/0/20840/coverbig.jpg?v=20241101123349)
Seorang pria yang merasa diabaikan oleh istrinya jatuh cinta pada teman dekatnya. Perselingkuhan ini perlahan-lahan menghancurkan persahabatan dan hubungan pernikahannya, meninggalkan bekas yang sulit disembuhkan.
Arman duduk di ruang tamu rumahnya yang sepi, memandangi jam di dinding yang menunjukkan pukul 11 malam. Sudah dua jam berlalu sejak ia pulang dari kantor, dan Sarah belum juga kembali. Ia tahu, pekerjaan Sarah sebagai dokter di rumah sakit tidaklah mudah. Tapi akhir-akhir ini, waktu yang mereka habiskan bersama semakin berkurang. Percakapan-percakapan ringan di meja makan dan canda tawa sederhana yang dulu mereka bagi kini hanya tinggal kenangan.
Arman mengambil ponsel dan mengetik pesan singkat untuk Sarah.
"Masih di rumah sakit? Pulang jam berapa?"
Pesan terkirim, tapi tidak ada balasan. Seperti malam-malam sebelumnya, ia menunggu dalam hening, hanya ditemani bayangan gelap di sekitarnya.
Setelah menunggu sekitar lima belas menit, pintu depan akhirnya terbuka, memperlihatkan sosok Sarah yang tampak lelah. Dia melepas sepatu dan menatap Arman dengan senyuman tipis yang dipaksakan.
"Kenapa belum tidur, Mas?" tanya Sarah sambil mengalungkan tasnya di bahu.
"Aku nungguin kamu, Sarah. Udah jam berapa ini?" Arman menjawab dengan nada lembut, namun tetap ada kekhawatiran di dalamnya.
Sarah tersenyum tipis dan mendekati Arman. "Maaf, Mas. Tadi ada pasien darurat. Ini lagi musim demam berdarah, jadi banyak pasien yang harus diawasi."
Arman mengangguk, berusaha memahami, meski di dalam hatinya ia merasa tak nyaman. Sampai kapan ini akan terus terjadi? pikirnya.
Sarah duduk di sebelah Arman dan mulai membuka obrolan, seolah mengabaikan kebisuan yang sempat melingkupi mereka.
"Kamu gimana di kantor? Ada masalah?" tanya Sarah, berusaha mengalihkan perhatian.
Arman tersenyum kecil. "Nggak ada yang penting, cuma rapat biasa."
Suasana berubah canggung, keduanya hanya terdiam. Sarah menghela napas panjang, lalu ia menyandarkan kepala di bahu Arman.
"Aku tahu belakangan ini kita jarang punya waktu bersama," kata Sarah pelan. "Tapi aku cuma ingin kamu tahu, aku melakukan ini juga untuk kita, untuk masa depan kita."
Arman tersenyum, namun di dalam hatinya, ada keresahan yang terus tumbuh. "Aku tahu, Sarah. Tapi kadang aku merasa... entah, ada sesuatu yang hilang. Kita dulu sering berbagi cerita. Sekarang, rasanya aku cuma bicara sama dinding."
Sarah mengangkat kepalanya, terkejut mendengar keluhan itu. "Mas, aku minta maaf. Aku nggak tahu kamu merasa seperti itu."
Arman menatap Sarah dalam-dalam, mencoba meredam perasaan yang meluap-luap. "Sarah, aku cuma rindu... rindu kebersamaan kita. Aku rindu kamu, rindu kita yang dulu."
Mata Sarah berkaca-kaca, tapi ia menunduk, menghindari tatapan Arman. "Aku juga rindu, Mas. Tapi pekerjaanku ini nggak bisa aku tinggalkan begitu saja. Kamu kan tahu aku udah bermimpi jadi dokter sejak dulu."
Arman mengangguk pelan, mencoba mengerti. "Aku tahu, Sarah. Aku tahu ini impian kamu. Tapi aku juga perlu kamu ada di sini. Aku perlu seorang istri, bukan hanya seorang dokter yang selalu sibuk."
Keduanya terdiam, merasakan beban yang semakin berat. Sarah berdiri, berjalan ke arah dapur tanpa berkata apa-apa lagi. Arman menatapnya dari belakang, menyadari betapa jarak di antara mereka semakin nyata, meskipun mereka berada di ruangan yang sama.
Di tengah kesepian yang ia rasakan, Arman merenung, Apakah aku yang terlalu egois? Atau memang hubungan ini perlahan-lahan kehilangan maknanya?
Malam itu berlalu dalam keheningan yang menggantung. Keduanya tidur di ranjang yang sama, namun terasa begitu jauh satu sama lain. Kesenjangan yang dulu hanya berupa ketidaknyamanan kecil kini terasa seperti jurang yang semakin lebar, membuat Arman tenggelam dalam bayangan kesepian yang ia rasakan setiap kali ia menutup mata.
Malam terus berlanjut dalam keheningan yang berat, bahkan setelah Sarah tertidur di sebelahnya. Arman memandangi langit-langit kamar, merenungkan kata-kata yang tadi mereka bicarakan. Rasanya hampa. Keduanya telah berubah. Ia merindukan kehangatan dan obrolan kecil yang dulu selalu mengisi hari-hari mereka.
Keesokan paginya, Arman terbangun lebih awal. Dia melangkah ke dapur dan menyiapkan sarapan sederhana; berharap momen itu bisa memperbaiki suasana di antara mereka. Ia menata roti bakar, telur, dan secangkir kopi di meja sambil menunggu Sarah bangun.
Ketika Sarah keluar dari kamar dengan mata yang masih setengah terpejam, ia tampak terkejut melihat Arman di dapur.
"Mas, pagi-pagi sudah repot masak?" tanyanya sambil tersenyum tipis.
"Ya, aku cuma mau kita makan bareng. Sudah lama kita nggak sarapan sama-sama, kan?" jawab Arman sambil tersenyum. Tapi senyum itu terasa getir, seperti upaya terakhir yang ia tahu belum tentu berhasil.
Sarah duduk di meja, memegang cangkir kopi yang masih mengepul. Mereka makan dengan percakapan ringan, namun setiap kali Arman mencoba mengungkapkan perasaannya, Sarah tampak berusaha mengalihkan pembicaraan.
Setelah beberapa saat, Sarah meletakkan cangkir kopinya, menatap Arman, dan berkata, "Mas, aku ngerti kamu merasa kita makin jauh. Tapi kita butuh saling pengertian. Pekerjaanku... tanggung jawabnya nggak gampang."
Arman menghela napas, mencoba untuk tidak terpicu oleh kata-kata Sarah. "Aku mengerti, Sarah. Aku tahu pekerjaan kamu itu penting, tapi apa yang kita punya di sini juga penting. Aku cuma ingin punya waktu lebih dengan kamu. Kalau terus seperti ini, aku takut kita malah semakin jauh."
Sarah menunduk, seakan menghindari konfrontasi itu. "Aku akan coba cari cara, Mas. Mungkin aku bisa minta jadwal yang sedikit lebih longgar..."
"Benarkah?" Arman menyela dengan sorot mata penuh harap.
Sarah menatapnya sejenak, lalu tersenyum. "Aku akan coba. Demi kita."
Mereka saling tersenyum, tapi di balik senyuman itu, ada kekhawatiran yang tetap tak bisa hilang. Arman tahu janji ini bukan pertama kalinya terdengar, dan rasa kesepian yang ia rasakan semakin lama semakin menggerogoti hatinya.
Beberapa hari berlalu dengan upaya Sarah menepati janjinya. Namun, panggilan-panggilan mendadak dari rumah sakit terus datang. Setiap kali Arman melihat Sarah harus pergi, ia merasa hatinya semakin hancur. Tak jarang, di malam-malam ketika Sarah sedang bertugas, Arman duduk sendirian di ruang tamu, menghabiskan waktu dalam diam.
Pada suatu malam, saat Sarah sedang dinas malam, Arman memutuskan untuk mengunjungi kafe kecil di dekat rumah mereka. Ia duduk di sudut ruangan, memesan secangkir kopi, mencoba melupakan sejenak rasa kesepian yang menggantung di dalam dirinya. Saat itulah, ia mendengar suara lembut menyapanya.
"Arman? Ini kamu?"
Ia menoleh dan mendapati Rania, teman lamanya sejak kuliah, berdiri di sana sambil tersenyum. Rania adalah sosok yang ceria, penuh energi positif, dan selalu mudah bergaul. Mereka saling menyapa dan mengobrol, mengingat kenangan lama dengan tawa yang sudah lama tak Arman rasakan.
"Sudah lama banget ya, Ran. Kamu di sini sekarang?" tanya Arman setelah mereka duduk bersama.
"Iya, aku balik lagi ke kota ini tahun lalu. Kebetulan dapat kerjaan di sini. Kamu sendiri gimana? Lihatnya kamu baik-baik aja, ya?" Rania menatap Arman dengan senyum hangat yang membuatnya merasa nyaman.
"Ah, iya, ya gitu deh," Arman menjawab sambil tersenyum kecil, namun ia menyadari bahwa senyum itu hanyalah topeng untuk menutupi perasaannya. Tanpa sadar, ia mulai bercerita tentang Sarah, pekerjaannya, dan kesepian yang sering menghantuinya belakangan ini.
Rania mendengarkan dengan penuh perhatian, menatap Arman dengan sorot mata simpatik. "Itu pasti berat, Man. Tapi... kamu juga butuh bahagia. Menikah itu tentang saling mendukung, bukan saling menjauh."
Ucapan Rania menancap di hati Arman. Entah bagaimana, ia merasa lebih dimengerti dalam beberapa jam berbicara dengan Rania daripada dalam waktu berminggu-minggu bersama Sarah yang akhir-akhir ini terasa jauh.
Saat malam itu berakhir dan mereka berpisah, Arman merasa sedikit lebih lega, seolah-olah beban di pundaknya telah sedikit terangkat. Namun, dalam benaknya, ia tak bisa menghilangkan perasaan bersalah. Meski tidak terjadi apa-apa antara dirinya dan Rania, ia merasa bahwa menghabiskan waktu bersama wanita lain hanya akan menambah kerumitan dalam kehidupannya.
Di lain sisi, kehangatan pertemuan dengan Rania terasa seperti angin segar di tengah kebekuan pernikahannya. Tanpa ia sadari, benih perasaan yang belum pernah ia rasakan sejak lama mulai muncul kembali.
Bersambung...
Di balik rumah tangga yang tampak sempurna, seorang suami diam-diam menjalani hubungan dengan teman masa mudanya. Saat rahasia ini terbongkar, ia dihadapkan pada kemarahan istri dan keluarga yang harus ia perbaiki atau ia tinggalkan.
Seorang anak laki-laki berencana memberi cokelat pada gadis yang disukainya saat istirahat sekolah. Tapi, ketika teman-temannya mulai menggodanya, rencananya gagal. Akankah ia tetap punya keberanian untuk memberikannya di hari lain?
Seorang istri yang baru mengetahui bahwa suaminya telah berselingkuh selama bertahun-tahun. Saat kebenaran terungkap, ia merencanakan pembalasan yang akan menguji kesetiaan dan kesabaran semua orang di sekitarnya.
Seorang wanita yang menikah dengan pria yang tampak sempurna mulai merasakan perasaan tak terduga terhadap pria lain. Saat ia terseret dalam kisah cinta terlarang ini, ia harus memilih antara hasrat atau komitmen pernikahannya.
Seorang wanita harus memilih antara kekasih rahasianya yang penuh gairah atau suami yang selalu mendukungnya. Saat ia terjebak dalam kebingungan, ia menyadari bahwa pilihannya akan mengubah hidup semua orang di sekitarnya.
Mobil Alia melaju perlahan menelusuri jalan berkelok yang membelah perkebunan teh hijau membentang luas. Aroma tanah basah dan daun teh bercampur dengan embun pagi, membangkitkan nostalgia dalam dirinya. Sudah bertahun-tahun sejak terakhir kali ia menginjakkan kaki di kampung halamannya ini.
Kulihat ada sebuah kamera dengan tripod yang lumayan tinggi di samping meja tulis Mamih. Ada satu set sofa putih di sebelah kananku. Ada pula pintu lain yang tertutup, entah ruangan apa di belakang pintu itu. "Umurmu berapa ?" tanya Mamih "Sembilanbelas, " sahutku. "Sudah punya pengalaman dalam sex ?" tanyanya dengan tatapan menyelidik. "Punya tapi belum banyak Bu, eh Mam ... " "Dengan perempuan nakal ?" "Bukan. Saya belum pernah menyentuh pelacur Mam. " "Lalu pengalamanmu yang belum banyak itu dengan siapa ?" "Dengan ... dengan saudara sepupu, " sahutku jujur. Mamih mengangguk - angguk sambil tersenyum. "Kamu benar - benar berniat untuk menjadi pemuas ?" "Iya, saya berminat. " "Apa yang mendorongmu ingin menjadi pemuas ?" "Pertama karena saya butuh uang. " "Kedua ?" "Kedua, karena ingin mencari pengalaman sebanyak mungkin dalam soal sex. " "Sebenarnya kamu lebih tampan daripada Danke. Kurasa kamu bakal banyak penggemar nanti. Tapi kamu harus terlatih untuk memuaskan birahi perempuan yang rata - rata di atas tigapuluh tahun sampai limapuluh tahunan. " "Saya siap Mam. " "Coba kamu berdiri dan perlihatkan punyamu seperti apa. " Sesuai dengan petunjuk Danke, aku tak boleh menolak pada apa pun yang Mamih perintahkan. Kuturunkan ritsleting celana jeansku. Lalu kuturunkan celana jeans dan celana dalamku sampai paha.
Sinta butuh tiga tahun penuh untuk menyadari bahwa suaminya, Trisna, tidak punya hati. Dia adalah pria terdingin dan paling acuh tak acuh yang pernah dia temui. Pria itu tidak pernah tersenyum padanya, apalagi memperlakukannya seperti istrinya. Lebih buruk lagi, kembalinya wanita yang menjadi cinta pertamanya tidak membawa apa-apa bagi Sinta selain surat cerai. Hati Sinta hancur. Berharap bahwa masih ada kesempatan bagi mereka untuk memperbaiki pernikahan mereka, dia bertanya, "Pertanyaan cepat, Trisna. Apakah kamu masih akan menceraikanku jika aku memberitahumu bahwa aku hamil?" "Tentu saja!" jawabnya. Menyadari bahwa dia tidak bermaksud jahat padanya, Sinta memutuskan untuk melepaskannya. Dia menandatangani perjanjian perceraian sambil berbaring di tempat tidur sakitnya dengan hati yang hancur. Anehnya, itu bukan akhir bagi pasangan itu. Seolah-olah ada penghalang jatuh dari mata Trisna setelah dia menandatangani perjanjian perceraian. Pria yang dulu begitu tidak berperasaan itu merendahkan diri di samping tempat tidurnya dan memohon, "Sinta, aku membuat kesalahan besar. Tolong jangan ceraikan aku. Aku berjanji untuk berubah." Sinta tersenyum lemah, tidak tahu harus berbuat apa ....
Menikahi single mom yang memiliki satu anak perempuan, membuat Steiner Limson harus bisa menyayangi dan mencintai bukan hanya wanita yang dia nikahi melainkan anak tirinya juga. Tetapi pernikahan itu rupanya tidak berjalan mulus, membuat Steiner justru jatuh cinta terhadap anak tirinya.
Warning!!!!! 21++ Dark Adult Novel Ketika istrinya tak lagi mampu mengimbangi hasratnya yang membara, Valdi terjerumus dalam kehampaan dan kesendirian yang menyiksa. Setelah perceraian merenggut segalanya, hidupnya terasa kosong-hingga Mayang, gadis muda yang polos dan lugu, hadir dalam kehidupannya. Mayang, yang baru kehilangan ibunya-pembantu setia yang telah lama bekerja di rumah Valdi-tak pernah menduga bahwa kepolosannya akan menjadi alat bagi Valdi untuk memenuhi keinginan terpendamnya. Gadis yang masih hijau dalam dunia dewasa ini tanpa sadar masuk ke dalam permainan Valdi yang penuh tipu daya. Bisakah Mayang, dengan keluguannya, bertahan dari manipulasi pria yang jauh lebih berpengalaman? Ataukah ia akan terjerat dalam permainan berbahaya yang berada di luar kendalinya?
Siska teramat kesal dengan suaminya yang begitu penakut pada Alex, sang preman kampung yang pada akhirnya menjadi dia sebagai bulan-bulannya. Namun ketika Siska berusaha melindungi suaminya, dia justru menjadi santapan brutal Alex yang sama sekali tidak pernah menghargainya sebagai wanita. Lantas apa yang pada akhirnya membuat Siska begitu kecanduan oleh Alex dan beberapa preman kampung lainnya yang sangat ganas dan buas? Mohon Bijak dalam memutuskan bacaan. Cerita ini kgusus dewasa dan hanya orang-orang berpikiran dewasa yang akan mampu mengambil manfaat dan hikmah yang terkandung di dalamnya
Warning! Banyak adegan dewasa 21+++ Khusus untuk orang dewasa, bocil dilarang buka!