/0/19239/coverbig.jpg?v=be300e83521b6b4a326118cd359263a8)
Dira tinggal bersama ibu yang menjadi wanita penghibur demi menafkahinya. Bahkan sang ibu memiliki kesehatan mental yang buruk, hal itu membuat kesalah pahaman di antara mereka ... Dira dan ibu terus menerus saling membenci. Mereka saling mengutuk hampir di setiap waktu. Ia pun berulang kali mengucap kata menyesal telah hidup bersama sang ibu saat ini dan selalu berkata ingin tinggal bersama sang ayah yang sudah dua belas tahun tidak menafkahi mereka apa lagi sekedar menemuinya. Suatu hari, dia mendapat kabar bahwa sang ayah telah meninggal dunia dan dari situlah Dira mengetahui jika dirinya ternyata bukanlah anak kandung dari sang ayah yang selama ini ia rindukan. Di hari pemakaman itu, Dira diberi sebuah buku catatan berwarna merah berisi dua belas wasiat yang harus Dira lakukan. Akankah Dira berhasil menunaikan dua belas wasiat dari sang ayah? Dan apakah hubungan Dira dengan wanita yang melahirkannya bisa kembali membaik?
"Assalamualaikum," teriakku dengan lelah sembari memutar pedal pintu yang ternyata tidak terkunci.
Aku masuk ke dalam rumah seperti biasanya, tanpa balasan salam, apa lagi senyuman hangat oleh ibu seperti teman sebayaku setelah mereka pulang sekolah.
Tidak ada yang spesial dari rumah ini, selain bau alkohol yang menyeruak hingga ke seluruh penjuru rumah. Aku masuk lebih dalam dan duduk menghempaskan diri pada sofa yang sudah tidak layak untuk diduduki.
Kemudian Bola mataku tidak sengaja terfokus pada pintu kamar yang tertutup, air mataku tidak terasa menetes ... mengambil napas kasar lalu dengan cepat menghapusnya.
Perasaan kecewa selalu hinggap di benakku yang terkurung pedih tidak dapat tersalurkan, aku benci ibu ... aku benci dirinya ... aku benci hidupnya.
Andai saja aku bisa memilih waktu itu, pasti akan kupilih hidup bersama ayah bukan hidup bersama wanita kotor seperti ibu.
Pelupuk mataku terpejam mengasihani diri sendiri, menangis dalam diam sambil menahan sakitnya hati karena baru saja diejek oleh temanku yang mengatakan IBUKU ADALAH PELACUR!!! Aku tidak bisa berbuat apa-apa atas perkataan mereka.
Karena pada nyatanya ibuku memang wanita kotor yang melayani orang-orang bodoh dan culas!
Aku benci semuanya, aku benci sekolah dan aku benci rumah yang menurut mereka rumah adalah tempat pulang, tetapi ... bagiku rumah adalah tempat sampah rusak yang harus segera dibakar.
Emosiku semakin naik, setelah mendengar suara mendesah dari balik kamar. Pelupuk mata yang tadi terpejam kini reflek terbuka menatap pintu itu dengan tajam.
"Sialan! Bukannya berubah malah makin menjadi," ujarku sambil menahan napas dendam. Baru saja tadi pagi ibu berjanji padaku untuk tidak melayani warga atau tetangga terdekat kami, sekarang malah mendesah keenakan di siang bolong begini!
Suara ibu semakin menjadi, aku yang panik karena takut terdengar dari luar dan malah menimbulkan masalah lagi seperti kemarin. Langsung beranjak menghampiri pintu mengetuknya kuat. "Buk ... Buk ... ini Dira, Buk. Tolong buka pintunya," panggilanku yang tiba-tiba terpotong setelah melihat pintu kamarku malah terbuka.
Alisku menaut, bola mataku membulat menatap seorang pria bertelanjang dada dan perut yang buncit baru saja keluar dari kamarku.
"Eh ... Neng Dira udah pulang, om tunggu dari tadi di dalam kamar loh ...." Wajahnya tersenyum mengeluarkan gigi yang berwarna kuning, tubuhnya tambun dengan rambut acak keriting dan berkeringat.
Aku bergidik ngeri menatapnya dari depan pintu yang sedari tadi tidak terbuka ... tubuhku terasa kaku dan lidahku kelu padahal aku ingin sekali teriak sekencang mungkin setiap tapak kakinya melangkah menghampiriku.
Tubuhku gemetar hebat saat pria itu mulai menyentuhku dan tangannya mulai masuk secara perlahan ke dalam rok berwarna abu-abu yang saat ini kukenakan.
Lidahnya menjulur, air liurnyaa mulai berjatuhan mengenai wajahku. Jantungku berdegup kencang ... aku berusaha sekuat mungkin melawan rasa takut agar lidahku tidak kelu.
"I-i-i-buuuuu ...," teriakku dengan menggedor pintu sangat kencang. "I-i-i-ibuuuuu ...," teriakku lagii.
Namun, semakin aku berteriak semakin pria itu mengulum bibirku dan tubuhku yang kecil kini terjatuh dengan posisi di bawah tubuh pria gila ini, diri ini mulai kesusahan untuk berteriak sebab mulutku sudah sepenuhnya di dalam mulutnya, aku pun juga kesusahan untuk melawan, tubuhnya sangat berat ... aromanya seperti got sangat menjijikkan.
Aku menangis pasrah menatap pintu, sambil berharap ibu akan mengasihaniku. Air mataku menetes deras, kancing bajuku mulai satu persatu pria itu membukanya.
Dan sekarang ... baju seragam yang kukenakan lepas sudah, ia melempar baju itu tepat di samping wajahku.
Tek!! Suara pisau kater yang jatuh bersamaan dengan baju yang dilempar kuat di depan mata.
Dengan cepat aku mengambilnya, lalu ....
Crakk!!!!
Goresan panjang kubuat di wajah pria jelek itu, ia reflek menjauhiku mengerang kesakitan menutupi wajahnya. Aku segera bangkit dan berlari menjauh darinya ....
"Sialan!" pria itu mengumpat sambil menggetarkan gigi dan memasang mimik wajah yang begitu menyeramkan. Ia menghusap darah yang menetes dari wajahnya lalu melihat telapak tangannya yang sudah dipenuhi oleh darah.
"Cih! Cari mati kau rupanya ...." Ia menatapku tajam, kemudian berlari menghampiriku.
Aku pun juga berlari ke arah luar, berteriak meminta pertolongan. "Tolong ... tolong," teriakku sekencang mungkin dan tubuh pria itu berhenti di balik pintu lalu menutupnya.
Aku menangis, meraung dan tersungkur di halaman rumah. Masih kutatap ke arah dalam yang sama sekali ibu tidak keluar dari sana untuk sekedar mengkhawatirkan keadaanku sedikit saja ....
Tiba-tiba, entah dari mana datangnya seorang pria paruh baya memakai kemeja batik menutup tubuhku dengan kain jarik yang ia bawa.
Pria itu ketua RT di desaku dengan tatapan ramah ia menanyakan apa yang sebenarnya terjadi. "Ndok ... ada apa?"
Tubuhku masih gemetar, lidahku sangat kelu untuk menjelaskan, tangisku tersengal terdengar pecah.
"P-pak ... t-tolonng aku, bawa warga ke rumahku dan bakarlah rumah ini! Ada banyak sampah di dalamnya!" ujarku yang masih gemetar.
Pak RT hanya mengangguk mengiyakan, tidak lama setelah ia menghubungi seseorang datang banyak warga mengerumuni rumahku.
Terlihat banyak orang yang mencebik melihat ke arahku, ntah apa yang mereka pikirkan tentangku. Tetapi wajah itu menggambarkan penuh kejijikan
"Silahkan, Pak ...." Aku mengangguk mempersilahkan.
Seluruh warga berkumpul menimpuki kaca rumahku dengan batu. "Keluarlah! Sarni! Keluarlah! Atau kami bakar rumah ini," teriak salah satu warga memanggil nama ibu dan mengancamnya.
Kemudian ibu keluar hanya menggunakan sarung yang ia pakai sebagai kemben menutupi dada, rambutnya masih acak bak tidak kenal malu dan tidak lagi takut oleh warga sekitar.
"Ada apa?" tanya ibu wajahnya datar, tetapi bola matanya tajam menyorot ke arahku.
"Pergilah dari sini jangan jadi tulah dan kesialan di desa ini!" teriak warga lain menimpali.
"Aku?" Alis ibu menaut seolah dibuat bingung, "Aku tidak melakukan apa pun?!" jawab ibu berkelit.
Aku menggeleng sambil menangis, semua warga kini balik menatapku tajam.
"Ohh ... anak itu, dia habis kupukuli karena sudah lancang menjual diri pada temanku. Kupukuli habis-habisan ... aku tidak mau ia salah melangkah sepertiku dulu ...." Ibu menyeringai lalu melanjutkan perkataannya lagi. "Lalu apa aku salah mengajarkan anakku, agar tidak salah melangkah?" tanya ibu tersenyum manis.
Aku menggeleng lagi, tubuhku merapat pada pak RT. "Pak, Buk ... tolong periksa rumah kami," jawabku pelan.
Pak RT mengangguk dan mempersilakan beberapa warganya untuk masuk.
Beberapa menit mereka masuk lalu kembali lagi, "Tidak ada apa-apa di dalam, Pak. Hanya ada bau alkohol yang menyeruak di dalam sana."
Ibu menyeringai puas. "Anak itu sudah mencoba mabuk-mabukkan semalam, Pak! Jadi wajar dong kuhajar dia habis-habisaan!" ucap ibu yang sudah lihai dalam mengarang cerita.
Semua warga menggeleng menatapku penuh dengan kebencian.
"Ibu sama anak ... sama aja!"
"Wajar sih keturunan, buah jatuh nggak jauh dari pohonnya!"
"Ibunya mau berubah, malah sekarang anaknya yang berulah!"
Begitulah rentetan kata-kata yang mereka ucapkan ke arahku.
Kemudian pak RT menepuk bahuku berkali-kali. "Ndok ... turutilah ibumu, dia menghajarmu karena ingin dirimu menjadi yang lebih baik lagi. Pesan bapak ... jangan lakukan hal yang sama lagi yaa, Ndok ...."
Sekarang pria itu menghusap rambutku lalu pergi bersamaan dengan perginya para warga meninggalkan aku sendiri yang masih menunduk dan menangis, tidak lagi sanggup melihat wajah perempuan jahanam di hadapanku.
Plak!!
Tamparan kuat melayang di wajahku, "Kau bodoh!" umpatnya, matanya melotot hampir melompat keluar seperti di film zombie.
Lalu mencengkram tanganku kuat, ditariknya aku untuk masuk ke dalam. Aku menolak untuk masuk, meski aku tahu pria bejat itu pasti sudah melarikan diri lewat pintu belakang. Tetapi, rasanya ... tubuh ini sudah enggan untuk masuk.
"Aku ingin ke rumah ayah ...," ujarku yang entah keberapa kali aku mengucap ingin ke rumah ayah.
Ibu tersenyum miring seketika, "Ck! Kamu lupa? Ayahmu sudah nggak menemuimu 12 tahun lamanya! Dia tidak lagi peduli padamu, Dira!" bentak ibu wajahnya merah padam sangat menakutkan.
"Aku nggak peduli, setidaknya aku nggak hidup bersama ibu sepertimu!" teriakku tidak kalah keras.
"Seperti apa maksutmu?!" tanyanya dengan wajah yang semakin menyeramkan. "Ibu yang kamu maksut kotor begini juga bisa menyekolahkanmu hingga kau SMA, Dira! Mana ayahmu yang selalu kau puja-puja dan kau sebut? Tidak ada kan?!"
Aku terdiam ....
Benar perkataan itu, aku juga ikut menikmati hasil dari jerih payah keharaman ibu.
Di saat kami saling diam, tidak lama pria paruh baya yang samar kumengingatnya datang menemui kami.
"Assalamualaikum, Sarni ...," panggilnya.
Lalu aku dan ibu menoleh secara bersamaan memandang nya. "Walaikumsalam," jawabku yang masih memandang wajahnya untuk memastikan siapa dirinya.
"Mbak ... aku datang kemari memberi tahu jika Bang Hadi meninggal jam 10 siang tadi akan dimakamkan secepatnya hanya menunggu Dira dan Mba Sarni lagi."
Aku ternganga berapa detik tidak percaya yang pria itu katakan adalah nama ayahku, bagiku semuanya terlalu mendadak. Aku belum siap untuk mendengar kabar itu ... bahkan rindu ingin bertemu pun belum juga terkabulkan, malah sudah tertinggal lagi untuk kedua kalinya ....
"Hargh!"
Ibu menarik napasnya kasar lalu ia tertawa sebentar. "Dua belas tahun nggak memberi kabar, sekarang kebetulan banget baru aja lelaki itu diomongin. Sudahlah ... aku nggak sempat untuk menemuinya, Jika Dira mau ajaklah dia ...," ujar Ibu sembari melangkah mengarah masuk ke dalam rumah meninggalkan kami berdua di depan halaman rumah.
Hanum, seorang istri yang selalu percaya Tuhan sudah menentukan dirinya untuk siapa, meski jalannya salah, pahit, sampai rusak sekali pun dia berjanji akan tetap menata masa depannya sebaik mungkin ... hingga ia menemukan penawarnya.
Kehidupan ... mungkin bagi bagian seseorang kehidupan ini sangat menyenangkan, namun tidak dengan Erni. Hidupnya penuh dengan kesakit hatian, batin maupun fisik. Orang Tua yang seharusnya menjadi tumpuan hidupnya namun tak pernah mengakui Erni sebagai anak mereka, pukulan ... pelecehan ... beban hidup menahan lapar, sudah menjadi makanan sehari-hari untuk Erni yang masih duduk di kelas 2 SD. Namun Erni, mengalahkan semuanya dengan hidup yang hanya mengandal Tuhan. Hidupnya hanya bergantung pada doa dan mukjizat. Dan keajaiban-keajaiban yang ada di hidup Erni, telah membawa Erni menjadi gadis yang sangat di segani semua orang, yang pernah mencaci maki Erni kini berbalik menjilat ludah mereka sendiri. Abian kekasih Erni yang di kirimkan Tuhan menjadi malaikatnya, kini telah berubah menjadi pencabut nyawa yang menyakitkan untuk Erni.
Jin Leluhur itu pandai memilah dan memilih tubuh yang menurutnya pantas untuk dijadikan tempat kembali Jangan lupa komentar dan subcribe ya 💗
Cerita tentang kehidupan di kota kecil, walau tak terlalu jauh dari kota besar. Ini juga cerita tentang Kino, seorang pria yang menjalani masa remaja, menembus gerbang keperjakaannya, dan akhirnya tumbuh sebagai lelaki matang. Pada masa awal inilah, seksualitas dan sensualitas terbentuk. Dengan begitu, ini pula kisah tentang the coming of age yang kadang-kadang melodramatik. Kino tergolong pemuda biasa seperti kita-kita semua. Apa yang dialaminya merupakan kejadian biasa, dan bisa terjadi pada siapa saja, karena merupakan kelumrahan belaka. Tetapi, kita tahu ada banyak kelumrahan yang kita sembunyikan dengan seksama. Namun Kino mempunyai hal yang menarik yang dalam cerita ini lebih menarik dari cerita fenomenal lainnya.
Sinta butuh tiga tahun penuh untuk menyadari bahwa suaminya, Trisna, tidak punya hati. Dia adalah pria terdingin dan paling acuh tak acuh yang pernah dia temui. Pria itu tidak pernah tersenyum padanya, apalagi memperlakukannya seperti istrinya. Lebih buruk lagi, kembalinya wanita yang menjadi cinta pertamanya tidak membawa apa-apa bagi Sinta selain surat cerai. Hati Sinta hancur. Berharap bahwa masih ada kesempatan bagi mereka untuk memperbaiki pernikahan mereka, dia bertanya, "Pertanyaan cepat, Trisna. Apakah kamu masih akan menceraikanku jika aku memberitahumu bahwa aku hamil?" "Tentu saja!" jawabnya. Menyadari bahwa dia tidak bermaksud jahat padanya, Sinta memutuskan untuk melepaskannya. Dia menandatangani perjanjian perceraian sambil berbaring di tempat tidur sakitnya dengan hati yang hancur. Anehnya, itu bukan akhir bagi pasangan itu. Seolah-olah ada penghalang jatuh dari mata Trisna setelah dia menandatangani perjanjian perceraian. Pria yang dulu begitu tidak berperasaan itu merendahkan diri di samping tempat tidurnya dan memohon, "Sinta, aku membuat kesalahan besar. Tolong jangan ceraikan aku. Aku berjanji untuk berubah." Sinta tersenyum lemah, tidak tahu harus berbuat apa ....
Awalnya pernikahan itu baik-baik saja. Semua menjadi hangat, luka akibat masa lalu Ainayya Hikari Salvina sedikit demi sedikit mulai sembuh. Tapi pernikahan hangat itu tiba-tiba diterpa gelombang. Menghancurkan sebuah kepercayaan dan membuatnya meninggalkan rumah yang sudah mengajarkan arti sebuah keluarga harmonis. Lalu mampukah Albara Demian Dominic sang pelaku kehancuran tersebut memperbaiki rumah tangga yang sudah membuatnya sembuh dari kejadian di masa lalu? Bisakah Albara mengobati luka yang dia berikan pada istrinya? Mari kita lihat bagaimana perjalanan Albara dalam mengejar cinta istrinya kembali.
Novel ini berisi kompilasi beberapa cerpen dewasa terdiri dari berbagai pengalaman percintaan penuh gairah dari beberapa karakter yang memiliki latar belakang profesi yan berbeda-beda serta berbagai kejadian yang dialami oleh masing-masing tokoh utama dimana para tokoh utama tersebut memiliki pengalaman bercinta dengan pasangannya yang bisa membikin para pembaca akan terhanyut. Berbagai konflik dan perseteruan juga kan tersaji dengan seru di setiap cerpen yang dimunculkan di beberapa adegan baik yang bersumber dari tokoh protagonis maupun antagonis diharapkan mampu menghibur para pembaca sekalian. Semua cerpen dewasa yang ada pada novel kompilasi cerpen dewasa ini sangat menarik untuk disimak dan diikuti jalan ceritanya sehingga menambah wawasan kehidupan percintaan diantara insan pecinta dan mungkin saja bisa diambil manfaatnya agar para pembaca bisa mengambil hikmah dari setiap kisah yan ada di dalam novel ini. Selamat membaca dan selamat menikmati!
Pada hari Livia mengetahui bahwa dia hamil, dia memergoki tunangannya berselingkuh. Tunangannya yang tanpa belas kasihan dan simpanannya itu hampir membunuhnya. Livia melarikan diri demi nyawanya. Ketika dia kembali ke kampung halamannya lima tahun kemudian, dia kebetulan menyelamatkan nyawa seorang anak laki-laki. Ayah anak laki-laki itu ternyata adalah orang terkaya di dunia. Semuanya berubah untuk Livia sejak saat itu. Pria itu tidak membiarkannya mengalami ketidaknyamanan. Ketika mantan tunangannya menindasnya, pria tersebut menghancurkan keluarga bajingan itu dan juga menyewa seluruh pulau hanya untuk memberi Livia istirahat dari semua drama. Sang pria juga memberi pelajaran pada ayah Livia yang penuh kebencian. Pria itu menghancurkan semua musuhnya bahkan sebelum dia bertanya. Ketika saudari Livia yang keji melemparkan dirinya ke arahnya, pria itu menunjukkan buku nikah dan berkata, "Aku sudah menikah dengan bahagia dan istriku jauh lebih cantik daripada kamu!" Livia kaget. "Kapan kita pernah menikah? Setahuku, aku masih lajang." Dengan senyum jahat, dia berkata, "Sayang, kita sudah menikah selama lima tahun. Bukankah sudah waktunya kita punya anak lagi bersama?" Livia menganga. Apa sih yang pria ini bicarakan?
Tessa Willson dan Leonil Scoth telah menikah hampir dua tahun lamanya. Kesibukan Leo membuat Tessa merasa kesepian. Apa lagi akhir-akhir ini Leo tak pernah membuatnya puas di atas ranjang. Akibatnya Tessa sangat kecewa. Sampai akhirnya Arnold Caldwell datang di kehidupan Tessa dan Leo. Arnold adalah ayah sambung Leo. Arnold datang ke kota New York tadinya untuk urusan bisnis. Namun siapa sangka justru Arnold malah tertarik pada pesona Tessa. Keduanya pun berselingkuh di belakang Leo. Arnold memberikan apa yang tidak Tessa dapatkan dari Leo. Tessa merasakan gairahnya lagi bersama Arnold. Namun di saat Tessa ingin mengakhiri semuanya, dirinya justru malah terjebak dalam permainan licik Arnold. Mampukah Tessa terlepas dari cengkeraman gairah Arnold, dan mempertahankan pernikahannya dengan Leo?