/0/21487/coverbig.jpg?v=0ac87d32e96af18e2cb6c0cf3e61df32)
Kehidupan rumah tangga Tiara Maheswari yang dianggap baik-baik saja, ternyata tidak. Reno Sebastian yang selama ini sangat mencintai sang istri. Kini dia telah membagi hatinya dengan wanita lain. Sang suami ternyata telah menikah lagi secara diam-diam. Akankah Tiara mempertahankan rumah tangganya atau lebih baik pergi di kehidupan sang suami?
"Papa mau ke mana? Kenapa buru-buru sekali?" tanya Tiara kepada Reno
"Papa ada keperluan mendadak. Klien Papa tiba-tiba menghubungi Papa. Sudah ya, Papa harus ke sana." Reno meninggalkan Tiara begitu saja.
"Ini sudah malam. Memangnya tidak bisa besok lagi!" teriak Tiara kepada Reno yang sedang berjalan.
Sementara Reno tetap saja berjalan tanpa peduli ucapan sang istri.
Tiara hanya bisa menghela napas kecewa. "Ini bukan jam kerja dan juga sudah malam. Masa jam segini klien menghubungi." Tiara melihat jam dinding di kamarnya. Waktu menunjukkan pukul sepuluh malam. "Awas saja kalau kamu bohong!"
***
"Ma. Papa ke mana? Kok tidak ada?" tanya Maura di sela-sela sarapan.
"Papamu ada perlu, Sayang," jawab Tiara, "sudah habiskan sarapannya."
"Iya, Ma."
***
Tiara sedang membantu karyawannya membungkus pakaian yang akan di kirim ke pembeli. Di rumahnya Tiara menyediakan satu ruangan untuk tempat berjualan pakaian online dan dia mempunyai lima karyawan.
Ponsel Tiara tiba-tiba berdering ketika sedang membungkus pakaian. Dia kemudian mengangkatnya.
"Hallo, Ma. Maaf, ya. Papa tidak langsung pulang. Papa sekalian saja ke kantor. Sekarang Papa mau jemput Maura dulu, baru Papa ke kantor lagi. Mama tidak usah jemput Maura. Biar Papa saja, ya," ucap Reno dan langsung mematikan ponselnya.
"Hallo, Pa!" teriak Tiara, "kenapa langsung ditutup sih? Aku belum bicara juga," gerutu Tiara lalu menyimpan benda pipih di saku bajunya sambil menghela napas kecewa.
***
"Papa!" Maura berlari mendekati sang ayah yang sudah menjemputnya.
"Hai, Sayang." Punggung tangan Reno sedang dicium oleh Maura.
Ayo, kita ke mobil." Reno meraih tangan Maura.
Maura menganggukkan kepalanya sambil berjalan. "Papa kok, tadi pagi tidak ada?" tanya Maura.
"Papa ada perlu. Ada pekerjaan yang tidak bisa Papa tinggalkan," jelas Reno, "oh, iya, Maura. Di dalam mobil ada teman Papa. Eemm, kamu jangan bilang mama ya kalau Papa menjemputmu sama teman Papa." Reno jongkok menghadap Maura tepat di dekat mobilnya.
"Memangnya kenapa, Pa?"
"Tidak apa-apa. Papa cuma tidak mau nanti Mamamu salah paham sama Papa. Oke, Sayang. Kamu jangan bilang, ya!" perintah Reno lalu bangun dari jongkoknya.
"iya, Pa."
"Ya sudah. Ayo, masuk." Reno membuka pintu mobil untuk Maura.
Maura kemudian masuk. Dia duduk di kursi belakang. Sementara wanita yang bernama Vega duduk di depan bersama Reno.
"Hai, cantik. Siapa namamu?" Vega membalikkan badan ke arah Maura.
"Namaku Maura, Tante."
"Nama yang cantik. Sama seperti orangnya," ucap Vega lalu tersenyum dan kembali duduk seperti semula.
Maura kemudian memperhatikan wanita tersebut dari belakang. Dia teringat sang mama dan hatinya seakan tidak terima melihat sang ayah duduk berdua dengan wanita lain. Umur Maura sudah menginjak tujuh tahun.
"Sayang. Kita antar Tante dulu, ya. Baru Papa antar kamu pulang."
"Iya, Pa."
***
Reno sudah mengantar Vega. Maura duduk di depan bersama sang ayah.
"Kamu benar janji, ya. Jangan bilang mama kalau Papa mengantar Tante Vega." Reno menoleh sesaat lalu kembali fokus menyetir.
"Memangnya kenapa Mama tidak boleh tahu? 'Kan Tante cuma teman Papa doang."
"Iya, memang cuma teman Papa doang. Cuma tetap saja nanti Mama marah sama Papa."
"Kata Mama jangan suka bohong. Papa juga pernah bilang jangan suka bohong. Kenapa, Papa malah bohongin Mama?"
"Bukan begitu, Maura. Ini berbohong demi kebaikan. Kamu mau nanti Mama sama Papa berantem gara-gara Mama marah karena Papa antar teman Papa?"
Maura menggelengkan kepalanya sambil memperhatikan sang ayah yang sedang fokus menyetir.
"Nah, berarti kamu jangan bilang sama Mama. Oke, Sayang," pinta Reno.
"Oke, Pa."
"Anak pintar." Reno mengusap-usap pucuk kepala sang anak menggunakan tangan kiri. "Tapi Papa tidak akan turun. Soalnya Papa masih ada kerjaan."
"Oke deh, Pa."
***
"Assalamualaikum, Ma." Maura menghampiri Tiara lalu meraih tangan Tiara.
"Waalaikumsalam, Sayang," jawab Tiara, "kamu di jemput Papa, 'kan?"
"Iya, Ma di jemput Papa," jawab Maura lalu memperhatikan wajah sang mama.
"Papanya lansung pergi lagi?" Tiara melihat-lihat ke arah depan.
"Iya, Ma. Kata Papa masih ada pekerjaan."
Tiara menganggukkan kepalanya. "Ya sudah sana kamu ganti baju dulu."
Maura menganggukkan kepalanya lalu berjalan meninggalkan ruangan sang mama.
***
Reno kembali lagi ke tempat di mana Vega di turunkan. Vega kemudian menaiki mobil Reno.
"Aku tidak lama, 'kan?" tanya Reno kepada Vega yang sudah menaiki mobil Reno.
"Ya, lumayanlah," jawab Vega, "Mas. Kamu yakin anakmu tidak akan mengatakan apa pun sama istrimu?" tanya Vega kepada Reno yang sedang fokus menyetir.
"Kamu tenang saja. Anakku tidak akan berkata apa-apa."
"Bagus deh," ucap Vega lalu tersenyum.
***
"Malam, Ma." Reno mencium kening sang istri.
"Jam berapa sekarang?" Tiara bangun dari tidurnya.
"Sudah jam sepuluh."
"Papa lembur lagi? Kenapa akhir-akhir ini, Papa sering lembur?"
"Ya mau bagaimana lagi. Bekerja di lapangan kadang ada sesuatu yang tidak beres. Jadi mau tidak mau Papa harus lembur." Reno menyandarkan punggungnya pada sandaran kasur.
Reno bekerja sebagai manajer kontruksi di perusahaan besar. Dia selalu sibuk di lapangan dan memang harus bertemu dengan tim.
"Ya sudah kalau, Papa memang benar-benar lembur. Mama takut saja Papa bilang lembur, tetapi, Papa malah sama wanita lain!" ketus Tiara.
"Ngaco kamu ini. Jangan berpikiran yang aneh-aneh tentang Papa."
"Bagaimana tidak berpikiran yang aneh-aneh. Papa akhir-akhir ini sering lembur. Tidak seperti biasanya. Papa selalu pulang tepat waktu, tetapi sekarang ...."
"Sudahlah! Buang jauh-jauh pikiran itu! Ayo, tidur lagi." Reno menarik tangan Tiara.
Tiara pun berbaring kembali.
"Mama tidak kangen sama Papa?" Reno menggeserkan tubuhnya ke arah Tiara.
"Kalau Mama tidak kangen sama, Papa. Tidak mungkin Mama kesal karena Papa pulang lembur. Itu berarti Mama kangen. Papa juga terkadang tidak pulang. Gimana Mama tidak kangen," ujar Tiara lalu memajukan bibirnya.
Reno tertawa mendengar ucapan sang istri. "Sama Papa juga kangen." Reno memeluk tubuh sang istri lalu mencium bibir sang istri.
Tiara membalas ciuman sang suami. Tidak bisa dipungkiri Tiara menantikan hal seperti ini. Sudah tiga minggu sang suami tidak menjamahnya karena alasan lembur dan capek dan terkadang tidak pulang.
Namun, ketika mereka sedang bercumbu. Tiba-tiba ponsel Reno berdering. Mereka berhenti sejenak. Akan tetapi, Reno kembali mencumbui sang istri dan menghiraukan panggilan tersebut.
"Pa! suara ponselmu mengganggu. Kamu angkat saja dulu. Malam-malam begini siapa yang menghubungimu sih, Pa?!" marah Tiara.
Reno bangun dari kasur lalu mengambil ponsel dan melihat siapa yang menghubunginya. Nama samaran Vega muncul dengan nama Pak Tio.
Dia kemudian mengerutkan keningnya dan berbicara dalam hati. "Aku, 'kan sudah bilang. Jangan menghubungiku!"
Belum tiga bulan pernikahan kontrak Adelia dengan CEO Arsenio Arfandra. Adelia justru tiba-tiba diusir oleh ibunda Arsenio karena ketahuan berbohong. Satu bulan berlalu, Adelia telah mengandung benih dari Arsenio. Namun, penolakan yang diterima oleh Adelia ketika ia meminta pertanggungjawaban dari Arsenio. Arsenio ternyata menyesali perbuatannya. Ia ingin memperbaiki hubungannya dengan Adelia. Namun, keberuntungan tidak berpihak kepada Arsenio. Ia malah diundang ke acara pernikahan karyawannya sendiri, sang manajer yang bernama Vino telah bersanding dengan Adelia. Bagaimana hubungan mereka selanjutnya? Apakah Adelia akan mengakui kepada Vino jika Arsenio adalah ayah dari Giovanni? Atau akan menyembunyikannya?
Kulihat ada sebuah kamera dengan tripod yang lumayan tinggi di samping meja tulis Mamih. Ada satu set sofa putih di sebelah kananku. Ada pula pintu lain yang tertutup, entah ruangan apa di belakang pintu itu. "Umurmu berapa ?" tanya Mamih "Sembilanbelas, " sahutku. "Sudah punya pengalaman dalam sex ?" tanyanya dengan tatapan menyelidik. "Punya tapi belum banyak Bu, eh Mam ... " "Dengan perempuan nakal ?" "Bukan. Saya belum pernah menyentuh pelacur Mam. " "Lalu pengalamanmu yang belum banyak itu dengan siapa ?" "Dengan ... dengan saudara sepupu, " sahutku jujur. Mamih mengangguk - angguk sambil tersenyum. "Kamu benar - benar berniat untuk menjadi pemuas ?" "Iya, saya berminat. " "Apa yang mendorongmu ingin menjadi pemuas ?" "Pertama karena saya butuh uang. " "Kedua ?" "Kedua, karena ingin mencari pengalaman sebanyak mungkin dalam soal sex. " "Sebenarnya kamu lebih tampan daripada Danke. Kurasa kamu bakal banyak penggemar nanti. Tapi kamu harus terlatih untuk memuaskan birahi perempuan yang rata - rata di atas tigapuluh tahun sampai limapuluh tahunan. " "Saya siap Mam. " "Coba kamu berdiri dan perlihatkan punyamu seperti apa. " Sesuai dengan petunjuk Danke, aku tak boleh menolak pada apa pun yang Mamih perintahkan. Kuturunkan ritsleting celana jeansku. Lalu kuturunkan celana jeans dan celana dalamku sampai paha.
Setelah diusir dari rumahnya, Helen mengetahui bahwa dia bukanlah putri kandung keluarganya. Rumor mengatakan bahwa keluarga kandungnya yang miskin lebih menyukai anak laki-laki dan mereka berencana mengambil keuntungan dari kepulangannya. Tanpa diduga, ayah kandungnya adalah seorang miliarder, yang melambungkannya menjadi kaya raya dan menjadikannya anggota keluarga yang paling disayangi. Sementara mereka mengantisipasi kejatuhannya, Helen diam-diam memegang paten desain bernilai miliaran. Dipuji karena kecemerlangannya, dia diundang menjadi mentor di kelompok astronomi nasional, menarik minat para pelamar kaya, menarik perhatian sosok misterius, dan naik ke status legendaris.
Bagi publik, dia adalah sekretaris eksekutif CEO. Di balik pintu tertutup, dia adalah istri yang tidak pernah diakui secara resmi. Jenessa sangat gembira ketika mengetahui bahwa dia hamil. Tapi kegembiraan itu digantikan dengan ketakutan ketika suaminya, Ryan, menghujani kasih sayangnya pada cinta pertamanya. Dengan berat hati, dia memilih untuk melepaskan pria itu dan pergi. Ketika mereka bertemu lagi, perhatian Ryan tertangkap oleh perut Jenessa yang menonjol. "Anak siapa yang kamu kandung?!" tuntutnya. Tapi dia hanya mencemooh. "Ini bukan urusanmu, mantan suamiku tersayang!"
Setelah tiga tahun menikah yang penuh rahasia, Elsa tidak pernah bertemu dengan suaminya yang penuh teka-teki sampai dia diberikan surat cerai dan mengetahui suaminya mengejar orang lain secara berlebihan. Dia tersentak kembali ke dunia nyata dan bercerai. Setelah itu, Elsa mengungkap berbagai kepribadiannya: seorang dokter terhormat, agen rahasia legendaris, peretas ulung, desainer terkenal, pengemudi mobil balap yang mahir, dan ilmuwan terkemuka. Ketika bakatnya yang beragam diketahui, mantan suaminya diliputi penyesalan. Dengan putus asa, dia memohon, "Elsa, beri aku kesempatan lagi! Semua harta bendaku, bahkan nyawaku, adalah milikmu."
"Tanda tangani surat cerai dan keluar!" Leanna menikah untuk membayar utang, tetapi dia dikhianati oleh suaminya dan dikucilkan oleh mertuanya. Melihat usahanya sia-sia, dia setuju untuk bercerai dan mengklaim harta gono-gini yang menjadi haknya. Dengan banyak uang dari penyelesaian perceraian, Leanna menikmati kebebasan barunya. Gangguan terus-menerus dari simpanan mantan suaminya tidak pernah membuatnya takut. Dia mengambil kembali identitasnya sebagai peretas top, pembalap juara, profesor medis, dan desainer perhiasan terkenal. Kemudian seseorang menemukan rahasianya. Matthew tersenyum. "Maukah kamu memilikiku sebagai suamimu berikutnya?"