Unduh Aplikasi panas
Beranda / LGBT+ / Cintaku Sudah Habis
Cintaku Sudah Habis

Cintaku Sudah Habis

5.0
5 Bab
161 Penayangan
Baca Sekarang

Tentang

Konten

Kaluna dan Citra harus putus karena hasutan dari Rina, tetapi ada bagian menarik yang akan terungkap. Bagaimana cara Kaluna bertahan hidup disaat Citra membencinya?

Bab 1 1

"Lihat nih kelakuan pacar kamu," ucap Rina kepada Citra sahabatnya memperlihatkan foto Kaluna sedang berciuman dengan perempuan lain.

"Ini ...."

"Kaluna udah mengkhianati kamu, Cit. Masih mau kamu sama dia yang pendusta," ucap Rina lagi.

"Nggak mungkin Kaluna kayak gitu, dia anak baik."

"Ya, dia anak baik karena kamu kaya. Bahkan, kamu kasih dia apartemen kan."

Citra terdiam, dan Rina berusaha menyadarkannya.

"Ingat, Cit. Kamu aja nggak tahu siapa orang tua Kaluna," ucap Rina lagi.

"Apa yang dikatakan Rina itu benar," sambung Fara, Tantenya Citra.

"Tuh, Tante kamu aja setuju sama aku."

Citra meremas foto itu dan menitikkan air matanya.

"Kamu masih belum percaya, aku ada bukti lain nih." Rina mengeluarkan banyak foto Kaluna dengan perempuan lain.

"Menjijikkan," ucap Fara melihat foto itu, "ambil kembali apartemen yang kamu berikan ke gadis itu, Citra. Tante nggak sudi, dia tinggal di apartemen itu."

'Kenapa kamu lakuin ini ke aku, Kal,' batin Citra merasa sakit hati.

"Biar aku yang urus," ucap Citra.

"Ingat Cit, apartemen itu harus bersih dari parasit!" Rina mengingatkan kembali.

"Hemm ...."

"Kalau gitu Tante pergi dulu," pamit Fara.

"Kita juga harus ke sekolah, Cit," ajak Rina.

"Iya," ucap Citra lagi.

Mereka berdua pergi ke sekolah jalan kaki, karena jaraknya sangat dekat.

Sedangkan Kaluna sudah menunggu Citra di depan gerbang.

"Citra, Rina," panggil Kaluna melambaikan tangannya.

"Aku mau ngomong sama kamu," ugal Citra setelah sampai di depan gerbang.

"Kamu mau ngomong apa?" tanya Kaluna.

"Ikut aku," sahut Citra, "Rina kamu nggak usah ikut, biar aku yang urus."

"Ok." Rina langsung pergi.

Lalu Citra dan Kaluna pergi ke belakang sekolah.

Kring! Kring!

Kaluna terlihat sembab matanya karena Citra memutuskan hubungan secara sepihak, ia butuh jawaban dan penjelasan.

Di saat jam istirahat, Kaluna menatap Citra.

"Jelasin, kenapa mutusin aku?" tanya Kaluna.

"Karena kamu jalang!" sahut Citra dengan tegas.

"Apa buktinya aku jalang."

"Mau bukti, ini apa?" Citra memperlihatkan semua foto yang diberikan Rina, "kamu selingkuh sama Felin."

"Aku nggak deket sama Felin."

"Jangan bohong, aku pernah lihat kalian ngobrol di toilet."

"Felin cuma tanya tentang jadwal pelajaran, itu aja."

"Alasan yang buruk, mulai hari ini pergi dari apartemen. Besok harus sudah kosong, aku nggak sudi!"

Kaluna tersentak kaget mendengar ucapan Citra.

"Seharusnya dari awal aku nggak pacaran sama orang miskin kayak kamu," ucapnya Citra, "kamu cuma manfaatin uang aku kan."

"Enggak gitu, Cit. Aku ...."

"Kita udah putus, jangan panggil aku sayang lagi. Dan jangan pernah berharap kita balikan, ngerti!" tekan Citra.

Selama di sekolah, Kaluna berusaha mengajak Citra untuk bicara. Akan tetapi, semua itu gagal karena Rina yang menghalangi.

"Jangan deketin Citra lagi," ucap Rina di belakang sekolah.

"Aku tahu," sahut Kaluna.

"Bagus deh, kalau kamu sadar diri."

"Kamu kan yang edit foto itu," ucap Kaluna tiba-tiba, "aku juga tahu kamu suka dengan Citra. Cara kamu nyingkirin aku, itu murahan!"

"Bangs*t!" maki Rina ingin menyerang Jaluna. Tetapi, Kaluna sudah pergi lebih dulu. "Sialan, kamu Kaluna."

Kaluna melihat Citra berada di dalam mobil, ia langsung mendekatinya.

"Sayang," panggil Kaluna, "aku mau ngomong sama kamu. Aku nggak selingkuh sama Felin, Rina fitnah aku, Cit."

Brak!

Citra membuka pintu dan langsung menampar Kaluna.

Plakk!

"Jangan pernah salahin Rina!" bentak Citra, "kamu jangan mengalihkan kesalahan ke orang lain, jijik aku sama kamu!"

"Citra sayang, aku ...."

"Jangan panggil aku sayang, berhenti! Kita udah putus, jangan paksa aku buat balikan!" teriak Citra sampai semua orang menatap ke arah mereka.

"Lihatlah, cewek nggak tahu diri dan rasa punya malu. Udah diputusin masih saja ngejar, emang yah, orang miskin kayak Kaluna cuma mau uangnya Citra doang!" teriak Rina.

"Wah, parah ...."

"Gila ya, Kaluna."

"Kaluna itu orang miskin ternyata."

"Jadi selama ini semua yang dia pakai pemberian Citra."

"Ou, dasar miskin!"

Semua hinaan yang diterima Kaluna begitu menyakitkan.

"Aku enggak pernah manfaatin Citra yah," ucap Kaluna membalas mereka semua.

"Alah, miskin tetap miskin!" teriak yang lain lalu melempari Kaluna dengan sampah.

'Kaluna,' batin Citra merasa kasihan.

"Citra, ayo kita pulang." Rina langsung mengajak Citra pulang.

"Tapi Kaluna ...."

"Nggak usah pikirin dia," ucap Rina dengan cepat.

"Iya," sahut Citra.

Saat Kaluna sampai di apartemen, ternyata semua barangnya sudah dikeluarkan.

"Apa-apaan ini," ucap Kaluna.

"Kamu harus pergi dari sini," sahut Fara tiba-tiba datang.

"Tante Fara," ucap Kaluna menatapnya dengan tajam.

"Saya bengi tatapan kamu itu," sahut Fara, "pergi dari sini!"

"Aku bakalan buktiin ke semua orang kalo aku nggak salah!" ucap Kaluna dengan tekad lalu membawa semua barangnya.

"Cihh, bocah merepotkan!" kesal Fara, "seenggaknya dia pergi dari apartemen ini. Nggak sudi aku dia tinggal gratis, emang dia siapa?"

Kaluna menatap gelangnya untuk dijual, ia sudah tidak punya uang lagi.

"Ini berapa, Kak?" tanya Kaluna.

"Kalau yang ini cuma dikit naik harganya, Dek."

"Nggak papa."

"Ya udah, sini gelangnya saya timbang."

"Ini Kak."

Gelang Kaluna dijual laku dengan harga 6 juta, awalnya membeli 7 juta hadiah dari sang mama waktu masa SMP dulu.

Setelah menerima uang, Kaluna mencari kost untuk ia bernaung.

"Disini satu bulannya 300, udah termasuk air dan listrik. Tapi, untuk kamar dan kasur sama alat makan bawa sendiri yah."

"Iya."

Kaluna masuk ke dalam kamar dan melihat ruang yang kosong.

"Mirip banget sama hatiku," ucap Kaluna sambil terkekeh melihat keadaannya saat ini.

'Aku harus cari kerjaan,' batin Kaluna.

Kaluna langsung mencari kerjaan sambil membeli kompor dan alat dapur.

"Saya beli ini, Pak," ucap Kaluna menunjuk magicom mini dengan harga 250 ribu.

"Sama apalagi?" tanya penjual.

"Kompornya, yang satu tungku aja."

"Ini harganya 200 ribu."

"Wajan sama teko rebus air?"

"50 ribu ."

Kaluna juga membeli piring dan sendok serta gelas dengan harga 50 000. Harga itu cocok, karena ia hanya membeli 2 piring, 2 gelas, 2 sendok, 2 mangkok, dan spatula.

Setelah semuanya dia beli, ia pun kembali ke kost untuk menyusun barangnya.

Saat melewati toko sembako, Kaluna melihat lowongan kerja dari jam 14. 30 sampai jam 00.00. Seketika wajah Kaluna tersenyum, ia langsung masuk dan bertanya.

"Bu, lokernya masih ada?"

"Masih ada."

"Saya mau kerja, Bu?"

"Ya udah, besok mulai kerja yah."

"Iya, makasih Bu."

"Sama-sama."

Kaluna langsung ke kost, ia menyusun barangnya.

"Kayaknya aku harus beli sabun deh untuk cuci piring dan baju," gumam Kaluna, "warung disamping buka kayaknya."

Kaluna ke samping dan membeli sabun, tidak lupa beras, bumbu, dan telur juga mie instan.

Ibu warung itu terkejut karena Kaluna kembali lagi.

"Loh, kok, balik lagi. Apa ada yang ketinggalan?" tanya ibu warung.

"Saya lupa beli minyak goreng sama kecap," sahut Kaluna.

"Ouh, mau minyak yang mana?"

"Yang pakai botol aja, Bu."

"Ya udah."

"Berapa harganya?" tanya Kaluna.

"25 ribu," sahut ibu warung.

"Ini Bu."

Kaluna pun masuk kembali ke dalam kostnya dan mulai memasak, malam ini dirinya hanya memasak telur ceplok dan nasi juga kecap.

Paginya, Kaluna ke sekolah seperti biasa. Saat masuk, ia melihat Citra.

"Cit," panggil Kaluna.

"Iya kita pergi, Cit," ajak Rina.

"Hemm," sahut Citra langsung pergi.

Kaluna yang melihat itu tidak mengejarnya, tetapi jika bertemu ia akan memanggil Citra.

Selama jam pelajaran, Kaluna terus menatap Citra. Sehingga, Citra jadi kesal dan melempar pulpen ke arah Kaluna.

Pulpen itu mengenai pelipis Kaluna, Citra sama sekali tidak merasa kasihan. Berbeda dengan Rina yang bahagia, akhirnya sang sahabat berhasil menolak Kaluna.

Kring! Kring!

Saat lonceng dibunyikan dan murid keluar untuk ke kantin, Kaluna langsung mendekati meja Citra.

"Mau ke kantin, aku traktir."

"Orang miskin kayak kamu bisa neraktir aku," ucap Citra.

"Ya bisalah," sahut Kaluna walaupun ucapan Citra melukai hatinya.

"Jangan mimpi deh!"

Bruk!

Rina mendorong Kaluna dan berkata kasar, "Jangan deketin Citra lagi, paham nggak sih!"

"Aku paham kok, Rin. Tapi, aku nggak mau putus dari Citra."

"Dasar nggak tahu diri!" marah Rina lalu menampar pipi Kaluna.

Plak!

"Rina," ucap Citra.

"Cit, ayo kita pergi." Rina langsung menarik tangan Citra.

Sampai di kantin, Citra memarahi Rina. "Kamu keterlaluan banget sih!"

"Ya habisnya dia gangguin kamu," ucap Rina.

"Tapi jangan ditampar juga," sahut Citra.

"Ah, sudahlah. Kita pesen bakso aja dulu," ucap Rina malas mendengar ucapan Citra.

Ternyata dari jauh Kaluna mendengar itu semua, ia semakin yakin jika Citra masih mencintainya.

'Aku yakin, Cit. Kamu masih mencintai aku,' batin Kaluna.

Waktu berjalan begitu cepat, Kaluna terus mengikuti Citra.

"Kamu bisa nggak sih, nggak ngikutin aku!" kesal Citra.

"Aku bakalan ikutin kamu terus," sahut Kaluna.

"Dasar nggak tahu diri, sama Felin aja kamu sana!" teriak Citra lalu mendorong Kaluna sampai terbentur dinding sekolah.

"Cit, aku yakin kamu masih cinta kan sama aku."

"Diam! Aku nggak cinta lagi sama kamu, Kaluna!"

"Citra ...."

"Pergi!"

"Aku nggak mau."

"Pergi atau aku yang pergi."

Kaluna langsung pergi, dia tidak ingin melihat Citra menangis lagi.

Pulang sekolah pun, Kaluna harus jalan kaki. Biasanya dia dijemput sama Citra di apartemen, karena sudah diusir ia harus mandiri.

"Kasihan deh loh," ejek Rina dan disampingnya adakah Citra, "jalan kaki nih, dasar miskin. Untung Citra udah nggak sama kamu lagi, coba kalau masih ... uhhh, udah jadi ATM berjalan kamu, Cit."

"Udahlah, jalan Rin."

"Ok, sayang ...."

Kaluna hanya terdiam melihat mobil Rina dan Citra menjauh, tak disangka Felin mendekat.

"Putus," ucap Felin.

"Bukan urusan kamu," sahut Kaluna.

"Aku nggak terima difitnah," ucap Felin tiba-tiba, "aku sama kamu nggak ada hubungan apa-apa."

"Terus?"

"Aku mau kita kerja sama."

"Kenapa kamu ingin kita kerja sama?" tanya Kaluna.

"Aku bisa diamuk sugar Mommy-nya aku kalau nggak dituntasin."

"Kamu ...."

Felin tersenyum pada Kaluna, "Kamu jangan kaget yah. Nanti aku jelasin, oh yah, kapan bisa ketemu?"

"Aku harus kerja," ucap Kaluna.

"Kamu kerja apa?"

"Jaga toko."

"Ok, nama tokonya."

Kaluna memberitahu nama tokonya, dan Felin berkata ingin kesana nanti sore.

"Ok, aku duluan yah. Kamu hati-hati di jalan," ucap Felin lalu pergi.

Sedangkan Kaluna menghela napasnya dengan dalam, ia pun melanjutkan langkah kakinya ke kost.

Sampai di kost, Kaluna mengganti baju dan makan. Baru ia berangkat ke toko, pemilik toko mengajak ke ruang kerjanya untuk memberitahu masalah gaji.

"Kaluna, untuk gaji kamu 2 juta satu bulan yah."

"Iya, Bu."

"Karena kamu mau perminggu, jadi satu Minggu 500 ribu."

"Iya."

"Kamu sudah makan?" tanya pemilik toko.

"Saya sudah makan, Bu," sahut Kaluna.

"Baik, untuk makan dua kali yah. Sore sama malam, jadi nanti ada jam istirahatnya."

"Iya."

"Kamu boleh kerja sekarang."

"Baik, Bu."

Karena hari ini pertama masuk bekerja, Kaluna sangat bersemangat meskipun tubuhnya lelah.

Felin sendiri langsung berangkat ke toko dimana Kaluna bekerja, ia pun minta izin kepada sugar Mommy-nya.

Drrt!

"Hallo Mom," ucap Felin.

"Ada apa?" tanya sugar mommy.

"Ikh, Mommy ... jangan datar-datar dong."

"Ya udah, ada apa?"

"Aku boleh keluar."

"Mau kemana kamu?"

"Ish, Mommy kan minta aku buat tanggung jawab masalah foto itu."

"Ouhh, itu yah."

"Iya."

"Mau kemana?"

"Toko, disana ada temen aku mau bahas foto laknat itu."

"Ok, nanti kalo dah sampai toko langsung share location."

"Siap, Mommy."

"Hemm."

Tut!

Di toko, Kaluna dapat makan sore. Pemilik warung memberikan ayam dan nasi juga sambal.

"Kaluna, ini makan dulu."

"Iya, Bu. Oh ya, ada temen saya yang datang, nggak papa kan?"

"Nggak papa, yang penting orangnya baik."

"Makasih, Bu."

Felin pun datang dengan gojek yang ia pesan.

"Kaluna," panggil Felin.

"Aku disini," sahut Kaluna.

"Ouh, disana ternyata."

Felin masuk ke dalam toko dan melihat Kaluna makan.

"Kamu masih makan yah."

"Langsung aja, kalo mau ngomong nggak perlu tunggu aku selesai makan."

"Ok."

"Jadi gimana?" tanya Kaluna.

"Kita harus cari bukti kalau foto itu editan," sahut Felin.

"Caranya?"

"Kita tanya ke pakar foto."

"Mahal ..."

"Tenang aja aku yang bayar, tapi aku butuh nomor kamu."

"Aku nggak punya kouta."

"Apa!"

"Iya."

"Kasihan banget hidup kamu, sini aku beliin kouta."

"Nggak usah."

"Loh, rezeki jangan ditolak."

"Aku bukannya nolak tapi aku nggak mau terus hidup dibantu orang, aku bukan orang miskin."

"Haahh ... kamu ini," ucap Felin bingung.

Beberapa jam kemudian, Felin pamit pulang.

"Aku pulang dulu yah," ucap Felin.

"Iya, kamu hati-hati."

"Ok."

Kemudian Kaluna bersiap menutup tokonya, tidak lupa juga memeriksa aliran listrik, kompor, dan benda elektronik lainnya.

Setelah itu Kaluna pulang ke kost, tetapi di tengah jalan. Ia melihat seseorang, matanya terbelalak. Kaluna ingat orang itu, "Dia ...."

Kaluna langsung mengikuti orang itu dengan menyelinap ke mobilnya, ia harus tahu dimana orang itu tinggal.

Setelah mobil berhenti di depan rumah mewah, orang itu menerima telpon dan Kaluna yang bersembunyi di bagian belakang memasang telinganya dengan baik.

"Hallo," ucap orang itu, "beri dia minum!"

Tut!

"Monica, kamu nggak akan bisa bebas. Siapa suruh menjadi penghalangku mendapatkan Fara," gumam orang itu.

'Apa maksudnya,' batin Kaluna, 'apa hubungannya dengan Mama. Jangan-jangan ....'

Kaluna meneguk salivanya dengan berat, ia yakin orang ini sudah menyembunyikan sang mama.

Dengan sangat hati-hati Kaluna keluar dari mobil lalu pergi secara diam-diam, ia nanti akan mencari tahu lebih detail lagi.

Sementara Felin, baru saja sampai di apartemen sudah ada Rina.

"Ngapain kamu ada di apartemen aku?" tanya Felin.

"Jangan pernah bantu Kaluna atau aku bakalan suruh napi lain siksa Mama kamu di penjara!" ancam Rina.

"Kamu!" tunjuk Felin.

"Kenapa?" tanya Rina, "kaget yah, aku bisa tahu kalo mama kamu itu seorang narapidana."

Degh!

Keesokan harinya, Kaluna berangkat ke sekolah. Ia masih sama ingin bertemu dengan Citra.

"Pagi Cit," sapa Kaluna.

"Apaan sih!" ketus Rina, "pergi sana!"

Rina langsung menarik tangan Citra dan pergi membawanya.

Felin yang melihat itu langsung mendekat, "Ada yang mau aku omongin."

Kaluna menoleh, "Iya."

Felin mengajak Kaluna ke belakang sekolah, "Kal ...."

"Mau ngomong apa?" tanya Kaluna.

"Aku diancam sama Rina," sahut Felin.

"Ya udah nggak papa, jangan bahayain diri kamu sendiri."

"Maaf yah ...."

"Santai aja."

"Kal, apa kamu masih mau temenan sama aku."

"Emang kenapa?"

"Kamu kan tahu, aku jadi sugar baby dan sebenarnya ...."

"Iya."

"Sebenarnya mama aku narapidana," ucap Felin, "aku dah jujur sama kamu."

"Nggak masalah," sahut Kaluna, "yang penting hati kamu baik."

"Kal, kamu ...." Felin tidak menyangka Kaluna malah menerimanya.

"Kost aku terbuka buat kamu," ucap Kaluna, "sudah dulu, aku mau ke kelas."

Felin pun tersenyum dan berjanji akan membantu dan selalu membela Kaluna.

Sambil berjalan di koridor, Kaluna terus berpikir dengan kejadian tadi malam.

'Marko, iya. Aku ingat dia Marko, orang yang sudah membawa mamaku pergi. Aku yakin dia yang menyekap mamaku, brengsek!' batin Kaluna, 'aku harus cari tahu dimana dia menyekap mama.'

Brukk!

Kaluna tidak sengaja menabrak Citra, ia pun meminta maaf.

"Citra, maaf yah. Apa ada yang sakit?" tanya Kaluna penuh perhatian.

Bugh!

Tiba-tiba Rina datang menampar Kaluna, "Jangan pernah deketin Citra, kamu tuli yah."

"Aku rasa kamu selalu ikut campur, Rin. Citra aja nggak ngusir aku tapi kenapa kamu yang kepanasan."

"Diam! Ayo Cit, kita pergi dari sini dan ingat kamu bisa dimarahin sama Tante Fara kalau deket sama dia!"

"Ya aku tahu!" ucap Citra cemberut dan langsung pergi.

Rina menatap Kaluna dengan penuh kebencian.

"Dikurang-kurangin benci sama orang," ucap Kaluna lalu pergi.

"Brengsek!" maki Rina.

Kaluna sangat lelah, ia memilih untuk tidur di perpustakaan. Mungkin jam berikutnya akan tertidur lagi di kelas.

Sedangkan di kantor, Fara tengah pusing dengan kelakuan Marko.

"Kenapa lagi, Far?" tanya Nindi.

"Aku pusing, Nin," sahut Fara.

"Pusing ...."

"Iya."

"Pusing kenapa?"

"Marko ganggu aku terus," adu Fara.

"Apa! Emang Marko udah balik yah?"

"Iya, dia udah balik."

"Ya udahlah terima aja."

"Aku nggak cinta sama dia," ucap Fara.

"Kamu masih belum move on yah dari Monica," tebak Nindi.

"Diam kamu!" ketus Fara.

"Ya ampun, Far. Lupain ajalah si Monica, dia udah khianatin kamu tahu."

"Aku tahu itu tapi susah, Nin."

"Makanya kamu harus deket sama cewek baru."

"Nggaklah."

"Kenapa sih, kamu nolak terus. Kaya aku dong, punya sugar baby. Mau aku carikan sugar baby," tawar Nindi.

"Jangan macam-macam deh, Nin," ucap Fara, "sudahlah, lanjut kerja."

"Iya deh ...."

Kring! Kring!

Kaluna mengajak Citra bicara, " Cit, aku mau ngomong sama kamu tanpa Rina."

"Harus sama aku," ucap Rina.

"Rina, bisa nggak kamu jangan ikut campur!" kesal Kaluna.

"Nggak bisa, aku dah dapat amanah dari Tante Fara buat jagain Citra."

"Huh ... Cit, kamu mau kan ngomong sama aku."

"Maaf, Kal. Aku nggak bisa," ucap Citra.

"Kenapa Cit?" tanya Kaluna.

"Kita udah putus," sahut Citra, "dan nggak ada hubungan apapun lagi."

"Kita putusnya secara sepihak, Cit. Belum sah, pokoknya kamu masih pacar aku."

Rina yang dari tadi mendengar jadi jengkel dan langsung mendorong Kaluna.

"Bisa nggak!" teriak Rina, "jangan ganggu Citra!"

"Kamu jangan dorong-dorong dong," ucap Kaluna.

"Apa!" tantang Rina dengan tatapan tajamnya sambil berjalan pinggang.

"Cihh!" decih Kaluna lalu pergi mengejar Citra.

Citra yang ingin menuju mobil langsung disusul oleh Kaluna.

"Sayang," panggil Kaluna.

"Ada apalagi sih, Kal," ucap Citra mau nangis, "kita itu udah putus."

"Nggak ada kata putus, aku masih sayang sama kamu."

"Bulshit tahu nggak kamu tuh, bikin aku ilfeel!" teriak Citra, "jauh-jauh dari aku, Kaluna!"

"Brengsek!" maki Rina langsung menampar Kaluna.

Bugh!

"Apa kamu tuli, Kal!" teriak Rina, "Citra udah nggak mau ngomong sama kamu lagi. Jangan ganggu dia, ngerti! Ayo Cit masuk ke dalam mobil, biar aku yang urus."

"Makasih Rin."

"Iya."

"Sayang," ucap Kaluna ingin menggapai tangan Citra tetapi langsung didorong oleh Rina.

"Aku bilang jangan!" ucap Rina sambil berteriak, "dasar nggak tahu malu!"

Semua murid menatap ke arah Kaluna dan jadi bahan gunjingan.

"Ikh, bikin malu aja."

"Biasa orang miskin numpang."

"Citra kan orang kaya, lah dia orang miskin."

"Makanya jangan belagu, sok-sokan selingkuh sama Felin."

"Gila yah, mau-maunya Citra pacaran sama dia yang miskin."

Itulah hinaan beberapa siswa yang Kaluna dengar.

"Itu semua nggak bener," balas Kaluna kepada semua orang, "aku bakalan buktiin itu semua. Citra!"

Citra langsung terdiam di dalam mobil mendengar namanya dipanggil begitu keras.

"Aku bakalan buktiin sama kamu kalau aku orangnya setia, nggak selingkuh seperti yang pikirin."

"Huuuu ...." murid-murid lain menyoraki Kaluna dan melemparinya dengan sampah mulai dari atas.

Felin yang melihat itu jadi kasihan, ia pun langsung menarik Kaluna dari lapangan.

"Ayo ikut aku," ucap Felin.

"Felin," sahut Kaluna terkejut.

Dari dalam mobil Citra merasa cemburu tangan Kaluna dipegang oleh Felin.

Rina yang mendapatkan kesempatan untuk menjelekkan Kaluna pun mulai beraksi, "Kamu lihat Cit, bahkan dia mau aja dipegang tangannya sama Felin."

"Ayo jalan," ucap Citra.

"Iya," sahut Rina merasa puas.

'Moga aja Citra tambah benci sama Kaluna, dan aku bisa milikin Citra seutuhnya.'

Masih di sekolah, Felin bertanya kepada Kaluna. "Kamu kenapa sih, nggak menghindar?"

"Nggak papa."

"Kal, Rina itu harus dilawan."

"Aku tahu ...."

"Terus?"

"Belum saatnya ngelawan dia, ada hal yang lebih penting."

"Maksudnya?"

"Kamu nggak perlu tahu, btw makasih banget nolongin aku tadi."

"Sama-sama."

"Ya udah aku pulang dulu," pamit Kaluna.

"Mau aku antar," tawar Felin.

"Nggak usah, Lin. Aku bisa kok," ucap Kaluna menolak tawaran Felin.

"Ya udah, kamu hati-hati yah."

"Iya."

Sampai di kost, Kaluna langsung mandi dan makan siang. Baru siap-siap pergi ke toko, dirinya harus siaga malam ini ke rumah Marko.

'Aku harus ke rumah Marko malam ini,' batin Kaluna, 'siapa tahu ada petunjuk tentang mama.'

Sampai di toko, Kaluna langsung membuka tokonya dan pembeli berdatangan memberi beras dan barang lainnya.

Dengan penuh semangat Kaluna melayani para pembelinya, ibu yang pemilik toko merasa senang melihat pekerjaan Kaluna.

"Semangat banget anak itu," gumam pemilik toko.

Sampai pada akhirnya, Kaluna menutup toko dan bersiap pulang ke kost untuk mencari informasi di rumah Marko.

Kaluna memakai jaket hitam dan masker, tidak lupa celana jeans.

'Ini kan rumahnya,' batin Kaluna langsung memanjat pagar dan melompat. 'Aku harus hati-hati sama cctv.'

Lanjutkan Membaca
img Lihat Lebih Banyak Komentar di Aplikasi
Rilis Terbaru: Bab 5 5   02-23 20:52
img
1 Bab 1 1
23/02/2025
2 Bab 2 4
23/02/2025
3 Bab 3 3
23/02/2025
4 Bab 4 4
23/02/2025
5 Bab 5 5
23/02/2025
Unduh aplikasi
icon APP STORE
icon GOOGLE PLAY