/0/13782/coverbig.jpg?v=20230805145230)
Novel ini bercerita tentang hubungan muda-mudi yang bebas dan terlalu jauh hingga kehamilan terjadi. Dikarenakan Sang Pria belum siap untuk menikah. Memaksa kekasihnya untuk menggugurkan kandungannya. Adapun berbagai resiko yang mengerikan saat mengugurkan kandungan diketahui Pacarnya. Tentu saja membuatnya takut tapi, hal itu terpalsa ia lakukan juga. Kisah dibalut horor, lucu dan percintaan serta pelik masalah dalam keluarga. Simak ya, jadikan sebagai pelajaran untuk dikehidupan yang real ini.
Sela dan Roni telah menjalin hubungan cinta. Awal mula perkenalan mereka pada saat sama-sama bekerja dalam satu gedung. Walaupun berbeda departemen. Ya, boleh dibilang keduanya dengan usia masih muda dan banyak harapan orang tua serta cita-cita yang diinginkan Roni.
Hidup di Ibu Kota dan jauh dari keluarga, membuat mereka harus menyewa kamar kost. Sela membayar ruang sekamar berikut fasilitas kasur dan lemari serta kamar mandi di dalam. Berada tidak jauh dari tempat ia bekerja. Sedangkan kost-an Roni berjarak cukup jauh, memakan waktu 30 menit dengan kendaraan roda dua.
"Sayang, pulang kerja nanti kita mau kemana?" tanya Roni.
"Kemana ya, Yank. Terserah kamu deh Yank. Tapi, aku pulang ke kos dulu, ya," jawab Sela.
"Ya udah Yank, aku ikut boleh, ya. Bebas, kan?"
"Iya Yank, kos aku bebas, kok."
Setelah satu bulan mereka jadian, kali ini Roni ingin main ke kamar kost Sela terlebih dahulu. Setelah itu mereka hendak berencana jalan-jalan menikmati angin malam di Ibu Kota. Masih belum banyak tempat yang mereka belum ketahui karena memang belum lama merantau dan rutinitas kesibukan bekerja.
"Ciee, sekarang dah punya pacar, ya," ledek teman Sela di tempat kost melihat mereka sampai dan memasuki gerbang kost.
"Ah, Nisa. Kamu bisa aja, oh iya, kenalin ini Roni," Sela melihat wajah Roni sebagai tanda isyarat untuk memperkenalkan diri pada Nisa.
"Halo, aku Roni. Salam kenal," ujarnya.
"Salam kenal juga, silahkan dilanjut, deh," ungkap Nisa tersenyum dan alisnya naik meledek Sela lagi.
"Ishhh, kamu. Ya udah, aku ke kamar dulu, ya, da-daaaaa."
"Oke, Sela. Ehem-ehem, haaa."
Sela dan Roni meninggalkan Nisa, langkah mereka menaiki anak tangga menuju kamar kost Sela pada lantai 2.
Kreeekkk.
Sela membuka pintu kamar.
"Masuk, Yank," menyuruh Roni masuk dan menyalakan saklar lampu.
"Duduk, Yank. Mau minum apa, Yank? Kopi atau teh?" tanya Sela sembari menaruh tas kerjanya.
"Kopi boleh, Yank," mata Roni memandangi kaki Sela yang putih mulus.
"Sebentar Yank, aku ganti baju dulu, kamu jangan ngintip, ya," gegasnya berjalan menuju lemari pakaian. Membuka lemari dan mengambil baju serta celana pengganti. Sela tidak mengganti pakaian di kamar. Langkahnya ke kamar mandi dengan membawa sestel pakaian itu.
"Duh, aku kira Ayank mau ganti di situ, hee," candaan Roni.
"Wowww, enak Ayank dong, lihat aku, hee," balas candaan Roni dengan senyum genit.
Sepertinga hasrat Roni sedikit berpacu. Di balik pintu kamar mandi ia menatap dengan kehaluannya. Membayangkan bodi Sela dan kulitnya yang putih. Sembari menimati kopi angannya melayang seiring rasa dalam hatinya.
"Yuk, Yank. Kita berang, mau jalan kemana?" Sela telah rapih.
Roni takjub melihat Sela berdandan dengan baik, semakin saja membuatnya gemas.
"Yank, eh. Bengong! Hayuk jalan, kamu lihat aku sampai gitu banget sih! Kenapa? Ada yang salah?" tanya Sela dengan melihat dirinya sendiri.
"Oh iya Yank, enggak kok. Cuma kamu kelewatan! Yank."
"Kelewetan apa maksud kamu, Yank?" Sela menanggapinya dengan serius dan heran menatap Roni yang berkata demikian.
"Kelewat cantiknya Yank, haaaa. Ya udah, yuk. Kita cari makan dulu," tawa Roni dan bangun.
"Dasar kamu, Yank. Aku kira kenapa, huh. Yuk."
Kaluar kamar kost dengan perasaan bangga, malam minggu yang menyenangkan bisa berjalan berduaan dengan kekasih. Sapa senyum teman Sela saat menuruni anak tangga menuju ruang parkir kost-an.
"Pegangan ya, Yank. Aku takut kamu jatuh, hee," sambil memakai helm Roni berkata pada Sela.
"Hemmm, Ayank. Modussss, bilang aja mau dipeluk, haaa," tawa Sela yang juga memakai helm dan duduk di atas motor Roni.
"Enggak gitu, kali, Yank. Tapi, mau dipeluk haaa. Dah, kita berangkat."
Melaju perlahan menikamati malam berdua di atas motor mencari tempat pertama yang di tuju adalah sebuah restaurant. Roni rasanya tidak ingin terburu-buru mendapatkan tempat yang ingin di singgahi. Karena pelukan nyaman yang ia rasakan. Dasar! Roni.
"Yank, makan di sana, yuk."
Sebuah restaurant fast food dengan ramai pengunjung kaula muda-mudi.
"Ya udah, Yank. Aku ikut kamu aja," Sela mengiakannya.
Masuk memarkirkan kendaraannya. Roni memegang tangan lembut Sela membawanya masuk ke dalam restaurant. Merapikan rambutnya dan melangkah untuk memesan makanan.
Suasana yang ramai menambah kemeriahan malam minggunya itu. Setelah memesan makanan, mereka mencari tempat duduk.
"Selamat makan, Sayangku," ucap Roni.
"Met makan juga, Cintaku," balasnya lembut.
Menikmati makanan dengan pemandangan di luar tampilan gemerlap Ibu Kota. Segala asa dan harapan di Kota yang mereka perjuangkan untik masa depan.
"Yank, kost-an kamu dibatasin enggak pulangnya?" tanya Roni.
"Enggak kok, Yank. Tenang aja, 24 jam kok."
"Baiklah kalau begitu, Yank. Kalau kost-an aku ditutup jam 12-an."
"Nah, nanti gimana kalau kamu pulangnya telat, Yank. Sekarang saja sudah jam berapa, ini."
"Makanya itu Yank, apa aku nginep di kost-n kamu, ya. Heee. Boleh enggak, Yank."
"Ah, kamu Yank, bilang aja mau nginep, hayooo!"
"Enggak Yank, beneran deh, kalau kamu enggak percaya, ayo ke kost-an, aku."
"Percaya, Yank. Tapi, takut ah! Nanti kamu macam-macam, lagi. Heee."
"Ya, enggak lah, Yank, atau bagaimana kalau kita jalan-jalan saja menghabiskan waktu hingga pagi?"
"Ya udah Yank, boleh. Tapi nanti kalaif ngantuk, kita pulang ke kost, aku."
"Iya, Yank. Paling aku nunggu pagi aja di kamar kamu."
"Ya sudah Yank, tapi awas ya, kalau nakal. Heee."
"Ish si Ayank, emangnya masoh belum percaya sama, Mas. Aku sudah sangat serius sama kamu, kita persiapkan ke depannya sama-sama, gimana?"
"Iya Sayang, aku percaya deh. Memangnya kamu mau kita menikah ceoat, Yank?"
"Ya, jangan dulu Yank, aku belum punya apa-apa, orang tua juga belum boleh menikah cepat sebelum mapan."
"Gitu ya, Yank. Tapi kan bisa sambil berjalan nanti, Yank."
"Ya sih, tapi keinginan keluarga begitu Yank."
"Ya sudah bagus juga sih, Yank. Terus kita mau kemana lagi?" Setelah selesai makan dan mengobrol Sela bertanya akan hendak kemana lagi tujuan selanjutnya.
"Ya sudah yuk, kita berangkat."
Mereka berlanjut lagi, menghabiskan malam yang indah di perKotaan. Gemerlap lampu Ibu Kota dan tetap ramainya jalanan Ibu Kota layaknya masih sore hari.
"Aku ngantuk, Yank," Sela menguap setelah lama terkena angin malam mengobrol di tengah taman Kota.
"Ya sudah yuk, Yank. Kasihan kamu."
Roni segera beranjak bangun dan menyalakan kendaraannya. Bergegas pulang ke kamar kost Sela.
Bremmm.
"Ayuk, Yank. Mataku dah gak tahan, ngantuk."
Mereka langsung menuju kamar. Nampak kost sudah terlihat sepi.
Kreeekk.
"Aku cuci muka dulu ya, yank. Kamu mau cuci muka, enggak."
"Mau, Yank. Aku ga mau pipis."
Sela mengambil baju tidur, Rini membuka jaket dan menggantungkannya.
"Yank, kenapa buka celana?" tanya Sela yang melihat Roni.
"Ish, kan aku pakai boxer Yanj, gak betah ih, pake celana panjang. Bolehkan Yank."
"Iya, deh Yank. Inget! Jangan ganggu aku tidur."
Setelah mengganti pakaian Sela langsung berbaring dan tidut. Sementara Roni masih melawan apa g ada di isi otaknya.
"Duh si Ayank, sexynya."
Memandangi Sela yang tertidur. Roni juga membaringkan tubuhnya di lantai tidak jauh dekat Sela.
"Yank, kamu bobo di bawah, ya," lirih Sela melirik.
"Ya habis, kamu bobo Yank, takut ganggu kamu," kata Roni.
"Ya sudah kamu sini, Yank. Kasihan bobinya di lantai. Tapi jangan, macem-macem ya Yank."
Roni lekas pindah di sebelah Sela safu ranjang tempat tidur.
Bersambung.
Dua tahun setelah pernikahannya, Selina kehilangan kesadaran dalam genangan darahnya sendiri selama persalinan yang sulit. Dia lupa bahwa mantan suaminya sebenarnya akan menikahi orang lain hari itu. "Ayo kita bercerai, tapi bayinya tetap bersamaku." Kata-katanya sebelum perceraian mereka diselesaikan masih melekat di kepalanya. Pria itu tidak ada untuknya, tetapi menginginkan hak asuh penuh atas anak mereka. Selina lebih baik mati daripada melihat anaknya memanggil orang lain ibu. Akibatnya, dia menyerah di meja operasi dengan dua bayi tersisa di perutnya. Namun, itu bukan akhir baginya .... Bertahun-tahun kemudian, takdir menyebabkan mereka bertemu lagi. Raditia adalah pria yang berubah kali ini. Dia ingin mendapatkannya untuk dirinya sendiri meskipun Selina sudah menjadi ibu dari dua anak. Ketika Raditia tahu tentang pernikahan Selina, dia menyerbu ke tempat tersebut dan membuat keributan. "Raditia, aku sudah mati sekali sebelumnya, jadi aku tidak keberatan mati lagi. Tapi kali ini, aku ingin kita mati bersama," teriaknya, memelototinya dengan tatapan terluka di matanya. Selina mengira pria itu tidak mencintainya dan senang bahwa dia akhirnya keluar dari hidupnya. Akan tetapi, yang tidak dia ketahui adalah bahwa berita kematiannya yang tak terduga telah menghancurkan hati Raditia. Untuk waktu yang lama, pria itu menangis sendirian karena rasa sakit dan penderitaan dan selalu berharap bisa membalikkan waktu atau melihat wajah cantiknya sekali lagi. Drama yang datang kemudian menjadi terlalu berat bagi Selina. Hidupnya dipenuhi dengan liku-liku. Segera, dia terpecah antara kembali dengan mantan suaminya atau melanjutkan hidupnya. Apa yang akan dia pilih?
Ketika Nadia mengumpulkan keberanian untuk memberi tahu Raul tentang kehamilannya, dia tiba-tiba mendapati pria itu dengan gagah membantu wanita lain dari mobilnya. Hatinya tenggelam ketika tiga tahun upaya untuk mengamankan cintanya hancur di depan matanya, memaksanya untuk meninggalkannya. Tiga tahun kemudian, kehidupan telah membawa Nadia ke jalan baru dengan orang lain, sementara Raul dibiarkan bergulat dengan penyesalan. Memanfaatkan momen kerentanan, dia memohon, "Nadia, mari kita menikah." Sambil menggelengkan kepalanya dengan senyum tipis, Nadia dengan lembut menjawab, "Maaf, aku sudah bertunangan."
“Aduh!!!” Ririn memekik merasakan beban yang amat berat menimpa tubuhnya. Kami berdua ambruk dia dengan posisi terlentang, aku menindihnya dan dada kami saling menempel erat. Sejenak mata kami bertemu, dadanya terasa kenyal mengganjal dadaku, wajahnya memerah nafasnya memburu, aku merasakan adikku mengeras di balik celana panjang ku, tiba-tiba dia mendesah. “Ahhh, Randy masukin aja!” pekik Ririn.
Zara adalah wanita dengan pesona luar biasa yang menyimpan hasrat membara di balik kecantikannya. Sebagai istri yang terperangkap dalam gelora gairah yang tak tertahankan, Zara terseret ke dalam pusaran hubungan terlarang yang menggoda dan penuh rahasia. Dimulai dengan Pak Haris, bos suaminya yang memikat, kemudian berlanjut ke Dr. Zein yang berkarisma. Setiap perselingkuhan menambah bara dalam kehidupan Zara yang sudah menyala dengan keinginan. Pertemuan-pertemuan memabukkan ini membawa Zara ke dalam dunia di mana batas moral menjadi kabur dan kesetiaan hanya sekadar kata tanpa makna. Ketegangan antara kehidupannya yang tersembunyi dan perasaan bersalah yang menghantuinya membuat Zara merenung tentang harga yang harus dibayar untuk memenuhi hasratnya yang tak terbendung. Akankah Zara mampu menguasai dorongan naluriahnya, atau akankah dia terus terjerat dalam jaring keinginan yang bisa menghancurkan segalanya?
Dokter juga manusia, punya rasa, punya hati juga punya birahi
Bianca tumbuh bersama seorang ketua mafia besar dan kejam bernama Emanuel Carlos! Bianca bisa hidup atas belas kasihan Emanuel pada saat itu, padahal seluruh anggota keluarganya dihabisi oleh Emanuel beserta Ayahnya. Akan tetapi Bianca ternyata tumbuh dengan baik dia menjelma menjadi sosok gadis yang sangat cantik dan menggemaskan. Semakin dewasa Bianca justru selalu protes pada Emanuel yang sangat acuh dan tidak pernah mengurusnya, padahal yang Bianca tau Emanuel adalah Papa kandungnya, tapi sikap keras Emanuel tidak pernah berubah walaupun Bianca terus protes dan berusaha merebut perhatian Emanuel. Seiring berjalannya waktu, Bianca justru merasakan perasaan yang tak biasa terhadap Emanuel, apalagi ketika Bianca mengetahui kenyataan pahit jika ternyata dirinya hanyalah seorang putri angkat, perasaan Bianca terhadap Emanuel semakin tidak dapat lagi ditahan. Meskipun Emanuel masih bersikap masa bodo terhadapnya namun Bianca kekeh menginginkan laki-laki bertubuh kekar, berwajah tampan yang biasa dia panggil Papa itu, untuk menjadi miliknya.