencari t

ku harus tahu,"

rya. Tidak ada sandi-Arya selalu percaya bahwa

yang sudah tidak asing lagi baginya: Sinta. P

akan siang bareng, ya. Aku udah

e. Sampai

i duri yang menusuk hatinya. Bukankah Arya selalu mengatakan bahwa hubungan mer

n itu penuh candaan ringan, perhatian kecil yang membuat Maya mer

i ini. Aku senang banget ngobrol sama

Kamu selalu bikin hari-h

nggenang, tetapi ia mencoba menahann

mar. Ia menuju ruang tamu, duduk di sofa sambil menatap layar ponsel

jak kapan ini dimulai? Apakah aku kurang

ian untuk menelepon atau mengirim pesan. Namun, tangann

biasa, meskipun hatinya masih berat. Arya d

oreng favoritku,

kamu butuh energi lebih banyak. Keli

il. "Iya, kerjaan kant

ya?" pertanyaan Maya keluar begi

i langsung berhenti. Ia menata

, mencoba terdengar santai

ku baca pesan kalian, Mas. Jadi aku

panjang. Ia meletakkan sendoknya dan menat

ku dan Sinta cuma teman. Kami memang dek

kenapa dia bilang hal-hal yang seharusnya nggak diucapkan ol

mu merasa nggak nyaman, makanya aku nggak cerita. Tapi, sum

n tajam. "Kalau memang nggak ada apa-apa, kenapa s

aku nggak tahu harus bilang apa. Tapi aku janji,

Tapi semua ini terlalu banyak menyakiti aku. Aku

apa lagi. Maya meninggalkannya di ruang

terasa remuk. Ia duduk di kursi dekat jendela, memandang keluar dengan tatap

gkah Arya terdengar mendekat

suaranya terdengar tena

b. Ia membiarkan A

an Maya yang tetap memandang keluar jendela.

ku harap kita bisa bicara baik-baik," kata

enuh luka. "Masih ada yang mau kamu jelaskan, M

arah. "Aku tahu kamu terluka. Tapi hubungan aku sama Sinta benar-benar ngga

ekerjaan, kenapa pesannya penuh dengan perhatian yang aku bahkan nggak pernah dapat

tepat. "Aku nggak tahu, May. Aku... Aku nggak

cerita karena takut aku cemburu, atau kar

rcipta membuat Maya semakin yakin b

Aku butuh waktu sendiri, Mas. Aku ngga

begini. Kita bisa bicarakan ini. Ak

ini sudah besar. Dan aku nggak yakin kita bisa me

ri kamu waktu. Tapi tolong, jangan langsung ambil ke

luar kamar, meninggalkan Arya yang m

ebingungannya. Ia kembali membuka ponsel Arya dan mencatat nomor

k pesan deng

ya. Aku mau bicara dengan kamu s

an tombol kirim. Detik-detik berlalu, dan po

tu. Saya bisa bertemu

it terkejut. Sinta terdengar t

seorang wanita muda, rapi, dan menawan. Senyum kecil di wajahnya teras

mu," kata Maya, mencoba menja

aya juga ingin semuanya jelas. S

di, Sinta, apa sebenarnya

t buat Mbak. Tapi saya harus jujur. Saya memang dekat dengan Mas Arya. Kami

sesak. Namun, ia berusaha menahan emosinya. "Sejauh apa hubung

itu. Tapi saya merasa dia nyaman dengan saya. Mungkin saya salah

Kamu merasa nyaman, dia merasa nyaman, t

Mbak harus bicara lebih dalam dengan Mas Arya. Ada

ambu

Unduh aplikasi
icon APP STORE
icon GOOGLE PLAY