kamar. David bangkit dii
apa?" tan
tuk pulang malam ini. Cepat s
ika David bergegas men
Farida menarik kasar lengan Al
enyusul su
itu, Saras sampai menangis histeris. Dasar peremp
mpuan demit yang membuat hatinya remuk. Alana berlari ke arah teras rumah mengibaskan Ce
t lagi. Alana bersandar pada kokohnya
yang benar dan tak ada yang baik di mata sang mertua terhadap Alana. Alana serba salah, ingin membantah ataupun menja
i ke rumah meskipun larut malam sampai di rumah. Namun tak ada lagi alasan
an dirinya dengan wanita yang diakui sang suami sebagai sahabatnya, yang dulu sempat diam-diam menginap di rumah mereka dan yang lebih
telah di ubun-ubun. Ia tak ingin menambah beban pikiran kedua orang tuanya d
rang tetangga, ketika mereka bersamaan membeli
saja kok." Balas Alana mengum
murung dan juga pucat ya. Mbak Lana nggak sakit kan?" tanya bang Udin
Udin." sambil memilih milih sa
ti ada sesuatu yang mereka ketahui, namun tak berani mengutarakannya kepada Alana. Alana merasa ris
amu. Udah jam berapa ini hah..? Kapan masaknya coba..? Sebentar lagi jadwal makan siang," Alana yang tadi
dan menatap aneh ke arah Farida, Mama mertua
engambil belanjaannya dan membayar semua belanjaan yang t
tanya salah seorang pembeli yan
nya, Alana menjawab pertany
a pun berlalu meninggalkan tukang sayur langganannya dan para tetang
ya itu, membentak dan menghardik dirinya di hadapan orang
n mentang-mentang menantunya belum bisa memberikan keturunan untuk anaknya dan
ksi gitu, dari hotel. Mereka mesra banget, kebetulan aku menghadiri acara kantor suamiku dan kami berpapasan gitu deh. Kira-kira mbak A
ik ghibahin orang seperti itu. Kasihan mbak Alana, jika ia mendeng
sar tersebut. Kita ini juga perempuan loh Bang, ya nggak terima gitu deh.. Jika ada Perempuan diperlakukan semena-mena macam itu. Istri sibuk mengabdi di rumah melayani suami dan mertuanya sebaik mungkin diperlakukan sep
nampilan istri yang terus-menerus dasteran aja di rumah, tanpa bersolek sedikit
tu di dalam
ala ama tetangga nggak jelas kegitu," tembak Farida tampak dudu
belanjaan," ucap Alana membela diri dengan tan
no..!" usirnya kembali tersenyum-senyu
mpak sibuk mengeluarkan belanjaannya dan memulai mem
ni Tuhan, jangan sampai hamba mendurhakai mertua hamba sendiri." Berkali-kali menari
tetapi ia tetap tersenyum di hadapan Farida atau pun Davi
bersama para tetangga. Ocehan-ocehan mereka meskipun berbisik namun sempat te
ekilas percakapan mereka, menyebut nama mas David dengan wanita seksi. Kenapa peras
anya. Ia pun telah menghidangkan di atas meja, lalu melangkah menuju ke arah ruang tengah di mana sedari ta
inginkan. Kalau boleh tau, emangnya siapa yang akan datang ke rumah ini Ma..? Apa tamu Mama yang akan datang ke sini ya..
itasnya sejenak, lalu men
anmu. Dan kamu tak perlu terlalu bawel seperti itu, banyak tanya padaku. Aku
lah jika aku bertanya siapa tamu yang akan datang ke ruma
uang darimu, jadi jangan sekali lagi berkata jika kamu pemilik dari rumah ini, paham kamu hah..?" Farida yang tadi rebahan di atas sofa bergegas duduk dan berdir
wajah tertunduk, tak ingin menatap wajah memera
a membalikkan tubuhnya, beranjak meninggalkan ruang tengah. Namun Fari
" teriak Farida dengan suara
agar pergi dari hadapan Mama." S
uah-buahan yang tadi ku suruh kupas, apa sudah kamu hidangkan di meja..? Begitu juga dengan sop
. Silakan Mama periksa sendiri di ruang makan," ba
kut..!" ajak Farida men
ng ia perintahkan pada sang menantu telah selesai dilaksanakan dengan baik. Tiba-tiba
intunya..! Kok malah menatap ke arahku sih...?
angat penasaran dengan tamu yang akan datang ke rumahnya, sehingga Farida terlihat begitu antusiasnya. Hingga memerintahkan padanya, memasak bermacam-macam menu yang be
han pintu pun terbuka dengan lebar. Alangkah terkejutnya Alana menatap ke arah pintu utama. Mata Alana seketi
*