/0/13536/coverbig.jpg?v=f16166a346a40e0a3f441b79ec8806dc)
Anita selalu ingin hidup bebas. Dia memilih tetap lajang diusianya yang sudah menginjak angka mapan. Berapa kali mendapat paksaan untuk menikah dari keluarganya, bahkan ejekan dari sepupunya yang sudah menikah lebih dulu, tidak membuat Anita berubah pikiran. Namun, tiba-tiba saja seorang anak berusia enam tahun memeluk dirinya dan memanggilnya dengan nama mama waktu itu, mengubah hidup Anita. Dia harus terikat kontrak dengan seorang duda kaya yang memaksanya menjadi ibu sambung anaknya. Bagaimana kisah Anita selanjutnya? Apa dirinya masih bebas setelah berstatus sebagai ibu sambung anak duda kaya? Atau justru dirinya tidak tahan dan memilih tetap hidup bebas seperti dulu?
Setelah sinar matahari menyilaukan mata Anita di pagi hari, anak itu langsung bangun dengan terburu-buru. Dia baru teringat akan hal penting hari ini.
"Sial, aku bangun telat. Jangan sampai terlambat!" Ucap Anita yang kesal.
Hanya butuh waktu setengah menit merias wajah, Anita sudah keluar dari kamar dengan merangkul tas kecilnya yang hanya berisi kertas kosong. Hari ini, Anita bersiap melakukan wawancara di sebuah perusahaan yang membuka lowongan pekerjaan bagi lulusan akuntasi. Anita sendiri sudah menunggu untuk bekerja diperusahaan ternama itu meski dirinya hanya sebagai karyawan biasa saja.
"Hei, kau mau kemana?" Tiba-tiba suara nenek paruh bayah membuat langkah gadis perawan berusia 27 tahun itu terhenti. Dia menoleh dan melihat tatapan tajam dari nenek buyutnya.
"Aku mau wawancara kerja." Jawab Anita yang memaksa suara lembutnya keluar.
"Sejak kapan kau mau bekerja? Bukannya kau senang hidup bebas tanpa memikirkan apapun?" Ejek sang nenek yang berjalan menghampiri Anita.
"Bisakah nenek tidak banyak bicara? Aku sudah telat satu jam. Jangan sampai aku gagal kali ini!" Tekan Anita yang tersenyum manis ke arah neneknya, walau senyumnya terlihat menyeramkan.
"Kalau gagal, tinggal menikah saja. Apa kau tidak tahu, semua keluarga merendahkanmu karena tinggal dirimu yang tidak menikah diusia matang. Kau tidak malu mendengar semua orang mengejekmu?" Tanya sang nenek sambil duduk di sofa dengan berpura-pura membaca koran.
"Kenapa harus mendengar perkataan mereka? Kita hidup bukan untuk itu. Jadi, biarkan aku menentukan hidupku sendiri. Nenek mengerti?" Ucap Anita yang berlari keluar dari rumah setelah mengatakannya. Bukan tanpa alasan dia menghindar, sudah beribu kali telinganya mendengar semua ejekan keluarganya sendiri, namun tidak membuat dirinya berubah pikiran untuk menikah. Anita lebih fokus bersenang-senang diusia matangnya membuat sang nenek frustasi.
Sejak kecil, kedua orang tua Anita bercerai disaat umurnya menginjak sepuluh tahun. Kabarnya, ayahnya mendadak selingkuh dengan rekan kerjanya yang membuat ibunya marah besar. Tidak terima dengan perilaku suaminya, ibu Anita memilih menusuk suaminya sendiri di depan mata anaknya. Setelah membunuh ayah dari anaknya, sang ibu kemudian membunuh dirinya juga. Hal ini menyimpang trauma mendalam bagi Anita. Mimpi buruk selalu menghantui dirinya tiap malam. Karena itu, Anita tidak percaya dengan omongan laki-laki. Semua laki-laki sama saja dengan ayahnya, tukang selingkuh.
"Andai saja kejadian itu tidak ketahui Anita, mungkin hidupnya bisa berubah. Tidak seperti sekarang ini, cucuku masih menyimpang dendam mendalam terhadap semua pria." Ucap nenek Anita sambil menghela nafas kasar.
Tik.. Tik.. Tik..
Hujan turun begitu deras membasahi apapun yang ada di bawahnya. Semua orang berhenti dan berteduh di tempat yang bernaung. Berbeda dengan Anita yang menerobos hujan seolah tidak peduli dengan keberadaan hujan lebat ini. Hal ini membuat seluruh pakaiannya basah kuyup dan meneteskan air di lantai.
"Akhirnya sampai juga. Kali ini tidak boleh gagal!" Teriak Anita menyemangati dirinya sebelum masuk ke sebuah perusahaan dimana dirinya akan melakukan wawancara.
Saat kakinya menginjak lantai, seorang satpam membunyikan pluit menghentikan dirinya. Anita hanya memutar bola matanya, mengira jika bukan dirinya yang dimaksud.
"Hei, Kau! Sedang apa di sini? Kau pikir ini tempat berteduh?" Tunjuk satpam dengan kesal.
"Aku? Anda bicara denganku?" Tanya Anita sambil menunjuk dirinya sendiri. Matanya membulat seolah menandakan dirinya terkejut.
"Siapa lagi kalau bukan kamu, ha? Lihat pakaianmu, semuanya membasahi lantai. Bagaimana jika ada orang yang jatuh karena ulahmu?" Tanya satpam yang kini beralih menunjuk ke bawah dimana kaki Anita tengah berdiri.
"Aku tidak salah. Aku hanya tidak mau terlambat wawancara." Ucap Anita sambil mengedipkan mata, mengerti maksud pak Satpam.
"Apa? Kau!" Tunjuk pak Satpam dengan wajah memerah. Bahkan belum sempat memaki Anita, anak itu sudah berlari menaiki lift.
"Bye bye!" Teriaknya yang tersenyum manis ke arah pak satpam setelah mempermainkannya.
"Hei, berhenti!" Teriaknya, namun pintu lift sudah tertutup.
Setelah berada di lantai delapan, lift mendadak berhenti. Padahal Anita menuju lantai sepuluh dimana proses wawancara dilaksanakan. Namun setelah menunggu lama tak ada kabar, Anita memilih keluar dari lift, berniat menaiki tangga. Tetapi seorang anak laki-laki dengan tiba-tiba memeluknya dari belakang sambil berbisik.
"Mama! Mama!" Panggilnya.
"Mama? Aku? Kau sakit, nak? Aku bahkan belum menikah, bagaimana langsung punya anak?" Tanya Anita dengan alis mengerit.
"Mama! Mama!!" Ucap anak lelaki itu yang kira-kira berumur enam tahun.
"Kau salah orang. Aku mungkin hanya mirip dengan mamaku. Tetapi aku bukan mamamu. Jadi, tolong menjauh. Di usiaku yang hampir mengingak tiga puluh tahun, walau terbilang cukup tua, namun aku masih seorang gadis perawan. Aku belum menikah, apalagi punya anak." Jelas Anita sambil mengibas rambutnya ke belakang membuat anak kecil itu terpesona dan terus merengek padanya.
"Mama! Mama!" Panggilnya lagi.
"Hiks, apa-apa sih ini? Aku benar-benar terlambat kerja. Tunggu dulu, anak manis. Kau mau permen kan? Ini ambil." Ucap Anita membujuk anak lelaki itu dengan menyodorkan permen yang sengaja dia bawa. Rencananya memberi keponakan kecilnya permen saat bertemu di rumah, namun keponakannya belum terbangun saat dia berangkat.
"Nah, biarkan aku pergi. Stop say mom." Kata Anita memberi peringatan. Anita lalu berlari ke lantai sepuluh melewati anak tangga. Tetapi, ketika sampai, pintu wawancara sudah di tutup. Sudah tidak ada orang disana.
"Aku terlambat!" Kata Anita dengan wajah murung. Dia kembali turun melewati anak tangga dengan tubuh lemas.
"Tolong! Tolong! Anak direktur pingsan!" Teriak seseorang yang berada di lantai delapan. Anita yang mendengar teriakan itu, buru-buru mendatangi sumber suara itu. Dia terkejut melihat anak kecil yang di temuinya, terbaring terkapar di lantai dengan memegang kulit permen.
"Ya ampun, apa dia keracunan karena memakan permen yang aku berikan?" Ucap Anita yang menutup mulutnya setelah mengatakannya.
Perkataannya itu di dengar oleh orang yang meminta tolong itu. Dia langsung melirik Anita dan mereka berdua saling berpandang.
"Kau meracuni anak direktur?" Tunjuknya yang menduga-duga.
"Bu.. bukan aku. Aku tidak mungkin melakukannya!" Bela Anita yang berniat kabur, namun segerombolan pengawal datang bersama tuan mereka yang terlihat lebih tegap.
"Direktur, akhirnya anda datang. Jaya diracuni oleh orang ini!" Tunjuknya yang mengadu.
"Apa? Aku?" Anita menjadi panik. Dia tidak melakukan kesalahan dan malah sedang di tuduh melakukan kejahatan. Tentu saja dia tidak terima dan ingin membela diri, namun melihat badan pengawal yang berdiri tegap di depannya membuat nyali Anita menciut. Mulutnya mendadak kaku, dia tidak bisa berbicara sepatah kata pun.
"Tangkap dia!" Teriak seorang lelaki yang seperti pemimpin di antara mereka. Wajahnya tampan dan terlihat mapan membuat Anita terpukau beberapa saat. Namun setelah tangannya di tarik paksa oleh dua pengawal, Anita kembali sadar.
"Jaya, bangun! Jaya, dengarkan kata papa." Ucapnya sambil menepuk perlahan pipi anak lelaki yang memakan permen Anita.
Terkadang, seorang ibu menyimpang kesedihan lewat senyumnya. Dia tidak berani membicarakannya dengan anak-anaknya, takut melukai hati anaknya. Ibu, bukan hanya sekedar ibu rumah tangga, ibu yang mengasuh seorang anak, ibu yang bisa dinilai baik buruknya. Tetapi, arti seorang ibu sangat luas dan menyimpang banyak rahasia yang sengaja di sembunyikan. Rahasia Seorang Ibu season 1: Yuna, salah satu anak dari Rani Ramadhani yang berasal dari keluarga sederhana. Yuna berpikir, ibunya mempunyai kehidupan yang baik. Bahkan tidak pernah terlintas benak di hati Yuna, ibunya selama ini menderita dan berusaha menyembunyikan dari dirinya. Siapa sangka, kematian ibunya yang mendadak dan buku harian yang di tulis ibunya membuat Yuna mengetahui rahasia mendalam sang ibu. Rahasia apa yang Yuna ketahui? Jangan lupa beri like dan komentar.
Kumpulan cerita seru yang akan membuat siapapun terbibur dan ikut terhanyut sekaligus merenung tanpa harus repot-repot memikirkan konfliks yang terlalu jelimet. Cerita ini murni untuk hiburan, teman istrirahat dan pengantar lelah disela-sela kesibukan berkativitas sehari-hari. Jadi cerita ini sangat cocok dengan para dewasa yang memang ingin refrehsing dan bersenang-senang terhindar dari stres dan gangguan mental lainnya, kecuali ketagihan membacanya.
Cerita tentang kehidupan di kota kecil, walau tak terlalu jauh dari kota besar. Ini juga cerita tentang Kino, seorang pria yang menjalani masa remaja, menembus gerbang keperjakaannya, dan akhirnya tumbuh sebagai lelaki matang. Pada masa awal inilah, seksualitas dan sensualitas terbentuk. Dengan begitu, ini pula kisah tentang the coming of age yang kadang-kadang melodramatik. Kino tergolong pemuda biasa seperti kita-kita semua. Apa yang dialaminya merupakan kejadian biasa, dan bisa terjadi pada siapa saja, karena merupakan kelumrahan belaka. Tetapi, kita tahu ada banyak kelumrahan yang kita sembunyikan dengan seksama. Namun Kino mempunyai hal yang menarik yang dalam cerita ini lebih menarik dari cerita fenomenal lainnya.
Bianca tumbuh bersama seorang ketua mafia besar dan kejam bernama Emanuel Carlos! Bianca bisa hidup atas belas kasihan Emanuel pada saat itu, padahal seluruh anggota keluarganya dihabisi oleh Emanuel beserta Ayahnya. Akan tetapi Bianca ternyata tumbuh dengan baik dia menjelma menjadi sosok gadis yang sangat cantik dan menggemaskan. Semakin dewasa Bianca justru selalu protes pada Emanuel yang sangat acuh dan tidak pernah mengurusnya, padahal yang Bianca tau Emanuel adalah Papa kandungnya, tapi sikap keras Emanuel tidak pernah berubah walaupun Bianca terus protes dan berusaha merebut perhatian Emanuel. Seiring berjalannya waktu, Bianca justru merasakan perasaan yang tak biasa terhadap Emanuel, apalagi ketika Bianca mengetahui kenyataan pahit jika ternyata dirinya hanyalah seorang putri angkat, perasaan Bianca terhadap Emanuel semakin tidak dapat lagi ditahan. Meskipun Emanuel masih bersikap masa bodo terhadapnya namun Bianca kekeh menginginkan laki-laki bertubuh kekar, berwajah tampan yang biasa dia panggil Papa itu, untuk menjadi miliknya.
Megan dipaksa menggantikan kakak tirinya untuk menikah dengan seorang pria yang tanpa uang. Mengingat bahwa suaminya hanyalah seorang pria miskin, dia pikir dia harus menjalani sisa hidupnya dengan rendah hati. Dia tidak tahu bahwa suaminya, Zayden Wilgunadi, sebenarnya adalah taipan bisnis yang paling berkuasa dan misterius di kota. Begitu dia mendengar desas-desus tentang hal ini, Meagan berlari ke apartemen sewaannya dan melemparkan diri ke dalam pelukan suaminya. "Mereka semua bilang kamu adalah Tuan Fabrizio yang berkuasa. Apakah itu benar?" Sang pria membelai rambutnya dengan lembut. "Orang-orang hanya berbicara omong kosong. Pria itu hanya memiliki penampilan yang mirip denganku." Megan menggerutu, "Tapi pria itu brengsek! Dia bahkan memanggilku istrinya! Sayang, kamu harus memberinya pelajaran!" Keesokan harinya, Tuan Fabrizio muncul di perusahaannya dengan memar-memar di wajahnya. Semua orang tercengang. Apa yang telah terjadi pada CEO mereka? Sang CEO tersenyum. "Istriku yang memerintahkannya, aku tidak punya pilihan lain selain mematuhinya."
Apa yang terlintas di benak kalian saat mendengar kata CEO? Angkuh? Kejam? Arogan? Mohammad Hanif As-Siddiq berbeda! Menjadi seorang CEO di perusahaan besar seperti INANTA group tak lantas membuat dia menjadi tipikal CEO yang seperti itu. Dia agamis dan rajin beribadah. Pertemuan putrinya Aisyah dengan Ummi Aida, seorang office girl di tempat dimana dia bekerja, membuat pertunangannya dengan Soraya putri pemilik perusahaan terancam batal karena Aisyah menyukai Ummi yang mirip dengan almarhum ibunya. Dengan siapa hati Hanif akan berlabuh?
WARNING 21+!! Athena Gimberly tak ingin menjalin hubungan serius dengan pria manapun karena suatu alasan, tapi dirinya ingin memiliki anak yang nantinya akan menemaninya di saat tua. Dari situlah pemikiran gila untuk mencari seseorang yang bisa memberikannya bibit tanpa harus melangsungkan pernikahan. Mempertemukannya dengan sosok Arthur Harley, seorang pria dengan harga diri tinggi. *** "Kamu ...." "Mari melakukan hal itu lagi. Yang sebelumnya tidak membuahkan hasil, jadi bisakah kita melakukannya lagi?" tanya Athena membuat pria itu terdiam.